Antiklimaks: Debut Hambar Smashing Pumpkins di Indonesia

Di sudut lapangan Carnaval Beach, Ancol, Raka berdiri mematung. Matanya menerawang ke panggung yang baru saja ditinggalkan oleh empat sosok yang telah ia idolakan sejak remaja. Hujan rintik-rintik yan...

Jul 13, 2026 - 11:33
0 0

Di sudut lapangan Carnaval Beach, Ancol, Raka berdiri mematung. Matanya menerawang ke panggung yang baru saja ditinggalkan oleh empat sosok yang telah ia idolakan sejak remaja. Hujan rintik-rintik yang turun sejak sore tidak lagi ia pedulikan. Tangannya masih menggenggam sobekan tiket Java Rockin'land 2010 yang basah. "Saya seperti mengejar bayangan," bisiknya lirih. Ribuan kilometer jarak emosional yang ia tempuh dari kota kecil di Jawa Tengah hanya untuk menyaksikan satu nama: The Smashing Pumpkins. Namun malam itu, pertemuan yang diimpikan selama lebih dari satu dekade berubah menjadi antiklimaks yang menyisakan tanya.

Malam itu adalah puncak dari perjalanan panjang Raka. Sejak album Mellon Collie and the Infinite Sadness menyelinap ke dalam kamar kosnya melalui kaset bajakan pada pertengahan 90-an, ia bersumpah suatu hari akan berdiri di barisan depan konser Billy Corgan dan kawan-kawan. Lagu-lagu seperti "Tonight, Tonight" menjadi kawan dikala sepi, "1979" jadi saksi bisu pencarian jati dirinya. Maka, ketika pengumuman bahwa The Smashing Pumpkins akan tampil di Jakarta muncul setahun sebelumnya, Raka adalah salah satu yang pertama memborong tiket. "Saya menabung berbulan-bulan," ceritanya sambil tersenyum getir. Bekerja lembur sebagai desainer grafis di percetakan kecil, setiap rupiah ia sisihkan untuk transportasi, penginapan, dan tentunya, tiket festival yang harganya tidak murah bagi kantong seorang pekerja serabutan.

Ribuan Mil untuk Sebuah Antiklimaks

Setibanya di area festival, Raka disambut oleh gegap gempita ribuan penonton lain yang juga haus akan nostalgia. Band-band pembuka memberikan energi yang cukup untuk menghangatkan malam. Namun, hujan yang tak kunjung reda perlahan menggerogoti suasana. Raka, yang sudah berdiri sejak pukul tiga sore demi mendapatkan posisi terdepan, mulai merasa lelah dan basah kuyup. Tak apa, pikirnya, semua akan terbayar begitu Billy Corgan memetik gitar pertama.

Pukul sembilan malam, momen itu tiba. Lampu panggung meredup. Sorakan menggema. Dan di sanalah mereka: Billy Corgan dengan rambut plontos dan jaket kulit hitamnya, diikuti oleh anggota lain yang—sebagian penonton baru sadar—bukanlah formasi asli. Tidak ada D'arcy, tidak ada James Iha. Namun Raka menepis keraguan itu. Yang penting musiknya, batinnya. Tetapi begitu intro "Ava Adore" dimainkan, sesuatu terasa janggal. Vokal Corgan terdengar malas, seolah ia sedang latihan di ruang bawah tanah, bukan untuk ribuan penggemar yang telah merindukannya selama bertahun-tahun.

"Suaranya seperti orang bangun tidur," keluh seorang penonton di samping Raka. Setlist yang diharapkan penuh dengan lagu-lagu hit justru didominasi oleh materi baru dari album Zeitgeist yang belum banyak dikenal. Ketika akhirnya "Tonight, Tonight" dimainkan, aransemennya terasa hambar—tanpa string section yang megah, tanpa koor yang membangun emosi. "Ini bukan Smashing Pumpkins yang saya kenal," gumam Raka putus asa.

Di Balik Panggung yang Sunyi

Tidak hanya penampilan yang mengecewakan, interaksi Corgan dengan penonton pun nyaris nihil. Ia hampir tidak berbicara, tidak melempar senyum, apalagi menunjukkan rasa terima kasih karena Indonesia akhirnya masuk dalam peta tur mereka. Beberapa kali ia terlihat berbisik ke teknisi suara, mungkin mengeluh tentang monitor panggung atau peralatan yang dianggap tidak memadai. Spekulasi pun bermunculan: ada yang mengatakan monitor Corgan bermasalah, ada yang menduga ia kelelahan setelah perjalanan panjang dari Australia, bahkan ada yang menyebarkan rumor bahwa ia marah karena penonton tidak cukup antusias—meski kenyataannya penonton sudah memberikan segalanya meski diguyur hujan.

Yang menambah rasa kecewa adalah durasi penampilan yang terasa singkat. Hanya sekitar 75 menit, tanpa encore. Setelah membawakan lagu penutup "Cherub Rock", Billy Corgan meletakkan gitarnya dan berjalan ke belakang panggung tanpa sepatah kata. Lampu kembali menyala. Beberapa penonton bersiul, bukan karena puas, melainkan kecewa.

Bagi Raka, momen ini bukan sekadar pertunjukan yang buruk. Ini adalah runtuhnya sebuah altar yang ia bangun selama bertahun-tahun. "Saya datang membawa mimpi, pulang membawa luka," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat masa-masa SMP ketika ia menyalin lirik "Disarm" ke buku harian, ketika ia bertengkar dengan teman yang bilang Smashing Pumpkins band cemen, ketika ia bermimpi suatu hari nanti akan membawa anaknya menonton band ini.

Mimpi yang Tak Terwujud

Mungkin ini adalah risiko dari bertemu dengan pahlawan. Ekspektasi yang terlalu tinggi seringkali berujung kecewa. Namun dalam kasus The Smashing Pumpkins di Java Rockin'land 2010, bukan hanya ekspektasi yang tidak terpenuhi—ada semacam pengabaian yang tidak bisa dijelaskan. Bagaimana mungkin sebuah band legendaris, yang datang ke negara yang sudah lama menanti, memberikan pertunjukan seperti sekadar menjalankan kewajiban?

Di media sosial, yang saat itu baru diramaikan oleh Facebook dan Twitter, keluhan serupa mulai bermunculan. Banyak yang menyayangkan kurangnya effort, minimnya hits lawas, dan dinginnya atmosfer yang tercipta. Beberapa pembela berargumen bahwa Corgan adalah seniman yang perfeksionis dan mungkin memang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Namun bagi ribuan seperti Raka, alasan itu tidak cukup untuk menutupi kekecewaan yang begitu dalam.

Kini, bertahun-tahun setelah malam itu, Raka masih menyimpan tiket dan patahan pick gitar yang sempat ia dapatkan dari seorang roadie. Benda-benda itu tidak lagi memancarkan aura magis, melainkan menjadi pengingat bahwa terkadang, jarak antara ekspektasi dan realitas selebar lautan yang tidak bisa diseberangi. "Saya tetap mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi perasaan itu sudah berbeda. Seperti mengingat mantan yang pernah mengecewakan," candanya menutup kisah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User