Sinopsis ‘Alas Roban’, Film Horor dari Hutan Terseram di Jawa

Gemerisik daun kering yang beradu dengan angin malam, suara samar langkah tanpa raga, dan pandangan mata yang seolah mengawasi dari balik gelap—itulah yang dibayangkan siapa pun ketika mendengar nam...

Jul 12, 2026 - 13:15
0 0
Sinopsis ‘Alas Roban’, Film Horor dari Hutan Terseram di Jawa

Gemerisik daun kering yang beradu dengan angin malam, suara samar langkah tanpa raga, dan pandangan mata yang seolah mengawasi dari balik gelap—itulah yang dibayangkan siapa pun ketika mendengar nama Alas Roban. Hutan di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta itu telah lama menyimpan reputasi sebagai salah satu kawasan paling angker di Tanah Jawa. Di awal tahun 2026, aura mistis itu akan dihidupkan kembali ke layar lebar melalui film horor berjudul Alas Roban yang dijadwalkan tayang serentak pada 15 Januari 2026.

Kisah yang Berakar dari Tutur Lisan

Sutradara Raka Wicaksana mengungkapkan bahwa naskah film ini ia bangun setelah berbulan-bulan menyelami cerita para tetua dan pelaku perjalanan yang pernah melintasi Alas Roban. Bukan sekadar rekaan, jalan cerita film digali dari puluhan kisah nyata tentang pengalaman mistis di kawasan tersebut. "Kami tidak hanya ingin membuat film hantu biasa. Ada luka sejarah dan pesan moral yang ingin kami sampaikan melalui teror yang dirasakan para karakter," ujarnya dalam sesi konferensi pers daring, Senin lalu.

Alas Roban mengisahkan perjalanan empat mahasiswa yang tengah melakukan riset antropologi di desa terpencil. Mereka adalah Rendra, mahasiswa tingkat akhir yang skeptis terhadap hal gaib; Kenes, gadis periang yang memiliki kepekaan indra keenam sejak kecil; Bagas, juru kamera yang selalu merekam segala keanehan; dan Lintang, pemimpin kelompok yang obsesif pada ambisi akademik. Semula, tujuan mereka hanya mendokumentasikan ritual adat warga sekitar. Namun, tawaran seorang warga untuk menginap di rumah kosong di dekat Alas Roban demi menghemat biaya justru menjadi awal petaka.

Teror yang Mengintai Setelah Senja

Malam pertama, keanehan muncul. Suara ketukan pintu tanpa wujud, cermin yang memantulkan sosok asing, hingga mimpi buruk yang seragam dialami keempat mahasiswa itu. Sang produser, Dewi Larasati, menuturkan bahwa adegan-adegan horor dalam film ini sengaja dibangun secara perlahan, terinspirasi dari pendekatan horor psikologis yang membuat penonton merasa terus diawasi. "Kami memadukan elemen jumpscare yang mengejutkan dengan atmosfer lambat yang mencekik. Penonton akan dibawa tenggelam dalam rasa takut yang semakin pekat seiring malam berganti," jelasnya.

Konflik semakin tajam ketika Kenes menyadari bahwa gangguan itu bukan berasal dari satu entitas. Ada makhluk yang dikenal dalam mitos setempat sebagai babadan, siluman berwujud manusia yang tinggal di hutan dan mencari tumbal untuk memperkuat ilmunya. Di sisi lain, arwah penasaran korban kecelakaan lalu lintas yang melegenda di jalur tengah Alas Roban juga mulai menampakkan diri. Dua kekuatan gaib itu saling berebut menguasai para mahasiswa. Rendra yang semula tidak percaya akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit saat satu per satu sahabatnya dirasuki dan diseret ke dalam rimba.

Perjuangan di Balik Layar yang Tak Kalah Mendebarkan

Proses syuting Alas Roban dikerjakan langsung di sekitar hutan asli, bukan di studio berpendingin udara. Pemeran utama, yang diperankan oleh Andro Baskoro sebagai Rendra dan Ratu Felisha sebagai Kenes, mengaku harus melawan rasa takut bercampur lelah setiap hari. "Kami syuting dari sore hingga jelang subuh. Suara asli hutan pada malam hari itu di luar nalar. Bahkan saat kamera mati, bulu kuduk saya sering berdiri sendiri," kenang Andro. Ratu Felisha menambahkan bahwa ia beberapa kali mengalami ketindihan di mess produksi yang terletak di perbatasan desa. "Ini bukan film, tapi ujian nyali. Saya sampai minta didoakan warga sekitar setiap sebelum take," tuturnya sambil tersenyum getir.

Tantangan tidak hanya dari hal supranatural. Cuaca di hutan yang kerap berkabut dan medan berbatu menjadi hambatan teknis. Salah satu adegan yang paling sulit diambil, menurut sang sutradara, adalah saat Bagas harus berlari di tengah lebatnya semak belukar sambil membawa kamera. Semua dilakukan tanpa bantuan stuntman. "Kami ingin penonton merasakan getirnya berlari dari kejaran yang tak terlihat. Itu hanya bisa didapat jika pengambilan gambar juga berasal dari pengalaman nyata di lapangan," tegas Raka.

Menghidupkan Mitos sebagai Pengingat

Lewat Alas Roban, tim produksi berharap penonton tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga terhubung kembali dengan kearifan lokal. Kisah hutan angker ini, menurut Raka, adalah metafora atas ketamakan manusia yang sering merusak alam dan mengabaikan tatanan gaib yang diyakini masyarakat adat. "Ini tentang penghormatan. Tentang bagaimana kita tidak boleh sembarangan memasuki dan mengambil sesuatu dari alam tanpa izin," bebernya. Pesan itu dirajut dalam jalinan cerita yang menegangkan, lengkap dengan visual efek yang digarap oleh tim spesial dari Thailand agar kualitas teror semakin nyata.

Film ini juga menampilkan aktor senior Mbah Suroso yang berperan sebagai juru kunci Alas Roban. Sosoknya menjadi penyeimbang di tengah kepanikan para tokoh muda. Dialog-dialognya yang bijak justru menjadi momen jeda paling mengharukan sebelum kengerian kembali memuncak. "Tanpa petuah simbah, kami semua tersesat," ucap karakter Lintang dalam salah satu penggalan trailer yang sudah beredar di media sosial dan langsung memicu perbincangan hangat warganet.

Pasar horor Indonesia yang terus menggeliat membuat Alas Roban ditargetkan bisa menembus tiga juta penonton. Rumah produksi Cahaya Delapan berani menanamkan investasi besar untuk tata suara dan sinematografi yang digarap oleh peraih nominasi Festival Film Indonesia. Sementara itu, lagu tema film ini dipercayakan kepada penyanyi folk bersuara serak yang liriknya terinspirasi dari tembang macapat tentang perjalanan arwah. Kombinasi tersebut dijanjikan akan menciptakan pengalaman sinematik yang mencekam sekaligus menyentuh.

Kini, tinggal menghitung hari. Layar bioskop akan menjadi saksi bisu bagaimana Alas Roban menyihir penonton dengan teror dan pesona alam tidak kasatmata. Apakah Anda berani melintasi hutan itu meski hanya dari balik layar?

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User