Mengisahkan Rindu di Balik Musikal Senja Teduh Pelita

Di sudut ruang latihan yang remang, seorang perempuan duduk bersila di lantai kayu. Matanya menerawang, mengikuti alunan lagu yang mengalun pelan dari ponsel di sampingnya. Itu adalah lagu ‘Untitled...

Jul 12, 2026 - 13:05
0 0
Mengisahkan Rindu di Balik Musikal Senja Teduh Pelita

Di sudut ruang latihan yang remang, seorang perempuan duduk bersila di lantai kayu. Matanya menerawang, mengikuti alunan lagu yang mengalun pelan dari ponsel di sampingnya. Itu adalah lagu ‘Untitled’ milik Maliq & D’Essentials. Di hadapannya, para pemain teater berlatih gestur dan ekspresi. Perempuan itu adalah Nuya Susantono, sutradara yang tengah merajut mimpi: mengadaptasi lagu-lagu legendaris itu menjadi sebuah pertunjukan musikal berjudul Senja Teduh Pelita.

Bagi banyak orang, lagu-lagu Maliq & D’Essentials sudah menjadi bagian dari perjalanan emosional. Namun, memindahkan rindu, patah hati, dan harapan dari notasi musik ke atas panggung bukan perkara sederhana. Nuya mengaku proses itu seperti menyusun puzzle perasaan. "Setiap lagu punya cerita yang berdiri sendiri, tapi ketika disatukan, mereka harus bernapas dalam satu alur," ujarnya suatu sore di sela-sela latihan.

Menenun Narasi dari Sebuah Refrain

Awalnya, ide ini muncul dari obrolan ringan antara Nuya dan produser. Ada kegelisahan: bagaimana menghidupkan lagu tanpa menghilangkan esensi aslinya? Nuya tidak ingin sekadar memajang lagu populer lalu menempelkan dialog. Ia ingin setiap bait lirik menjadi jembatan menuju kisah yang lebih dalam. Maka, ia memilih pendekatan personal. Ia mendengarkan kembali seluruh diskografi Maliq & D’Essentials—sendirian, di kamar, dengan lampu temaram—dan menuliskan apa yang dirasakannya.

Dari sana, muncul tokoh-tokoh fiktif yang mewakili fragmen-fragmen kehidupan urban: seorang pemuda yang merantau, pasangan yang terpisah jarak, seorang ibu yang kehilangan. Nuya menyulam benang merah di antara mereka, menjadikan lagu-lagu seperti ‘Dunia Sekitar’ atau ‘Setapak Sriwedari’ sebagai latar emosional. "Saya menangis saat menulis beberapa adegan. Musik mereka memang diciptakan untuk menyentuh," kenangnya.

Menari di Antara Notasi dan Dialog

Proses adaptasi musikal menuntut keseimbangan yang rumit. Nuya harus memastikan transisi antara lagu dan lakon terasa alami, bukan seperti konser yang diselipi akting. Ia memilih untuk tidak mengubah aransemen asli secara drastis; sebaliknya, ia membiarkan musik menjadi karakter yang hidup. "Lagu adalah naskah kedua kami," katanya. Dalam latihan, ia kerap meminta pemain untuk menutup mata dan tenggelam dalam melodi, lalu mengekspresikan emosi yang muncul tanpa kata-kata. Baru setelah itu, dialog dituliskan mengikuti getaran yang sudah terbentuk.

Tantangan terbesar justru hadir dari ekspektasi penonton. Banyak yang datang karena cinta pada lagu, bukan pada teater. Nuya merasa bertanggung jawab untuk memberi pengalaman baru tanpa mengkhianati kenangan yang sudah melekat. "Saya ingin penonton pulang dengan perasaan yang sama seperti saat pertama kali mendengar lagu itu—seperti dipeluk hangat," ungkapnya.

Harmoni di Antara Dua Dunia

Mengerjakan musikal bukan hanya tentang teks dan akting; ia adalah perkawinan antara panggung dan nada. Nuya menggandeng seorang penata musik yang juga pengagum Maliq & D'Essentials. Bersama, mereka membongkar setiap lagu hingga ke kerangkanya, lalu membangunnya kembali dengan cita rasa teater. "Kami tidak ingin mengubah kenangan orang, tapi kami ingin menambahkan dimensi baru," jelas Nuya. Proses ini kadang berlangsung hingga larut, memunculkan diskusi sengit tentang dinamika dan tempo.

Namun, justru dari gesekan itu lahir adegan-adegan paling kuat. Suatu kali, saat menyusun aransemen ‘Aduh’, mereka sepakat untuk menyisipkan hening yang panjang—sebuah ruang bagi penonton untuk meresapi luka yang baru saja terpapar. "Di situlah letak sihirnya: lagu berhenti, tapi cerita terus berjalan," kata Nuya.

Ruang Latihan sebagai Laboratorium Rasa

Di ruang latihan berukuran 8x10 meter itu, Nuya tidak hanya menjadi sutradara, tetapi juga pendengar yang sabar. Ia membuka sesi berbagi cerita pribadi dengan para pemain, karena ia percaya karakter yang kuat lahir dari kejujuran. Suatu malam, saat berlatih adegan perpisahan, salah satu pemain tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Nuya tidak menghentikannya. Ia membiarkan air mata itu menjadi bagian dari proses, dan katanya, "Di situlah teater menjadi nyata."

Proyek ini juga menjadi perjalanan pulang bagi Nuya sendiri. Sebagai penggemar lama Maliq & D’Essentials, ia menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang hilang di tengah hiruk-pikuk industri. "Mengerjakan musikal ini seperti terapi. Saya jadi ingat mengapa saya jatuh cinta pada cerita," tuturnya dengan mata berbinar.

Senja Teduh Pelita dan Harapan yang Menyala

Menjelang hari pertunjukan, Nuya lebih banyak diam. Ia mengamati, mencatat detail kecil, sesekali tersenyum. Baginya, keberhasilan musikal ini tidak hanya diukur dari tepuk tangan, tetapi dari hening yang terjadi setelah lagu terakhir selesai—saat penonton masih membeku dalam emosi. "Itulah doa saya: menghadirkan keheningan yang penuh makna," katanya lirih. Baginya, teater adalah tempat paling jujur untuk berbagi luka dan harapan.

Senja Teduh Pelita akhirnya bukan sekadar musikal. Ia adalah surat cinta kepada para pendengar setia, dan juga kepada mereka yang baru saja menemukan kehangatan dalam nada-nada sederhana. Nuya Susantono telah membuktikan bahwa di balik setiap lagu, ada kisah yang menunggu untuk dihidupkan—dan di atas panggung, kisah itu bernapas dalam gelap yang teduh, diterangi pelita ingatan. Melalui setiap dialog, setiap lirik yang dinyanyikan, dan setiap air mata yang jatuh, Senja Teduh Pelita telah menorehkan jejak abadi di hati mereka yang hadir.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User