Gua Muna Simpan Lukisan Tertua Dunia, Sultra Menuju Pusat Prasejarah

Di sudut gua yang redup, seorang tetua adat menelusuri dinding batu dengan jemari gemetar. Matanya basah. Ia baru saja mendengar kabar yang tak pernah terbayangkan: goresan-goresan sederhana yang seja...

Jul 12, 2026 - 16:47
0 0

Di sudut gua yang redup, seorang tetua adat menelusuri dinding batu dengan jemari gemetar. Matanya basah. Ia baru saja mendengar kabar yang tak pernah terbayangkan: goresan-goresan sederhana yang sejak kecil ia anggap warisan leluhur itu ternyata berusia 67.800 tahun. Lebih tua dari lukisan gua di Maros-Pangkep yang selama ini diyakini sebagai yang tertua di dunia. Di dalam diam, ia berbisik, “Nenek moyang kita sudah bercerita jauh sebelum siapa pun bisa menulis.” Momen itulah yang mengawali perjalanan baru bagi Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Usia yang Mengejutkan Dunia

Sebuah penelitian mutakhir yang hasilnya baru saja dipublikasikan membawa Kabupaten Muna ke panggung prasejarah global. Lukisan purba di dinding karst di sana, yang selama ini hanya menjadi bagian dari legenda lokal, kini dinyatakan sebagai yang tertua di dunia. Usianya 67.800 tahun, melampaui capaian gua-gua di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang sebelumnya diakui sebagai pemegang rekor dengan lukisan figuratif tertua berusia sekitar 44.000 tahun. Angka itu seketika mengubah peta peradaban. “Ini bukan sekadar penemuan angka. Ini pengingat bahwa manusia Nusantara memiliki cara pandang yang sangat tua, sangat dalam,” ujar seorang arkeolog yang terlibat dalam ekskavasi awal. Penanggalan dilakukan dengan metode uranium-series pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen lukisan. Hasilnya konsisten dan tak terbantahkan. Gambar-gambar hewan, cap tangan, dan motif abstrak yang menghiasi dinding gua di Muna ternyata lahir dari tangan manusia yang hidup puluhan ribu tahun sebelum piramida pertama Mesir dibangun. Dunia harus menggeser pandangannya: pusat seni cadas bukan lagi Eropa, melainkan Indonesia—dan Muna kini menjadi jantungnya.

Fadli Zon dan Mimpi Pusat Prasejarah

Di tengah euforia penemuan ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir langsung. Bukan dengan pidato seremonial, melainkan dengan langkah-langkah yang menyentuh. Ia berjalan menyusuri gua, menyapa warga, dan yang paling penting, mendorong Sulawesi Tenggara menjadi pusat prasejarah. Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di bawah tenda sederhana, sang menteri berbicara lirih namun pasti.

“Kita tidak boleh hanya bangga sesaat. Temuan ini harus menjadi titik balik. Saya ingin Sulawesi Tenggara, khususnya Muna, menjadi destinasi riset dan wisata prasejarah kelas dunia. Ini warisan yang tak ternilai.”

Pernyataan itu bukan janji kosong. Kementerian Kebudayaan mulai menyusun peta jalan perlindungan dan pengembangan situs. Beberapa hal yang disorot antara lain konservasi dinding gua yang rapuh, peningkatan kapasitas pemandu lokal, serta penelitian lanjutan yang melibatkan ahli internasional. Fadli Zon juga menegaskan pentingnya membangun narasi yang menghubungkan lukisan purba Muna dengan identitas kebudayaan Indonesia masa kini. “Lukisan ini adalah bukti bahwa imajinasi dan spiritualitas sudah menjadi bagian dari manusia Nusantara sejak awal,” imbuhnya. Warga setempat pun menyambut harap-harap cemas. Mereka ingin gua ini diakui tanpa kehilangan kendali atas tanah leluhur. Seorang tokoh masyarakat berkata pelan, “Kami hanya ingin cerita kami didengar, bukan diambil.” Kata-kata itu menjadi catatan penting bagi pemerintah agar pengembangan situs berjalan dengan penghormatan penuh terhadap masyarakat adat.

Kisah di Balik Goresan Purba

Di balik setiap goresan purba, tersimpan kisah perjuangan dan mimpi manusia masa lalu. Lukisan cap tangan, misalnya, bukan sekadar hiasan. Para peneliti menduga itu adalah cara manusia prasejarah menyatakan kehadiran dan identitas. “Mereka bilang, aku ada,” ujar seorang antropolog yang ikut mendokumentasikan situs itu. Ada pula gambar hewan—anoa, babi rusa, atau makhluk yang kini hanya bisa ditebak bentuknya—yang merekam hubungan erat antara manusia dan alam. Mungkin itu adalah doa untuk keberhasilan berburu, atau ungkapan syukur atas kehidupan. Di salah satu sudut gua, terlihat motif spiral yang rumit. Bagi sebagian arkeolog, itu bisa jadi representasi awal dari pemikiran kosmologis: siklus hidup, kematian, dan kelahiran kembali.

Yang paling menyentuh adalah cerita dari mulut ke mulut yang bertahan di komunitas sekitar. Seorang nenek berusia 80 tahun menuturkan bahwa gua itu selalu dianggap tempat suci. “Kata orang tua dulu, di situ bersemayam roh pelindung. Kalau kita mau masuk, harus minta izin dulu,” katanya sambil tersenyum. Kini, dengan penemuan ilmiah yang mendunia, sakralitas itu menemukan padanannya dalam bahasa modern: situs warisan dunia. Namun bagi si nenek, tak ada yang berubah. “Tetap tempat suci. Hanya sekarang lebih banyak orang yang tahu,” ujarnya.

Momen mengharukan terjadi ketika anak-anak sekolah diajak berkunjung. Mereka duduk bersila di depan dinding gua, mendengarkan penjelasan guru, lalu satu per satu bertanya dengan mata berbinar. Seorang bocah laki-laki bertanya, “Apakah orang yang menggambar ini mirip kita?” Pertanyaan sederhana itu justru menjadi jembatan yang menghubungkan puluhan ribu tahun perjalanan manusia. Jawabannya iya: secara genetis, mereka adalah leluhur kita. Di situlah letak keajaiban lukisan Muna—ia tak hanya tua, tapi juga menjadi cermin yang memantulkan wajah kita hari ini.

Kini, Sulawesi Tenggara bersiap menulis babak baru. Dari goresan sederhana di dinding gua, sebuah peradaban mulai diakui. Air mata haru, kebanggaan, dan tanggung jawab bercampur jadi satu. Perjalanan menuju pusat prasejarah dunia baru saja dimulai.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User