Bantul — Erick Thohir Hadiri Final Festival Grassroots Piala Presiden 2026
Rabu sore di JEC Soccer Field, Bantul, terasa berbeda. Sorak-sorai anak-anak memecah langit senja, menggema di antara kibaran bendera merah-putih kecil yan
Rabu sore di JEC Soccer Field, Bantul, terasa berbeda. Sorak-sorai anak-anak memecah langit senja, menggema di antara kibaran bendera merah-putih kecil yang mereka bawa. Di lapangan sintetis itu, dua tim cilik berseragam biru dan oranye berkejaran memperebutkan bola, sesekali terjatuh, lalu bangkit lagi tanpa setetes air mata. Ini bukan sekadar pertandingan. Ini panggung mimpi—putaran final Festival Grassroots Nasional U-10 dan U-12 Piala Presiden 2026.
Di tribun, seorang pria berkemeja putih duduk menyaksikan dengan senyum tak lepas dari wajahnya. Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, tampak sesekali bertepuk tangan. Baginya, yang berlari di bawah sana bukan cuma calon pemain, tapi benih-benih perubahan.
Lapangan Kecil, Mimpi Besar
Adit (11) menggigit bibirnya sendiri. Ia baru saja gagal mengeksekusi tendangan penalti. Pelatihnya dari tim U-12 asal Makassar, Pak Daud, merangkulnya erat. “Kamu sudah berani ambil bola. Itu yang paling penting,” bisiknya. Adit mengangguk. Di balik kekecewaannya, mata bocah itu masih menyala.
“Saya mau jadi seperti Egy Maulana. Tapi kata mama, harus sekolah yang bener dulu,” ujar Adit setengah malu, tangannya meremas ujung kaos.
Cerita Adit bukan satu-satunya. Dari 32 tim yang lolos ke putaran nasional setelah seleksi di delapan regional, hampir semua anak datang dengan narasi serupa: keterbatasan akses, sepatu butut, lapangan becek di kampung, tapi cinta pada si kulit bundar tak pernah luntur. Mereka adalah potret Indonesia yang sesungguhnya—berjuang dari bawah, menolak menyerah.
Erick Thohir dan Investasi Masa Depan
Erick Thohir memilih hadir bukan cuma untuk seremoni. Ia berbaur dengan peserta, menanyakan asal sekolah, bahkan ikut menendang bola sebentar bersama anak-anak U-10 yang terkesima. “Rasanya seperti melihat diri sendiri 40 tahun lalu,” katanya kepada panitia. Momen personal itu menjadi pesan kuat: PSSI sedang menyentuh akar rumput secara langsung.
“Ini bukan sekadar kompetisi. Ini cara kami bilang ke anak-anak Indonesia bahwa mimpi mereka itu berharga. Bahwa negara hadir mendampingi dari level paling dasar,” ucap Erick di sela acara, suaranya lirih namun mantap.
Festival yang memakai nama Piala Presiden ini memang dirancang sebagai gerakan nasional. Dari 2023 hingga kini, lebih dari 50.000 anak telah ikut ambil bagian. Angka ini bukan jumlah kecil. Di setiap daerah, turnamen serupa memunculkan geliat baru: orang tua mulai melirik sepak bola sebagai jalur serius pendidikan karakter, bukan sekadar hobi.
Dampak yang Melampaui Skor
Ibu Sari (37) meneteskan air mata di pinggir lapangan. Putranya, Fajar (10), satu-satunya wakil dari desa terpencil di Nusa Tenggara Timur. Untuk sampai ke Bantul, mereka menempuh perjalanan dua hari dengan kapal laut dan bus. “Saya cuma jualan kue. Tapi sejak ikut seleksi, Fajar jadi lebih disiplin. Dia bahkan mengajari teman-temannya mengaji sepulang latihan,” cerita Ibu Sari.
“Dulu saya pikir sepak bola buang-buang waktu. Sekarang saya lihat anak saya tumbuh jadi pemimpin kecil,” ujarnya, tersenyum di balik air mata.
Transformasi semacam ini yang diharapkan PSSI. Sepak bola usia dini bukan berburu juara instan, melainkan membentuk mentalitas: kerja sama, kegigihan, dan rasa hormat. Setiap peluit berbunyi, para pemain cilik diajari bersalaman—sebuah ritual sederhana yang meruntuhkan batas suku, agama, dan status ekonomi.
Bantul hari itu, sorak-sorai itu bukan untuk siapa-siapa. Ia untuk ribuan Adit dan Fajar yang esok lusa mungkin berdiri di Stadion Utama Gelora Bung Karno, membela merah-putih dengan dada penuh kebanggaan. Di bangku penonton, Erick Thohir mungkin mengingat satu hal: sejarah selalu dimulai dari langkah kecil yang dirawat dengan hati.
Comments (0)