Back to School: Dari Steak Bandung, Kentang Mustofa, hingga Impian Dammam

Di sudut dapur mungil berukuran 2x3 meter, tangan Lestari cekatan mengaduk irisan kentang dalam wajan berisi minyak panas. Aroma gurih menguar, bercampur dengan wangi bawang putih dan cabai kering yan...

Jul 11, 2026 - 12:26
0 0
Back to School: Dari Steak Bandung, Kentang Mustofa, hingga Impian Dammam

Di sudut dapur mungil berukuran 2x3 meter, tangan Lestari cekatan mengaduk irisan kentang dalam wajan berisi minyak panas. Aroma gurih menguar, bercampur dengan wangi bawang putih dan cabai kering yang ditumis terpisah. Hari masih gelap, tetapi seorang ibu tak pernah mengenal waktu ketika menyiapkan bekal untuk anaknya. Hari ini adalah hari pertama Raka kembali ke sekolah.

Raka muncul dari balik pintu kamar, masih mengantuk namun matanya berbinar saat melihat tas plastik bertuliskan Gramedia yang ia letakkan di meja tadi malam. Di dalamnya, ada buku tulis bersampul baru, pensil warna, dan satu buku cerita tentang negara-negara Timur Tengah yang ia pilih sendiri. "Aku dapat diskon 20 persen, Bu. Program Back to School-nya Gramedia membuat uang tabunganku masih sisa untuk beli buku ini," katanya, setengah berbisik, takut membangunkan adiknya.

Semangat Baru, Bekal Sederhana, dan Program yang Menghidupkan Mimpi

Program Back to School yang dihadirkan Gramedia tahun ini memang bukan sekadar pesta diskon. Bagi banyak keluarga seperti Lestari dan Raka, ini adalah momen mempersiapkan diri menyambut tahun ajaran baru dengan penuh harapan. Sejak seminggu lalu, Raka sudah mempelajari katalog daring, mencatat harga buku pelajaran dan alat tulis yang ia butuhkan, dan menghitung sisa uang jajan yang bisa ia tabung. "Sekolah tahun ini harus lebih serius," tekadnya. "Aku ingin jadi juara kelas dan nanti bisa kuliah di luar negeri, atau setidaknya mengunjungi Dammam."

Lestari tersenyum mendengar celoteh anaknya. Sambil terus menggoreng irisan kentang tipis-tipis yang nantinya akan tercampur bumbu pedas-manis, ia teringat bagaimana dulu ia sendiri hanya punya buku tulis sumbangan dan pensil separuh panjang. Kini, sebagai orang tua, ia ingin memberi lebih banyak pilihan bagi Raka—bukan hanya soal peralatan sekolah, tapi juga soal pengalaman hidup. Salah satunya, liburan ke Bandung sebulan lalu, saat mereka sekeluarga mencoba sensasi makan steak yang selama ini hanya menjadi gambar di layar ponsel.

"Kalau sudah besar nanti, aku ingin Ibu berhenti bekerja dan kita jalan-jalan ke Arab Saudi bareng," ujar Raka suatu sore, separuh serius, separuh meracau. Lestari hanya mengelus rambutnya dan berbisik, "Belajar yang giat dulu, ya. Setiap perjalanan dimulai dari sekolah."

Steak Bandung: Bukan Sekadar Makan Malam, tapi Pelajaran tentang Menikmati Hidup

Liburan ke Bandung bulan lalu adalah hadiah dari hasil kerja lembur Lestari selama tiga bulan. Di sebuah restoran steak legendaris di Jalan Braga, untuk pertama kalinya Raka melihat daging sapi setebal dua jari yang mendesis di atas hot plate. Lidahnya belum terbiasa dengan medium rare, tetapi matanya berbinar menyaksikan pertunjukan kuliner itu. "Bu, ini makan atau nonton teater?" guraunya, membuat seluruh keluarga tertawa.

Tempat makan steak di Bandung memang memiliki cerita tersendiri. Bukan hanya soal rasa daging impor yang empuk atau saus lada hitam yang meresap, melainkan soal suasana kota yang dingin, lampu-lampu temaram, dan obrolan hangat yang mengalir tanpa gawai. Malam itu, Lestari belajar sesuatu dari anaknya: bahwa menikmati hidup bukan hanya soal berhemat tanpa henti, melainkan juga soal menciptakan kenangan. "Nanti kalau aku sudah kerja, aku traktir Ibu steak lagi di sini," janji Raka sambil menghabiskan kentang goreng di piringnya.

