Di lobi gedung Bareskrim Polri, seorang perempuan paruh baya berdiri tegap meski raut wajahnya menyimpan lelah yang tak bisa disembunyikan. Daisy Fajarina, ibunda dari Manohara Odelia Pinot, mengisahkan perjalanan panjang yang membawanya kembali ke Jakarta. Kali ini bukan untuk urusan hiburan, melainkan untuk memperjuangkan rasa keadilan yang menurutnya telah lama terenggut.
Ia datang bukan dengan tangan kosong. Berkas-berkas tebal ia bawa, berisi catatan peristiwa yang ia yakini sebagai bentuk intimidasi dan tekanan terhadap dirinya. "Saya hanya ingin hidup tenang, tapi mereka terus meneror saya," ujarnya lirih, matanya berkaca-kaca saat berbicara kepada awak media.
Bagi Daisy, langkah ini adalah puncak dari kesabarannya yang telah diuji bertahun-tahun. Ia mengaku sempat berpikir dua kali sebelum melapor. Namun, ia sadar bahwa diam hanya akan membuat situasi semakin sulit. "Saya ini ibu. Saya harus melindungi anak saya, meski saya sendiri sudah lelah," tambahnya, suaranya bergetar.
Perjalanan Panjang yang Tak Selesai
Kisah Daisy memang tak pernah benar-benar usai. Setelah polemik rumah tangga anaknya yang menyita perhatian nasional lebih dari satu dekade lalu, ia terus berjuang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari perlindungan, dan mencoba membangun kembali hidupnya. Di balik layar, ia mengaku kerap menerima ancaman, baik melalui pesan singkat maupun teror yang menyasar ketenangan batinnya.
"Setiap kali saya mau bangkit, ada saja yang menjatuhkan. Saya capek, tapi saya tidak boleh menyerah," ujarnya sembari mengusap air mata yang jatuh di pipi.
Ia menyebut, dalam beberapa bulan terakhir, tekanan itu kian membesar. Ia merasa diikuti, diperhatikan, dan dibuat tak nyaman. "Bukan sekali dua kali. Ini sudah sangat mengganggu," katanya.
Laporan yang ia serahkan ke Bareskrim mencakup dugaan premanisme, intimidasi, hingga upaya pengerahan massa untuk menakut-nakuti dirinya. Ia berharap aparat bisa menindaklanjuti tanpa pandang bulu, karena ia yakin laporan ini bukan sekadar perkara pribadi.
"Saya ingin keadilan itu ada. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Saya sudah tidak muda, tapi saya masih punya keberanian."
Keberanian yang Lahir dari Rasa Sayang
Di balik ketegarannya, Daisy mengaku bahwa keberaniannya lahir dari cinta seorang ibu. Ia tak ingin masa depannya dan anaknya terus dibayangi rasa takut. Karena itu, ia memilih jalur hukum, walaupun ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah.
"Saya tidak mencari simpati. Saya hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya hak," katanya tegas.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi perempuan dan ibu yang berjuang sendirian. Menurutnya, banyak perempuan di luar sana yang mengalami hal serupa, tapi memilih bungkam karena takut. "Kalau saya diam, mereka semakin berani. Kalau saya bicara, setidaknya ada harapan," ujarnya.
Setibanya di Bareskrim, Daisy disambut petugas yang menerima berkas laporannya. Ia berharap proses ini berjalan transparan. "Saya percaya ada orang-orang baik di kepolisian yang mau mendengar," ucapnya dengan nada berharap.
Mimpi Kecil Seorang Ibu
Di akhir wawancara, Daisy tersenyum tipis. Ia mengaku tidak bermimpi muluk. Ia hanya ingin bisa tidur tenang tanpa rasa cemas, dan melihat anaknya hidup bahagia. "Mimpi saya sederhana: damai," katanya.
Kisah Daisy Fajarina adalah potret perjuangan seorang ibu yang memilih berdiri di tengah badai. Ia bukan sosok sempurna, tapi ia adalah gambaran nyata dari keberanian yang lahir dari luka. Di sudut hatinya, ada harapan bahwa keadilan bukan sekadar kata, melainkan kenyataan yang bisa dipeluk.
"Selama saya masih bisa berdiri, saya akan terus bersuara," pungkasnya, lalu berjalan perlahan meninggalkan gedung, membawa sisa tenaga dan sejuta doa yang tak pernah putus.
Comments (0)