Aurelie Moeremans dan Senar-Senar yang Hampir Putus

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, Aurelie Moeremans menatap tumpukan kertas yang berserak di lantai. Jemarinya bergetar, bukan karena dinginnya pendingin ruangan, melainkan oleh beban yang bar...

Jul 12, 2026 - 02:27
0 1
Aurelie Moeremans dan Senar-Senar yang Hampir Putus

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, Aurelie Moeremans menatap tumpukan kertas yang berserak di lantai. Jemarinya bergetar, bukan karena dinginnya pendingin ruangan, melainkan oleh beban yang baru saja tumpah dari dadanya. Di atas meja kecil, sebuah gitar tua dengan seutas senar putus terdiam, menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang akhirnya ia rangkai dalam sebuah buku memoar berjudul Broken Strings. Hari itu, Aurelie bukan lagi aktris yang biasa tampil di depan kamera dengan senyum menawan. Ia hanyalah seorang perempuan yang sedang menyelesaikan bab terakhir dari luka yang paling dalam.

Momen itu mengisahkan lebih dari sekadar lahirnya sebuah buku. Bagi Aurelie, Broken Strings adalah caranya untuk memeluk erat setiap serpihan kenangan yang selama ini ia pendam sendiri. “Saya tidak menyangka, menulis ternyata jauh lebih menakutkan daripada berdiri di depan ratusan orang. Di depan kamera, saya bisa menjadi orang lain. Tapi di depan layar laptop ini, saya harus menjadi diri saya sendiri, sepenuhnya,” ungkapnya, suaranya bergetar mengenang proses kreatif yang menguras air mata itu.

Awal Mula Sebuah Keberanian

Semua berawal dari sebuah buku harian kecil yang ia temukan di dalam kardus bekas, saat ia harus pindah dari apartemen lamanya. Buku harian itu berisi coretan-coretan masa remaja: mimpi, patah hati pertama, dan puisi-puisi yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Aurelie terdiam lama saat membaca kembali kata-kata yang dulu ia tulis dengan tinta biru pudar. Di situlah ia sadar, ada suara di dalam dirinya yang belum pernah benar-benar didengar, bahkan oleh dirinya sendiri.

“Saya merasa seperti menemukan kunci menuju ruangan yang sudah lama saya kunci,” katanya, mengenang momen mengharukan itu. Saat itu juga, ia memutuskan untuk menuliskan perjalanan hidupnya—bukan sebagai aktris yang dikenal publik, melainkan sebagai manusia biasa yang pernah merasa patah dan nyaris menyerah. Buku itu ia rancang sebagai surat panjang untuk dirinya sendiri, yang kemudian ia yakin bisa menyentuh hati banyak orang.

Prosesnya tidak mudah. Setiap malam, setelah syuting dan rapat pekerjaan, Aurelie menyempatkan diri duduk di sudut kamar dengan secangkir teh hangat. Ia membiarkan ingatan masa lalu mengalir, termasuk kisah cinta yang membuatnya hampir kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Di balik layar gemerlap dunia hiburan, ia menulis tentang malam-malam sunyi di mana ia hanya bisa menatap langit-langit sambil bertanya-tanya, apakah semua perjuangan ini sepadan.

Senar yang Putus, Nyawa yang Bangkit

Salah satu bagian paling emosional dalam Broken Strings adalah ketika Aurelie menulis tentang metafora senar yang putus. Ia mengisahkan bagaimana dulu ia sangat mencintai musik, namun sebuah kejadian membuatnya berhenti bermain gitar selama bertahun-tahun. Sahabatnya, yang selalu menjadi teman duetnya, meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kehilangan itu seperti memutuskan seluruh senar dalam hidupnya sekaligus.

“Saya ingat, saya mengubur gitar itu di lemari, bersama semua mimpi kami. Setiap kali melihatnya, rasanya seperti ada yang menusuk dada,” tuturnya, mata Aurelie mulai berkaca-kaca. Bertahun-tahun ia hanya fokus pada akting, membiarkan dunia musik menjadi kenangan yang terlalu sakit untuk diingat. Namun, saat menulis buku ini, ia memutuskan untuk mengeluarkan kembali gitar itu. Kali ini, bukan untuk menyalahkan takdir, melainkan untuk merangkai kembali mimpi yang pernah patah.

Aurelie pun belajar untuk memetik gitar dengan empat jari, karena satu jarinya sempat cedera ringan saat syuting. Keterbatasan itu justru memberinya perspektif baru: bahwa hidup tidak harus sempurna untuk bisa terus dimainkan. “Senar yang putus bukan berarti lagunya berhenti. Kita hanya perlu mencari cara baru untuk melanjutkan melodi,” tulisnya di salah satu halaman memoar yang paling menyentuh.

Pesan di Balik Tinta

Kini, saat Broken Strings akhirnya berada di tangan para pembaca, Aurelie justru merasa lebih ringan. Baginya, buku ini adalah bukti bahwa bangkit dari keterpurukan bukanlah tentang melupakan, melainkan tentang berdamai. Ia ingin setiap orang yang membaca halaman-halaman itu tahu bahwa rasa sakit adalah bagian dari perjalanan yang akan mengantarkan pada versi diri yang lebih utuh.

“Saya tidak menulis buku ini untuk dikasihani. Saya menulisnya untuk mengatakan pada siapapun yang pernah merasa sendiri, bahwa mereka tidak sendirian,” ucapnya dengan mantap. Di balik layar, ia memang seorang aktris yang sering mendapat tepuk tangan. Tapi di dalam halaman Broken Strings, ia hanyalah sebuah suara sederhana yang ingin berbagi kehangatan.

Kini, Aurelie masih sesekali duduk di sudut ruangan itu, kali ini dengan gitar yang sudah memiliki senar baru. Ia belum sepenuhnya kembali bermusik secara profesional, tapi satu hal yang pasti: hidupnya bukan lagi tentang menghindari nada-nada sumbang. Ia belajar bahwa justru dari ketidaksempurnaan itulah lahir melodi yang paling jujur. Dan bagi Aurelie Moeremans, Broken Strings adalah nada jujur pertama yang ia persembahkan untuk dunia—setelah sekian lama memilih diam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User