Aug 26, 2026
entertainment

Di Balik Wajah Tenang: Perjalanan Panjang Seorang Perempuan Menerima Diri Sendiri

Pagi belum sepenuhnya menyapa ketika Larasati Paramita sudah duduk di beranda sempit rumah kayunya. Uap teh melambung pelan dari cangkir keramik, menembus udara yang masih dingin pukul lima. Di sudut ...

Di Balik Wajah Tenang: Perjalanan Panjang Seorang Perempuan Menerima Diri Sendiri

Pagi belum sepenuhnya menyapa ketika Larasati Paramita sudah duduk di beranda sempit rumah kayunya. Uap teh melambung pelan dari cangkir keramik, menembus udara yang masih dingin pukul lima. Di sudut ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, hanya terdengar kicau burung dan bunyi halus benang wol yang ditarik perlahan. Tidak ada notifikasi. Tidak ada tenggat. Hanya ada seorang perempuan berusia 34 tahun yang sedang belajar satu hal paling sulit dalam hidupnya: menjadi teman bagi dirinya sendiri.

Ketika Dunia Bergerak Terlalu Cepat

Tak seorang pun menduga bahwa ketenangan yang tampak hari ini lahir dari luka yang dalam. Sepuluh tahun terakhir, Larasati kerap mengisahkan hidupnya sebagai lomba lari tanpa garis finis. Ia bangun pukul empat pagi, menempuh perjalanan dua jam menuju kantor, pulang melewati tengah malam, lalu mengulanginya esok hari. Promosi datang satu demi satu. Namanya tercatat sebagai karyawan berprestasi. Namun di balik layar semua pencapaian itu, ada rongga kosong yang tak pernah terisi.

“Aku punya hampir semua yang orang lain impikan,” ujarnya, suaranya serak mengenang masa lalu. “Tapi setiap malam aku bertanya-tanya, untuk siapa semua ini? Aku merasa seperti orang asing dalam hidupku sendiri.”

Puncaknya datang pada suatu sore di bulan November. Tubuh Larasati gemetar, napasnya tersengal setelah berbulan-bulan kurang tidur dan tekanan kerja yang memuncak. Dokter menjatuhkan diagnosis: kelelahan berat akibat stres berkepanjangan. Pada usia 32 tahun, ia dipaksa berhenti dari segalanya. Air mata yang jatuh saat itu bukan sekadar lelah—itu tangisan seseorang yang baru sadar telah lama meninggalkan dirinya sendiri.

Momen Kecil yang Perlahan Menyembuhkan

Perjalanan pulang dimulai dengan langkah paling sederhana. Larasati kembali ke rumah ibunya di lereng gunung, membawa sekoper pakaian dan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Hari-hari awal terasa asing. Tanpa deru kota, ia justru merasa gelisah, seperti kehilangan arah. Namun ibunya tidak berkata apa-apa. Setiap pagi, perempuan tua itu hanya menyodorkan secangkir teh hangat dan mengajaknya duduk bersama di beranda.

Dari sanalah semuanya bergeser. Larasati mulai belajar merajut kembali—keterampilan yang dulu diajarkan neneknya saat masih kecil. Ia mencatat tiga hal yang membuatnya bersyukur setiap malam. Ia belajar berjalan santai tanpa tujuan, menyiram tanaman, dan mendengarkan hujan tanpa merasa bersalah atas waktu yang dianggap “terbuang”. Perlahan, momen-momen kecil itu menjadi obat yang tak tergantikan.

“Ketenangan ternyata bukan sesuatu yang kita cari di ujung sana. Ia adalah pilihan yang kita ambil setiap hari, bahkan saat dunia menuntut kita untuk terus berpacu.”

Momen mengharukan datang di musim panas tahun lalu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Larasati tertawa lepas bersama para tetangga saat panen raya di desa. Sesampainya di kamar, air matanya kembali jatuh—kali ini karena rasa bahagia. “Aku baru sadar, sudah lama sekali aku tidak tertawa seperti itu. Tertawa tanpa beban, tanpa hitung-hitungan,” katanya dengan mata berbinar.

Pulang kepada Diri Sendiri

Kini, kisah Larasati menjadi inspirasi bagi banyak perempuan. Dari beranda sederhananya, ia membuka kelas merajut gratis setiap akhir pekan. Para peserta datang bukan sekadar belajar menyelesaikan sebuah syal, melainkan berbagi cerita-cerita yang menyentuh hati, saling menguatkan, dan belajar berdamai dengan diri sendiri. Beberapa di antara mereka datang dengan luka yang sama seperti yang dulu ia alami.

Larasati percaya, masyarakat modern terlalu sering menyamakan nilai diri dengan produktivitas. Padahal, kata dia, memilih berhenti sejenak bukanlah kemunduran, melainkan bentuk keberanian yang jarang diakui. Berjuang untuk diri sendiri, menurutnya, sama pentingnya dengan berjuang demi mimpi besar mana pun.

“Dulu aku pikir bangkit berarti harus kembali menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. Ternyata bangkit berarti berhak menjadi versi diriku yang lebih lembut, lebih jujur, dan lebih utuh.”

Matahari mulai naik, menyelimuti beranda dengan cahaya keemasan. Larasati menyelesaikan barisan rajutan terakhirnya, lalu menyeruput teh yang tinggal separuh. Tidak ada yang luar biasa dari pagi ini—dan justru itulah yang membuatnya begitu berharga. Di tempat yang sunyi ini, ia menemukan hal yang selama ini dicarinya ke mana-mana: kedamaian yang lahir dari kesediaan untuk hadir, tenang, kalem, dan sepenuhnya menjadi diri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User