Celine Evangelista Ikhlas Lepas Putri Tercinta ke Pesantren

Hari itu, langit di kawasan Pondok Pesantren Modern Al-Iman tampak sedikit mendung. Rintik gerimis tipis membasahi halaman, seolah ikut merasakan getar hati seorang ibu yang akan segera berpisah denga...

Jul 12, 2026 - 12:30
0 0
Celine Evangelista Ikhlas Lepas Putri Tercinta ke Pesantren

Hari itu, langit di kawasan Pondok Pesantren Modern Al-Iman tampak sedikit mendung. Rintik gerimis tipis membasahi halaman, seolah ikut merasakan getar hati seorang ibu yang akan segera berpisah dengan buah hatinya. Di bawah payung bening yang ia pegang dengan tangan sedikit gemetar, Celine Evangelista menggenggam erat jemari putri sulungnya, Eleeya. Tatapannya redup, namun bibirnya terus tersenyum—sebuah senyum yang berusaha menyembunyikan gelombang emosi di dada. Di pelataran pondok yang sunyi, Celine membungkuk, memeluk Eleeya begitu lama. Tak ada kata yang terucap, hanya isak pelan yang berganti menjadi doa lirih di telinga sang putri. Momen ini bukan sekadar perpisahan; ini adalah awal dari perjalanan spiritual seorang anak yang telah lama direncanakan dengan penuh cinta.

Perjalanan Menuju Gerbang Pondok

Sejak subuh, rumah Celine di bilangan Jakarta Selatan sudah berubah menjadi pusat kegiatan. Koper besar berwarna biru muda tergeletak di ruang tengah, diisi satu per satu pakaian putih, mukena bersulam benang emas, dan Al-Qur'an kecil bersampul kulit yang pernah menjadi hadiah ulang tahun Eleeya. Celine sendiri yang memilih setiap helai pakaian, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Bukan sekadar bekal materi," ujarnya lirih sambil merapikan kerudung kecil milik Eleeya, "tapi aku ingin setiap barang yang ia bawa punya kenangan—sepotong rindu yang bisa ia peluk saat jauh nanti."

Di dalam mobil yang melaju perlahan menuju Jawa Timur, suara tawa kecil Eleeya masih mengisi kabin. Ia bercerita tentang teman-teman barunya yang sudah ia kenal lewat grup daring, tentang ekstrakurikuler tahfiz yang ingin ia ikuti, dan tentang mimpinya menjadi penghafal Al-Qur'an. Celine mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali mengusap rambut anaknya. Namun di setiap jeda cerita, ia mencuri pandang ke luar jendela, seakan mencoba merekam setiap kilometer yang membawa mereka semakin dekat pada perpisahan. Perjalanan delapan jam itu terasa singkat, namun di hati Celine, detik-detik berlalu lebih berat dari biasanya.

Mendidik Hati, Bukan Sekadar Ilmu

Keputusan untuk mengirim Eleeya ke pesantren bukanlah hal yang tiba-tiba. Sejak dua tahun lalu, Celine dan keluarga sudah berdiskusi panjang. Sebagai seorang ibu yang tumbuh di dunia hiburan, ia sadar betul bahwa kehidupan modern bisa mengikis nilai-nilai spiritual jika tidak diimbangi. "Aku ingin Eleeya punya fondasi yang kuat," kata Celine saat ditemui di sela istirahat perjalanan. "Bukan hanya pintar matematika atau bahasa, tapi hatinya juga terdidik. Aku ingin ia tumbuh dengan cinta pada Allah, bukan cinta pada pujian manusia."

Pesantren yang dipilih pun tidak sembarangan. Celine bersama mantan suaminya melakukan survei ke beberapa pondok, membandingkan kurikulum, lingkungan, hingga pola asuh para ustazah. Mereka akhirnya memutuskan sebuah pesantren modern yang memadukan hafalan Al-Qur'an dengan pendidikan formal. Bagi Celine, ini adalah investasi jangka panjang—sebuah jalan sunyi yang mungkin tidak selalu dipahami banyak orang, tapi diyakininya sebagai yang terbaik bagi masa depan Eleeya. "Di sini, ia akan belajar disiplin, mandiri, dan yang paling penting, ia akan mengenal dirinya sendiri lewat kedekatan dengan Tuhannya," imbuh Celine, suaranya bergetar menahan haru.

