Aug 26, 2026
entertainment

Deg-degan Bernyanyi Live: Kisah Febby Rastanty dan Rangga Azof

Lampu-lampu backstage baru saja diredupkan ketika Febby Rastanty menutup matanya sejenak. Di sudut ruangan sempit itu ia memeluk mikrofon erat-erat, seperti orang mencari pegangan di tengah badai. Mal...

Deg-degan Bernyanyi Live: Kisah Febby Rastanty dan Rangga Azof

Lampu-lampu backstage baru saja diredupkan ketika Febby Rastanty menutup matanya sejenak. Di sudut ruangan sempit itu ia memeluk mikrofon erat-erat, seperti orang mencari pegangan di tengah badai. Malam itu bukan sekadar malam biasa bagi keluarga besar televisi—stasiun yang telah menghidupi layar kaca Indonesia sedang merayakan hari jadinya yang ke-36, dan Febby dipercaya tampil bernyanyi secara langsung di hadapan ribuan mata yang menatapnya.

Bagi perempuan yang kariernya dibangun di depan kamera sinema elektronik, momen ini terasa berbeda. Berakting punya jalur aman: ada naskah, ada pengambilan ulang, ada sutradara yang siap membimbing. Tetapi bernyanyi langsung? Semua bergantung pada satu tarikan napas dan keberanian yang harus dikumpulkan dalam hitungan detik.

Nama Febby telah lama melekat di hati penonton lewat berbagai judul drama layar kaca. Begitu pula Rangga Azof, yang perjalanan di dunia hiburan dimulai dari langkah-langkah kecil penuh tekun. Malam itu, keduanya memilih memberikan hadiah berbeda untuk rumah yang tumbuh bersama karier mereka.

“Aku biasa berakting, tapi pas nyanyi live deg-degan banget. Rasanya kayak semua mata dunia lagi nungguin satu suara dari mulutku,” ungkap Febby dengan senyum canggung yang tak mampu menyembunyikan getarannya.

Ketika Kamera Berganti Jadi Panggung

Rasa gugup yang sama juga menghinggapi Rangga Azof. Pemeran muda yang kerap tampak percaya diri di depan kamera itu mengakui bahwa panggung musik punya bahasa tersendiri yang tidak bisa dibohongi. “Kalau akting, kita boleh ambil waktu buat masuk ke karakter. Kalau nyanyi, begitu musik mulai, kamu harus langsung ada di sana. Nggak ada jeda, nggak ada cut,” cerita Rangga saat mengisahkan pengalamannya.

Malam perayaan tersebut juga menampilkan Celia Thomas dan Rendi Jhon yang turut membawakan penampilan musik. Keempatnya membawa kisah pribadi masing-masing ke atas panggung—tentang mimpi yang dulu hanya mereka bisikkan sendiri, tentang perjalanan panjang dari kelas akting menuju sorotan lampu panggung.

Berjuang Diam-diam di Balik Layar

Apa yang ditonton publik selama beberapa menit itu sesungguhnya lahir dari proses yang jauh lebih sederhana namun menyentuh. Di balik layar, Febby dan Rangga rela meluangkan waktu istirahat syuting untuk berlatih vokal. Jam-jam yang biasanya dipakai untuk tidur diganti dengan latihan tarik napas, mengulang nada, sampai tenggorokan serak.

“Ada rasa takutnya, tapi aku nggak mau nyerah sebelum coba. Ini bagian dari mimpi yang pengin aku kejar,” kata Febby. Kalimat sederhana itu seolah merangkum semangat yang membuatnya bangkit setiap kali ragu datang mengunjungi.

Rangga menambahkan bahwa dukungan rekan-rekannya menjadi bahan bakar terbesar. “Waktu latihan bareng, kami saling ingetin kalau gugup itu wajar. Yang penting kita tampil sepenuh hati,” ujarnya. Celia Thomas dan Rendi Jhon pun menjalani persiapan serupa, saling berbagi tips dan saling menguatkan hingga gugup tak lagi menjadi musuh, melainkan teman menemani sebelum naik panggung.

Tepuk Tangan yang Melunturkan Gugup

Ketika akhirnya giliran mereka tiba, segala kekhawatiran perlahan larut oleh tepuk tangan penonton. Suara yang tadinya gemetar kini mengalir lebih tenang. Di beberapa sudut ruangan, ada yang terharu hingga air mata mengambang—menyaksikan para aktor yang biasa mereka kenal lewat layar kini berani keluar dari zona nyaman demi penampilan yang jujur.

Momen mengharukan itu tidak hanya soal lagu yang dibawakan, melainkan tentang keberanian yang mampu menjadi inspirasi. Tentang manusia-manusia yang memilih berjuang meski tangan masih gemetar, yang memilih tampil meski hati masih berdebar keras.

Malam itu, SCTV resmi menambah satu tahun usia. Tetapi bagi Febby, Rangga, Celia, dan Rendi, yang bertambah bukan hanya angka—melainkan satu bab kisah hidup yang akan mereka kenang lama. Bukti bahwa mimpi layak diperjuangkan, walau harus dimulai dari rasa deg-degan yang paling sederhana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User