Aug 26, 2026
entertainment

Iwan Fals Bawa Kisah Empat Dekade dalam Malam Xtraordinary SCTV

Senja belum sepenuhnya turun ketika lampu-lampu Studio Emtek City di Jakarta mulai diredupkan, Senin (24/8). Di balik tirai panggung, sebuah sosok berdiri tenang, menggenggam gitar yang telah menemani...

Iwan Fals Bawa Kisah Empat Dekade dalam Malam Xtraordinary SCTV

Senja belum sepenuhnya turun ketika lampu-lampu Studio Emtek City di Jakarta mulai diredupkan, Senin (24/8). Di balik tirai panggung, sebuah sosok berdiri tenang, menggenggam gitar yang telah menemaninya selama lebih dari empat puluh tahun. Ketika cahaya sorot akhirnya jatuh tepat di tubuhnya, ribuan penonton serentak berdiri dan meneriakkan nama yang sudah mereka kagumi sejak masa muda: Iwan Fals.

Malam itu merupakan bagian dari rangkaian perayaan hari ulang tahun ke-36 stasiun televisi SCTV bertajuk Xtraordinary. Namun bagi banyak orang di ruangan itu, acara tersebut terasa lebih dari sekadar hiburan ulang tahun. Ia menjadi titik temu dua generasi—mereka yang tumbuh bersama lagu-lagu Iwan di era pita kaset, dan anak-anak muda yang baru mengenalnya lewat layar genggam.

Perjalanan Panjang Penyanyi Rakyat

Tidak banyak artis Indonesia yang mampu bertahan selama itu di atas panggung. Perjalanan Iwan Fals dimulai pada akhir era 1970-an, ketika ia masih remaja yang bermain musik di gang-gang Jakarta. Dari panggung-panggung kecil itulah lahir lagu-lagu yang kemudian menjadi suara hati masyarakat kecil: tentang buruh, petani, pengemudi angkot, hingga ibu-ibu yang berjuang diam-diam demi keluarganya.

Selama lebih dari empat dekade, Iwan tak pernah berhenti menulis. Ia mengisahkan negeri ini apa adanya—dengan luka, harapan, dan tawa. Karyanya melintasi zaman tanpa kehilangan makna. Lagu seperti Bento, Orang Biasa, dan Yang Terlupakan kini tetap dinyanyikan anak-anak muda, sebagaimana orang tuanya dahulu.

"Aku cuma mau jadi teman bicara buat orang-orang biasa," ungkapnya di sela-sela pertunjukan, membuat ruangan hening sejenak sebelum pecah oleh tepuk tangan panjang.

Malam Penuh Air Mata dan Kenangan

Ketika alunan pembuka mengalun, suasana studio seketika berubah. Sebagian penonton terlihat mengusap air mata saat lagu-lagu lamanya dibawakan. Ada yang memeluk ayah atau ibunya, ada pula yang hanya terdiam, menikmati setiap bait lirik yang begitu akrab di telinga.

Momen mengharukan hadir ketika Iwan menyampaikan rasa syukurnya. Dengan nada pelan dan sederhana, ia mengaku bahwa setiap panggung adalah hadiah, dan setiap penonton adalah keluarga. Usianya yang semakin senja tak pernah ia keluhkan; justru ia menyebutnya sebagai kekayaan.

"Umur boleh bertambah, tapi kalau masih bisa main musik dan disayangi orang-orang, aku sudah kaya," katanya disambut sorak hangat dari seluruh penjuru studio.

Ia juga sempat membuka lembaran kenangan tentang masa-masa sulitnya, ketika industri musik berubah drastis dan banyak rekannya memilih mundur. Ia memilih tetap berdiri, karena bagi dirinya, berhenti bernyanyi sama saja dengan berhenti hidup. Di belakang layar, tim musik yang menemani malam itu pun mengisahkan dedikasi serupa—mereka berlatih berhari-hari agar setiap nada terdengar sempurna bagi para pencinta yang datang membawa kerinduan.

Inspirasi untuk Anak Muda

Di tengah keseriusan malam itu, Iwan tak lupa menyapa generasi muda yang memadati area depan panggung. Ia berpesan agar anak-anak muda tidak takut bermimpi dan terus berkarya dengan caranya sendiri, sekecil apa pun langkah awalnya.

"Kalian punya suara sendiri. Jangan tiru siapa-siapa. Tulis apa yang kalian lihat, rasakan apa yang kalian rasakan," tuturnya, disambut tepuk tangan meriah dari para musisi muda yang hadir.

Pesan itu terasa personal bagi banyak penonton. Beberapa di antaranya mengaku datang bukan hanya untuk menonton pertunjukan, tetapi untuk mencari semangat kembali setelah lelah dengan rutinitas. Bagi mereka, kehadiran sang legenda di atas panggung adalah pengingat bahwa mimpi sederhana tetap layak diperjuangkan.

Malam berakhir dengan lagu penutup yang dinyanyikan bersama-sama, satu suara dari ribuan orang yang berbeda-beda cerita hidupnya. Lampu panggung padam, penonton perlahan meninggalkan studio, namun hangatnya malam itu tampaknya akan lama tersimpan di ingatan mereka.

Untuk SCTV yang genap 36 tahun, kehadiran Iwan Fals menjadi hadiah istimewa. Dan bagi sang maestro, malam itu sekali lagi membuktikan bahwa lagu-lagunya tidak pernah tua—ia hanya menunggu untuk dinyanyikan lagi, oleh siapa pun, di zaman kapan pun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User