Pukul setengah lima pagi, langit di Kalasan, Sleman, masih menyimpan sisa gelap malam. Di dapur sederhana berukuran tiga kali empat meter itu, Sri Mulyani (54) sudah bersila di depan tungku kayu. Uap hangat membubung dari panci besar berisi beras yang tengah direbus bersama santan kental, kunyit segar, daun pandan wangi, dan serai geprek. Aromanya menjalar sampai teras rumah, seolah membangunkan seluruh dusun dengan pelan-pelan.
Sudah lebih dari tiga dekade wanita bertubuh mungil ini mengulang ritual yang sama. Baginya, nasi kuning bukan sekadar menu sarapan. Ia adalah bahasa untuk berterima kasih, hadiah untuk merayakan, dan penghibur di hari-hari berat. Bersama ayam goreng garing khas Kalasan yang tulangnya pun bisa dikunyah habis, hidangan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup keluarganya.
Warisan dari Dapur Sang Ibu
Cerita cinta Sri pada masakan ini bermula jauh sebelum ia menikah. Kecil dahulu, ia selalu bangun lebih pagi dari siapa pun hanya untuk menemani ibunya mencuci beras di sumur belakang rumah. “Ibu bilang, memasak nasi kuning itu seperti merawat bayi. Harus sabar, santannya disiram sedikit demi sedikit, jangan buru-buru,” kenangnya sambil tersenyum tipis, matanya sesaat berkaca-kaca.
Dari sang ibu pula ia mewarisi satu prinsip yang tak pernah dilanggar: warna kuning harus lahir dari kunyit asli, bukan pewarna buatan. “Kalau pakai pewarna, rasanya bohong. Masakan itu seperti hati, tidak boleh setengah-setengah,” tuturnya tegas. Nilai sederhana itulah yang kini ia teruskan kepada anak-anak dan cucunya, satu sendok kayu demi satu sendok kayu.
Rahasia di Balik Warna Emas dan Renyahnya Ayam
Di balik layar, proses menghadirkan seporsi nasi kuning yang sempurna ternyata menuntut kesabaran luar biasa. Beras dicuci hingga airnya bening, lalu dimasak bersama santan, kunyit, jahe, daun salam, dan serai hingga bumbu menyusup ke setiap butir. Setelah matang, nasi dikukus ulang agar teksturnya semakin pulen dan wanginya melekat kuat di lidah.
Ayamnya pun tidak disiapkan sembarangan. Potongan ayam kampung direndam semalaman dalam rempah halus berisi kemiri, ketumbar, lengkuas, dan bawang putih, kemudian direbus sampai bumbu meresap hingga ke tulang. Baru setelah itu ayam digoreng dalam minyak panas bersama adonan tepung hingga muncul kremesan yang renyah bergemerisik. “Kremesannya itu jiwanya. Kalau kurang, pelanggan pasti protes,” kata Sri sambil tertawa, suaranya riang di antara gemuruh minyak panas.
Tak jarang ia berdiri di dapur lebih dari enam jam sehari. Punggungnya sering pegal, tangannya lecet kena percikan minyak. Namun bagi Sri, lelah itu bukan beban, melainkan bagian dari perjuangan yang ia jalani dengan sukarela. Cukup melihat wajah orang-orang menikmati masakannya, semua rasa capek itu seolah lenyap ditelan udara pagi.
Tumpeng, Doa, dan Air Mata
Momen paling mengharukan dalam hidup Sri terjadi dua tahun silam, ketika anak sulungnya berhasil menuntaskan pendidikan sarjana meski keluarga sempat dilanda kesulitan ekonomi. Malam sebelum wisuda, ia memilih membuat tumpeng nasi kuning sendiri dan menolak tawanan pesanan dari luar. “Tumpeng itu doa saya. Setiap butir nasinya saya bentuk dengan tangan sendiri, sambil berdoa agar anak saya jadi manusia yang berguna,” ungkapnya, suaranya nyaris pecah.
Ketika tumpeng itu akhirnya dipotong di ruang tamu kecil, air mata jatuh membasahi pipi sang ibu. Anaknya memeluknya erat-erat dan berbisik bahwa aroma nasi kuning buatan ibu adalah rumah baginya. Detik itu pula Sri sadar, masakan sederhana yang ia wariskan ternyata telah menjadi simpul yang mengikat seluruh keluarga, melintasi jarak dan waktu.
Kini cucu-cucunya mulai berani berdiri di sampingnya, menonton santan mendidih pelan di atas tungku. Sri hanya tersenyum setiap kali mereka bertanya kapan boleh mencoba. “Sabar dulu, nanti ibu ajari. Yang penting hatinya dulu yang kuning, baru nasinya,” katanya sambil gurau, lalu mengusap kepala cucunya dengan lembut.
Senja tiba, tungku perlahan padam. Aroma kunyit dan santan masih tertinggal di udara, bagai jejak kasih yang tak mudah hilang. Selama tangan Sri masih kuat mengaduk, kisah tentang mimpi, bangkit, dan syukur akan terus dimasak ulang di dapur mungil itu—hangat, sederhana, dan menyentuh hati siapa pun yang sempat merasakannya.
Comments (0)