Tanpa disadari, perbincangan di meja makan itu membentuk cara pandang Raka tentang dunia. Ia mulai membaca lebih banyak tentang negara-negara yang memiliki tradisi kuliner unik, termasuk Arab Saudi yang sering ia lihat di saluran televisi. Dammam, kota pelabuhan di Teluk Persia, muncul berulang kali dalam pencariannya. Ia penasaran dengan Corniche yang membentang, pertemuan budaya para pedagang dari berbagai bangsa, dan masjid-masjid megah yang menjadi saksi sejarah peradaban Islam.

Kentang Mustofa: Lauk Kering yang Menyimpan Doa Ibu

Sementara Raka sibuk dengan dunia mimpinya, Lestari setia di dapur, mengaduk-aduk kentang mustofa yang mulai berubah warna menjadi cokelat keemasan. Ilustrasi lauk kering ini mudah ditemui di berbagai unggahan media sosial: kentang goreng renyah berselimut sambal, cocok untuk bekal sekolah karena tahan berhari-hari. Namun bagi Lestari, kentang mustofa bukan sekadar solusi praktis. Setiap irisan kentang yang ia goreng adalah pengingat bahwa tidak semua hal besar harus datang secara tiba-tiba. Kadang, mimpi itu disiapkan setahap demi setahap, seperti meniriskan minyak dari kentang sebelum mencampurnya dengan bumbu.

"Biar kering, biar awet," gumam Lestari. Kalimat yang sama ia ucapkan sejak Raka masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Maksudnya bukan hanya soal lauk, melainkan soal karakter: biar kering air mata menyerah, biar awet semangat belajar. Di balik kesederhanaan kentang mustofa, ada pelajaran tentang ketekunan. Sebuah metafora yang mungkin terlalu berat untuk anak seusia Raka, tetapi Lestari percaya, satu hari nanti, ketika Raka benar-benar menginjakkan kaki di Dammam—atau di mana pun mimpinya membawanya—ia akan mengerti.

Pagi itu, sebelum berangkat, Raka membuka buku tentang Timur Tengah yang ia beli dari Gramedia. Halaman pertama menampilkan foto Dammam dengan cahaya senja yang menyentuh menara-menaranya. Ia menandai halaman itu dengan sehelai kertas kecil bertuliskan, "Mulai dari sekarang." Lestari, yang mengintip dari bahu, hanya tersenyum dan menyelipkan sebungkus kentang mustofa ke dalam tas anaknya.

Hari pertama sekolah selalu berbau pagi yang dingin dan harapan yang hangat. Di antara meja-meja kelas yang mulai terisi, di antara buku-buku baru yang wangi kertasnya, dan di antara suapan bekal sederhana di waktu istirahat, terdapat satu kisah kecil yang mengisahkan tentang bagaimana program diskon alat tulis, sepotong steak di Bandung, segenggam kentang mustofa, dan impian tentang Dammam bisa bersatu dalam satu perjalanan manusiawi. Perjalanan yang dimulai dari dapur sempit, menembus kota-kota, dan bermuara pada keyakinan bahwa pendidikan adalah kendaraan paling mewah yang bisa mengantar siapa saja menuju mimpinya.

[TAGS]: Back to School, Gramedia, steak Bandung, kuliner Bandung, kentang mustofa, resep kentang mustofa, wisata Arab Saudi, Dammam, inspirasi, pendidikan [SOCIAL_TWEET]: Sepiring kentang mustofa buatan Ibu, sepotong steak kenangan di Bandung, dan mimpi seorang anak menggapai Dammam. Kisah lengkapnya menyentuh hati. Baca di sini. [SOCIAL_FB]: Di balik hari pertama sekolah, ada cerita tentang program Back to School Gramedia yang membantu Raka membeli buku impian. Ada cerita tentang liburan steak di Bandung yang membuka matanya pada dunia. Ada cerita tentang kentang mustofa yang menyimpan doa seorang ibu. Dan ada mimpi besar untuk mengunjungi Dammam, Arab Saudi. Sebuah feature hangat yang mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah kendaraan paling mewah menuju impian. Selamat membaca. [SOCIAL_TG]: 📚 Hari pertama sekolah, bekal kentang mustofa, kenangan steak Bandung, dan mimpi ke Dammam. Satu cerita hangat tentang perjalanan seorang ibu dan anaknya. Simak selengkapnya. 🌟 [SOCIAL_THREADS]: Pagi pertama sekolah selalu spesial. Tapi ada yang lebih spesial ketika bekal kentang mustofa buatan Ibu jadi saksi mimpi besar seorang anak: melihat Dammam. Perjalanan ini dimulai dari diskon Gramedia, malam steak di Bandung, dan doa yang terselip di lauk kering. Baca yuk, siapa tahu kamu juga punya cerita serupa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User