Aug 26, 2026
entertainment

Di Balik Penangkapan Narkoba: Air Mata, Penyesalan, dan Jalan Bangkit

Sore itu hujan baru saja reda. Di beranda sebuah rumah rehabilitasi di pinggiran kota, Dimas (bukan nama sebenarnya) duduk memeluk lutut, menatap genangan air yang memantulkan cahaya senja. Pemuda ber...

Di Balik Penangkapan Narkoba: Air Mata, Penyesalan, dan Jalan Bangkit

Sore itu hujan baru saja reda. Di beranda sebuah rumah rehabilitasi di pinggiran kota, Dimas (bukan nama sebenarnya) duduk memeluk lutut, menatap genangan air yang memantulkan cahaya senja. Pemuda berusia 27 tahun itu tengah merayakan sesuatu yang bagi orang lain tampak biasa: hari ke-500 tanpa kembali kepada narkoba.

“Setiap hari adalah pertarungan. Tapi hari ini, aku masih di sini. Itu sudah kemenangan,” katanya dengan suara pelan, disertai senyum tipis yang menyimpan ribuan cerita.

Malam yang Meruntuhkan Segalanya

Perjalanan Dimas menuju titik gelap dimulai dari hal yang sederhana. Anak dari keluarga biasa, ia tumbuh menjadi pemuda ramah yang bercita-cita menjadi desainer grafis. Namun pergaulan di usia kuliah membawanya pada pil dan sabu yang awalnya ditawarkan sebagai pelarian dari tekanan. Yang tidak ia duga, pelarian itu perlahan berubah menjadi jerat yang mengikat rapat.

Dua tahun berjalan dalam kabut. Uang kuliah habis, hubungan dengan keluarga retak, dan tubuhnya semakin kurus. Hingga suatu malam, ketika ia hendak membeli barang lagi, petugas menahannya. Momen itu, kata Dimas, adalah momen mengharukan sekaligus titik balik hidupnya.

“Aku ingat wajah ibuku waktu menjemputku di kantor polisi. Dia tidak marah. Dia hanya memelukku dan menangis. Malam itu aku bersumpah, aku tidak mau melihat air mata dia lagi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Di Balik Layar Ruang Rehabilitasi

Proses pemulihan tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Di balik layar, Dimas berjuang melalui masa-masa sulit: gejala sakau di pekan-pekan awal, rasa malu yang menusuk, serta godaan untuk menyerah. Terapi rutin, pendampingan psikolog, dan dukungan sesama penghuni rehabilitasi menjadi tali penyelamatnya.

Ia belajar mengenali dirinya kembali — menemukan bahwa di balik label seorang tersangka, ada manusia dengan mimpi yang sempat hilang. Pelan-pelan, ia menggambar lagi. Sketsa yang dahulu hanya menjadi pelarian kini menjadi jalan pulang menuju cita-citanya.

Hari-harinya diisi rutinitas sederhana yang dulu luput: sarapan bersama, merapikan kamarnya sendiri, dan menulis jurnal setiap malam. Hal-hal kecil itulah, menurutnya, fondasi bagi seorang manusia yang ingin bangkit.

“Yang paling menyentuh adalah saat keluarga mulai mempercayaku lagi. Ayahku, yang dulu berbulan-bulan tidak mau bicara padaku, akhirnya membelikan kuas baru. Aku menangis seperti anak kecil,” kenangnya.

Bangkit dan Menyapa Dunia

Kini Dimas aktif berbagi kisahnya di berbagai komunitas pemulihan. Ia percaya setiap orang yang pernah jatuh layak memperoleh kesempatan kedua. Baginya, penangkapan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju perbaikan — meski pintu itu terasa sangat berat untuk didorong.

Stigma sosial, tambahnya, kerap menjadi tembok yang lebih tinggi daripada masa sakau itu sendiri. Banyak sahabat pemulihannya gagal bertahan bukan karena narkoba, melainkan karena lingkungan menolak memberi ruang untuk berubah. Karena itu, ia mengajak masyarakat melampaui label dan melihat perjuangan di baliknya.

Kisah Dimas adalah potret kecil dari ribuan cerita serupa di berbagai penjuru negeri. Di balik setiap ilustrasi penangkapan kasus narkoba yang kita lihat, ada keluarga yang berdoa, seorang ibu yang menahan tangis, dan individu yang gigih berjuang bangkit dari jurang kehancuran.

Pemulihan memang bukan garis lurus. Ada hari-hari ketika godaan datang begitu saja. Namun Dimas memilih terus melangkah, satu hari demi satu hari, dengan pegangan sederhana: hidup jauh lebih berharga daripada sekadar bertahan.

“Kalau aku bisa bangkit, siapa pun bisa. Jangan pernah berhenti mencoba. Dan bagi kalian yang keluarganya sedang berjuang, jangan tinggalkan mereka. Kehadiran kalian adalah harapan mereka,” pesan Dimas.

Senja telah berganti malam ketika percakapan itu usai. Dimas kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan cangkir teh yang telah kosong. Di dadanya kini tersimpan keyakinan yang tak pernah ia miliki sebelumnya: bahwa setelah badai terburuk, matahari tetap akan terbit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User