Sungai Citarum bukan sekadar bentangan air yang membelah kawasan Jawa Barat. Bagi puluhan juta warga, sungai terpanjang di Tatar Pasundan ini adalah urat nadi kehidupan—sumber air baku minum, penyokong utama irigasi ribuan hektar sawah, hingga penggerak pembangkit listrik tenaga air. Namun, mengembalikan kejayaan dan kebersihan sungai yang sempat dijuluki salah satu sungai tercemar di dunia ini jelas bukan pekerjaan semalam. Memasuki pemulihan yang kian krusial, keberlanjutan program Citarum Harum kembali menjadi sorotan utama.
Anggota DPRD Jawa Barat, Tina Wiryawati, menyuarakan pentingnya komitmen tanpa putus dari semua tingkatan pemerintahan. Menurut politisi ini, kompleksitas permasalahan di sepanjang DAS Citarum tidak akan pernah tuntas jika hanya dibebankan pada satu pihak saja atau berjalan tanpa sinergi yang erat.
Komitmen Lintas Sektor Jadi Kunci Utama
Penanganan lingkungan berskala raksasa seperti Citarum membutuhkan napas panjang. Tina menegaskan bahwa koordinasi yang padu antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah merupakan fondasi utama agar program restorasi ini tidak kehilangan momentum.
"Penanganan Sungai Citarum ini butuh komitmen bersama yang kuat dan konsisten. Pemerintah pusat dan daerah harus berjalan beriringan, tidak boleh ada ego sektoral jika kita benar-benar ingin melihat Citarum kembali bersih dan bermanfaat secara berkelanjutan," ungkap Tina Wiryawati saat memberikan keterangannya.
Sejak digulirkan melalui Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018, program Citarum Harum memang berhasil membawa perbaikan nyata. Pencemaran limbah industri berkurang dan pembersihan sampah makin terorganisasi. Namun, Tina mengingatkan bahwa pencapaian ini barulah awal dari perjuangan panjang menjaga ekosistem perairan tetap sehat.
Mengurai Tantangan dan Penanganan Terpadu
Tantangan di lapangan dinilai masih sangat berlapis, mulai dari masalah sampah domestik, sedimentasi akibat erosi lahan hulu, hingga alih fungsi lahan kritis. Oleh sebab itu, alokasi anggaran yang memadai, penegakan hukum yang lugas, serta dukungan regulasi pusat harus selaras dengan eksekusi teknis di tingkat daerah.
Beberapa langkah strategis yang didorong untuk memperkuat program pemulihan ini antara lain:
- Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Tindakan tegas terhadap pabrik dan industri yang masih nekat membuang limbah berbahaya tanpa pengolahan IPAL yang benar.
- Rehabilitasi Kawasan Hulu: Reboisasi masif di area resapan air guna mencegah erosi berat dan pendangkalan sungai.
- Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas: Mengedukasi masyarakat bantaran sungai agar aktif dalam pengelolaan sampah mandiri dan memutus kebiasaan membuang sampah ke aliran sungai.
- Sinergi Anggaran APBN dan APBD: Integrasi pembiayaan yang berkelanjutan untuk perawatan fasilitas penampungan dan pengolahan limbah.
Fokus Area Penanganan Citarum Harum
Untuk mengukur efektivitas dan keberlanjutan program, berikut adalah gambaran fokus penanganan Citarum Harum yang perlu disokong penuh oleh pemerintah pusat dan daerah:
| Kawasan Penanganan | Fokus Utama | Target Output |
|---|---|---|
| Sektor Hulu | Penghijauan lahan kritis & edukasi erosi | Resapan air pulih, penataan mata air |
| Sektor Tengah | Penertiban limbah industri & IPAL Komunal | Kualitas air membaik, penurunan bahan kimia |
| Sektor Hilir | Pembersihan sampah & pengerukan lumpur | Pencegahan banjir, normalisasi aliran sungai |
Menjaga Keberlanjutan Demi Generasi Mendatang
Tina menyadari betul bahwa memulihkan Citarum bukan sekadar menyelesaikan proyek jangka pendek, melainkan investasi lingkungan hidup untuk masa depan anak cucu. Keberlanjutan program Citarum Harum harus terus dikawal agar tidak kendur di tengah jalan saat terjadi pergantian kepemimpinan atau perubahan kebijakan di tingkat nasional maupun daerah.
"Kita semua tidak ingin program Citarum Harum ini berhenti di tengah jalan atau hanya menjadi euforia sesaat. Ini adalah tanggung jawab moral kita bersama untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan," pungkasnya penuh harap.
Comments (0)