Air Mata dan Doa di Pelataran

Sesampainya di pondok, Eleeya langsung disambut oleh ustazah muda yang ramah. Proses registrasi berjalan cepat. Celine mengisi dokumen dengan tangan yang sesekali berhenti, seolah enggan menyelesaikan setiap tanda tangan. Setelahnya, mereka menuju kamar asrama sederhana berukuran 4x6 meter yang akan menjadi tempat tidur Eleeya bersama lima santriwati lainnya. Celine membantu menata lemari kecil, menaruh foto keluarga di sisi tempat tidur, dan menyelipkan sepucuk surat di bawah bantal—surat yang hanya akan dibaca Eleeya saat malam pertama terlelap seorang diri.

Waktu Zuhur tiba. Suara azan berkumandang lembut dari masjid pondok. Celine dan Eleeya berwudhu bersama, lalu menuju saf perempuan. Di antara jamaah lain, Celine tidak bisa menyembunyikan air matanya. Setiap sujud terasa lebih panjang, setiap doa begitu dalam. Ia memohon perlindungan bagi putrinya, meminta kekuatan untuk melepaskan dengan ikhlas. Di sebelahnya, Eleeya sudah mulai tenang—malah menggenggam tangan ibunya, memberikan ketenangan yang justru membuat Celine semakin terharu.

Pesan Terakhir Sebelum Berpisah

Seusai salat, di bawah pohon mangga besar di halaman pondok, Celine mengambil waktu terakhir untuk berbicara berdua dengan Eleeya. Ia memegang kedua pundak anaknya, menatap matanya yang bening, lalu berbisik, "Kamu adalah cahaya mama. Di sini, kamu akan menemukan banyak cahaya lain—cahaya ilmu, cahaya akhlak, cahaya cinta. Jangan pernah takut jatuh, karena setiap kali kamu sujud, Allah akan mengangkatmu." Eleeya mengangguk, dan untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, ia juga meneteskan air mata. Bukan karena sedih, melainkan karena ia paham bahwa di balik kepergian ini, ada cinta yang begitu besar dari ibunya.

Mereka berpelukan sekali lagi. Pelukan yang seakan ingin menghentikan waktu. Celine membisikkan Surah Al-Fatihah berulang kali, mengusap punggung Eleeya seolah melekatkan ribuan doa. Ustazah yang mendampingi ikut terharu, namun kemudian dengan lembut mengingatkan bahwa kegiatan orientasi santri akan segera dimulai. Celine melepaskan pelukannya. Ia melangkah mundur, lalu menatap Eleeya yang mulai berjalan menuju asrama. Setiap langkah putrinya, Celine ikuti dengan tatapan penuh bangga. Tangisnya masih mengalir, tapi kini bercampur dengan keikhlasan.

Harapan di Balik Air Mata

Ketika mobil meninggalkan gerbang pondok, Celine tidak langsung pergi. Ia berdiri di tepi jalan, masih menatap bangunan pesantren yang semakin mengecil di spion. "Rasanya seperti melepas separuh jiwa," ungkapnya, suaranya parau. "Tapi aku percaya, di sini ia akan tumbuh lebih kuat. Aku titipkan ia kepada Allah, dan aku yakin Allah lebih tahu yang terbaik."

Bagi Celine, mengantar Eleeya ke pesantren bukan sekadar rutinitas orang tua. Ini adalah babak baru dalam hidupnya sebagai seorang ibu. Ia belajar memercayai bahwa cinta juga berarti memberi ruang untuk anak terbang dengan caranya sendiri. Di rumah yang kini terasa lebih sepi, Celine menyimpan satu harapan sederhana: suatu hari nanti, Eleeya akan pulang dengan membawa Al-Qur'an di dadanya dan akhlak mulia yang menyinari sekitar. Dan saat itu tiba, semua air mata hari ini akan berubah menjadi kebanggaan yang tak terhingga.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User