Bidan di Ujung Senja, Harapan Menuju Angka 77

Senja merambat pelan di balik bukit-bukit kapur. Langit jingga menyisakan bias cahaya yang menimpa punggung ia yang berjalan tertatih. Di tangannya, sebuah tas usang berisi peralatan sederhana: tensim...

Jul 13, 2026 - 17:44
0 0

Senja merambat pelan di balik bukit-bukit kapur. Langit jingga menyisakan bias cahaya yang menimpa punggung ia yang berjalan tertatih. Di tangannya, sebuah tas usang berisi peralatan sederhana: tensimeter, stetoskop, beberapa ampul oksitosin yang dibungkus kain bersih. Namanya Rumini, seorang bidan desa yang sudah 23 tahun mengabdi di pelosok. Panggilan telepon tadi siang masih terngiang—seorang ibu muda dengan perdarahan hebat pascapersalinan, dan jarak Puskesmas terdekat adalah empat jam perjalanan dengan jalan berlumpur.

Rumini bukan nama asli, tapi perjalanannya mewakili ribuan bidan yang setiap hari berjibaku dengan maut di garis depan. Data Kementerian Kesehatan mencatat, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih bertengger di angka yang belum memuaskan. Meskipun tren menunjukkan penurunan dari 305 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 menjadi 189 pada 2020, target 70 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2024 masih jauh dari jangkauan. Hari ini, pemerintah menargetkan lompatan yang lebih ambisius: menekan AKI hingga di bawah 77 pada 2029. Sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh hanya dengan infrastruktur atau alat kesehatan semata.

Proyek yang Menyentuh Jantung Pelayanan

Proyek bertajuk Strengthening Midwifery Competency for Emergency and Essential Care Delivery atau SPEED hadir bukan sebagai proyek gedung bertingkat. Ia turun ke lini paling depan: memperkuat kompetensi bidan. Bidan seperti Rumini, yang kadang hanya bermodalkan pengetahuan turun-temurun dan keberanian yang terpupuk dari pengalaman pahit. Proyek ini dirancang untuk menjahit celah antara idealisme pelatihan di kelas dan realitas pahit di lapangan.

Di sudut ruang bersalin sebuah Puskesmas kecil di daerah perbatasan, seorang bidan muda, Nirmala, mengisahkan, “Dulu saya hanya diajari menangani persalinan normal. Tapi ketika ada ibu dengan eklampsia, saya panik. Tangan saya gemetar. Saya takut salah mengambil keputusan.” Proyek SPEED, katanya, memberinya lebih dari sekadar teori. Ada simulasi, ada pendampingan intensif, ada keberanian yang perlahan ditanamkan. Bukan hanya tentang magnesium sulfat, tetapi tentang bagaimana tetap tenang ketika detik-detik kritis menyita logika.

Di Balik Layar Sebuah Angka

Menurunkan AKI bukanlah perkara mengurangi angka di atas kertas. Di balik setiap bilangan ada sebuah nama, seorang ibu, seorang istri, seorang anak yang kehilangan. Ada suami yang pulang membawa bayi tanpa ibunya. Ada keluarga yang mendadak sunyi. Momen paling mengharukan seringkali tersimpan di bilik-bilik bersalin sederhana, di mana seorang bidan harus memilih: menunggu ambulans yang tak kunjung tiba, atau mengambil risiko dengan keterampilan seadanya.

Air mata saya sudah habis,” cerita Rumini suatu kali, ketika ia mengenang seorang ibu yang tak sempat ditolongnya beberapa tahun silam. “Tapi setiap kali ada nyawa yang terselamatkan, saya seperti bangkit lagi.” Proyek SPEED hadir untuk mengurangi kisah-kisah duka semacam itu. Dengan pelatihan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal esensial, para bidan dibekali kemampuan untuk menangani perdarahan pascapersalinan, infeksi, hingga komplikasi hipertensi dalam kehamilan secara lebih mandiri. Bukan untuk menggantikan dokter, tetapi untuk menjadi benteng pertama yang kokoh.

Inspirasi dari Kaki Langit

Target di bawah 77 pada 2029 menjadi semacam obor yang dinyalakan di tengah gelapnya statistik. Ia tak akan tercapai hanya dengan seminar di hotel berbintang. Ia harus menembus ke pelosok, ke pulau-pulau kecil, ke pegunungan terjal di mana sinyal telepon pun bisu. Di sanalah para bidan berjuang dalam sunyi, menggendong harapan di punggungnya sendiri.

Di kaki Gunung Wilis, seorang bidan desa bernama Surti mengisahkan bagaimana ia harus berjalan kaki tiga jam untuk menyuntikkan vaksin tetanus kepada seorang ibu hamil. “Kalau bukan saya, siapa lagi? Mereka tidak punya siapa-siapa,” ujarnya dengan suara serak. Sederhana, tapi menusuk. Proyek SPEED merangkul bidan-bidan seperti Surti, memberikan mereka akses pada modul pelatihan terkini, alat bantu diagnostik sederhana, dan yang tak kalah penting: pengakuan bahwa pekerjaan mereka adalah tulang punggung penurunan kematian ibu.

Perjalanan ini memang belum selesai. Masih banyak Rumini dan Surti lain yang menanti uluran tangan. Namun di setiap langkah kecil mereka, ada harapan yang terus dirajut: bahwa kelak, tak ada lagi ibu yang meninggal ketika seharusnya ia menyambut kehidupan baru. Target 77 bukan sekadar angka. Ia adalah janji sebuah negeri kepada para perempuannya, yang dijalin dari benang-benang pengabdian para bidan di ujung senja.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User