Di sebuah studio foto di kawasan Gangnam, Seoul, lampu sorot menyala terang. Seorang pria muda berdiri tegak dengan setelan hitam rapi, tangannya terlipat di depan dada. Di pergelangan tangannya, sebuah jam tangan mewah berkilauan tertimpa cahaya. Pria itu adalah Lay, salah satu penari dan penyanyi paling dikenal dari grup K-pop EXO. Momen itu bukan sekadar sesi pemotretan biasa. Ia menandai sebuah perjalanan baru: Lay resmi dipercaya sebagai wajah dari merek jam tangan mewah asal Swiss, Hublot.
Bagi banyak penggemar, kabar ini terasa seperti puncak dari mimpi yang tumbuh perlahan. Lay bukanlah nama yang tiba-tiba muncul di panggung industri hiburan. Ia mengisahkan perjalanan panjang sejak masa trainee, ketika ia harus bersaing dengan ratusan anak muda lain untuk mendapatkan tempat di salah satu grup K-pop terbesar di dunia. Air mata, latihan tanpa henti, dan rasa rindu pada keluarga di China menjadi bagian dari kisahnya sebelum ia berdiri di posisi sekarang.
Dari Panggung Konser ke Meja Perancang Jam
Kolaborasi antara seorang idola K-pop dan merek jam tangan mewah mungkin terdengar sederhana di permukaan. Namun di balik layar, proses ini menyentuh sesuatu yang lebih personal. Lay dikenal sebagai sosok yang perfeksionis, baik saat menari maupun ketika tampil di depan kamera. Ia sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk memastikan setiap gerakan dan ekspresi terlihat sempurna. Prinsip itulah yang menarik perhatian tim Hublot.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari laman resmi Hublot, Lay mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan. "Ini bukan hanya tentang jam tangan, tetapi tentang bagaimana kita menghargai waktu," ujarnya dengan mata berbinar. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi mereka yang mengenal perjalanan hidupnya, kata-kata itu memiliki bobot emosional yang dalam. Lay pernah melewati masa-masa sulit ketika ia harus memilih antara mengejar mimpi di Korea atau tetap dekat dengan keluarganya. Waktu, baginya, adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dikembalikan.
Pemotretan terbaru untuk kampanye Hublot memperlihatkan sisi lain dari Lay. Ia tampil dengan kemeja gelap dan tatapan tajam ke arah kamera. Di pergelangan tangannya, jam tangan dengan desain mekanis berlapis emas dan baja itu seolah menjadi simbol kerja keras yang akhirnya berbuah. Bagi penggemar, foto itu bukan hanya gambar iklan. Ia adalah pengingat bahwa anak muda dari sebuah kota kecil di China bisa berdiri sejajar dengan merek mewah yang selama ini identik dengan kalangan elite Eropa.
Momen Mengharukan di Balik Sorotan Kamera
Ada satu momen yang membuat proses ini terasa begitu manusiawi. Menurut cerita yang beredar di kalangan kru, saat jeda pemotretan, Lay sempat duduk sendirian di sudut ruangan. Ia memandangi jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum kecil. Seorang kru bertanya apa yang ia pikirkan. Dengan suara pelan, Lay menjawab bahwa ia teringat masa kecilnya, ketika ayahnya selalu menepati waktu untuk mengantar ia berlatih. "Waktu itu sederhana, tapi sangat berarti," kenangnya.
"Aku tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. Tapi aku tahu, setiap detik yang aku lewati dulu tidak pernah sia-sia."
Kutipan itu menggambarkan bagaimana seorang bintang tidak selalu lahir dari popularitas instan. Lay menempuh jalur yang panjang, penuh luka dan kerja keras. Ia pernah merasa gagal, pernah merasa jauh dari rumah, dan pernah diragukan. Namun ia bangkit. Kini, namanya tercatat sebagai salah satu duta merek Hublot, sebuah pencapaian yang jarang diraih oleh musisi Asia di industri jam tangan mewah Swiss.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah Lay bersama Hublot bukan hanya cerita tentang prestise. Ia menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang bermimpi menembus batas negara dan budaya. Dari panggung konser di berbagai kota besar hingga meja perancang jam di Swiss, perjalanan itu menunjukkan bahwa kerja keras dan ketekunan bisa membuka pintu yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.
Bagi Lay, kerja sama ini mungkin hanyalah satu babak dalam perjalanan panjangnya. Namun bagi mereka yang menyaksikan, babak ini menyentuh hati. Ia mengajarkan bahwa mimpi bisa dimulai dari hal-hal sederhana: latihan di ruang kecil, doa orang tua, dan keyakinan bahwa waktu akan berpihak pada mereka yang tidak pernah berhenti berjuang.
Saat lampu studio akhirnya dimatikan dan Lay melangkah keluar gedung, senyum kecil masih terukir di wajahnya. Di tangannya, jam tangan itu tetap berdetak. Setiap detiknya seolah mengingatkan bahwa kisah besar tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari air mata, kesabaran, dan keberanian untuk terus melangkah.
Comments (0)