Cara Elite Hadapi Konflik Internal Tentukan Nasib Bangsa, Prabowo Singgung Negara yang Hancur karena Perang
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan refleksi mendalam tentang pelajaran sejarah peradaban manusia. Ia menekankan bahwa kemampuan para elite suatu bangsa untuk bersatu dan bekerja sam
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan refleksi mendalam tentang pelajaran sejarah peradaban manusia. Ia menekankan bahwa kemampuan para elite suatu bangsa untuk bersatu dan bekerja sama merupakan kunci utama yang menentukan apakah negara tersebut akan bangkit menjadi besar atau justru tenggelam dalam keterpurukan. Hal ini diutarakan Prabowo di hadapan para akademisi, peneliti, dan pelaku industri dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jumat (26/6/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo mengamati kondisi geopolitik global yang masih diwarnai oleh berbagai konflik bersenjata. Menurut laporan yang dihimpun media kami, ia menyoroti bagaimana perang yang terjadi di berbagai belahan dunia seringkali dipicu bukan semata oleh ancaman eksternal, melainkan oleh ketidakmampuan para pemimpin dan elite di dalam negeri itu sendiri untuk duduk bersama dan meredakan ego sektoral.
Sejarah Ribuan Tahun Jadi Cermin
Prabowo merujuk pada studi historisnya yang panjang untuk menegaskan argumen tersebut. Ia membandingkan nasib bangsa-bangsa besar di masa lalu yang mampu mencatatkan tinta emas peradaban berkat konsensus para pemimpinnya, dengan negara-negara modern yang kini justru hancur lebur akibat perpecahan internal.
"Dari apa yang saya belajar dari sejarah ribuan tahun, bangsa-bangsa yang elitenya bisa kerja sama, bangsa itu yang bangkit. Bangsa yang elitenya selalu tidak bisa kerja sama, bangsa itu tidak bisa mencapai potensinya. Ini sejarah mengajarkan," kata Prabowo dalam forum tersebut.
Presiden menjelaskan bahwa ketika para elite terjebak dalam konflik berkepanjangan, energi bangsa akan habis terkuras untuk pertikaian yang tidak produktif. Alih-alih fokus membangun industri, mengembangkan sains dan teknologi, serta menyejahterakan rakyatnya, negara tersebut justru berisiko kehilangan kesempatan emas untuk berkembang. Dalam skenario terburuk, perpecahan elite ini dapat menyeret bangsa ke jurang peperangan yang merugikan warga sipil.
Pernyataan ini menjadi sorotan penting dalam konvensi tersebut, mengingat Indonesia saat ini tengah mendorong hilirisasi industri dan penguasaan sains teknologi. Pemerintah berharap para pemangku kepentingan, mulai dari birokrat, pengusaha, hingga cendekiawan, mampu merekatkan sinergi demi mencapai target Indonesia Emas. Tanpa adanya kerja sama solid di tingkat elite, Prabowo mengingatkan bahwa cita-cita besar untuk memajukan peradaban bangsa hanya akan menjadi angan-angan belaka.
Comments (0)