Anggur: Si Manis Penjaga Tubuh yang Terlupakan
Di halaman belakang rumahnya yang mungil di kawasan Malang, Nurhayati (62) mengusap lembar-lembar daun anggur yang mulai merambati tiang bambu. Jemarinya yang sudah keriput begitu telaten memetik buli...
Di halaman belakang rumahnya yang mungil di kawasan Malang, Nurhayati (62) mengusap lembar-lembar daun anggur yang mulai merambati tiang bambu. Jemarinya yang sudah keriput begitu telaten memetik bulir-bulir ungu yang ranum, memasukkannya ke dalam keranjang anyaman. Sore itu, senja jingga menyapu wajahnya yang berseri. “Dulu saya hanya menanamnya buat peneduh,” katanya lirih, setengah tersenyum. Tak pernah terbayang olehnya, tanaman merambat yang semula sekadar penghias pekarangan itu kelak menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya yang baru.
Anggur, dengan warna-warninya yang menawan — hijau segar, merah keunguan, hingga hitam pekat — memang sejak lama dikenal sebagai buah meja istimewa. Rasanya yang manis bercampur asam menyimpan lebih dari sekadar kesegaran. Namun bagi Nurhayati, ia adalah titik balik yang menyelamatkan tubuhnya dari deraan penyakit metabolik yang sempat membuatnya putus asa.
Baca juga:
Comments (0)