Oct 15, 2026
entertainment

Mawar de Jongh dan Perjuangan Menemukan Diri di Film People Pleaser

Di sebuah ruangan yang dipenuhi lampu sorot dan sorak kamera, Mawar de Jongh berdiri dengan senyum tipis. Ia mengenakan blazer warna netral, rambutnya ditata rapi, namun ada getaran berbeda di matanya...

Mawar de Jongh dan Perjuangan Menemukan Diri di Film People Pleaser

Di sebuah ruangan yang dipenuhi lampu sorot dan sorak kamera, Mawar de Jongh berdiri dengan senyum tipis. Ia mengenakan blazer warna netral, rambutnya ditata rapi, namun ada getaran berbeda di matanya. Bukan gugup karena sorotan, melainkan haru karena baru saja ia membuka lembaran paling personal dalam karier aktingnya. Di hadapan puluhan wartawan yang memadati konferensi pers trailer dan poster film People Pleaser di Jakarta, Mawar mengisahkan perjalanan panjang yang mengantarnya ke titik ini.

Di Balik Karakter yang Terlalu Sering Mengalah

Mawar tak sekadar memerankan tokoh fiktif. Ia merasa sedang bercermin pada pengalaman banyak perempuan yang tumbuh dengan label “anak baik”, yang selalu menuruti permintaan orang lain demi menghindari konflik. Film ini, menurutnya, menyentuh luka yang jarang dibicarakan. “Aku pernah berada di posisi itu. Selalu bilang iya walau hati bilang tidak. Rasanya seperti kehilangan suara sendiri,” tuturnya lirih, disambut hening ruangan.

Kisah di balik proyek ini bermula dari pertemuan sederhana antara Mawar dan tim penulis naskah. Mereka duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Senopati, bertukar cerita tentang tekanan sosial yang kerap membuat perempuan merasa bersalah ketika mendahulukan diri sendiri. Dari obrolan itu, lahirlah karakter yang kini ia perjuangkan. “Kami ingin penonton pulang dengan satu pertanyaan: sudahkah kamu mencintai dirimu hari ini?” ujar Mawar penuh makna.

Air Mata di Balik Layar

Proses produksi film ini tidak berjalan mulus. Mawar mengaku sempat kelelahan fisik dan mental. Ada satu adegan di mana karakternya harus menangis di depan cermin, mengakui bahwa selama ini ia hanya hidup untuk menyenangkan orang lain. Adegan itu membutuhkan sebelas kali pengambilan. “Sampai sutradara bilang, ‘sudah, itu yang kita cari.’ Aku langsung terduduk, menangis bukan karena akting, tapi karena lega,” kenangnya.

"Aku belajar bahwa menjadi baik bukan berarti harus selalu mengalah. Kadang, bersikap tegas adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri."

Momen mengharukan juga datang dari para kru. Seorang penata rias yang telah mendampinginya sejak hari pertama syuting ikut menitikkan air mata saat melihat trailer diputar perdana. “Dia bilang, ‘Ini bukan cuma film, ini suara kita.’ Aku merasa perjuangan kami terbayar,” ujar Mawar sambil tersenyum getir.

Mimpi yang Bangkit dari Keraguan

Perjalanan Mawar di industri hiburan tak selalu gemilang. Ia pernah ditolak berkali-kali, dianggap tak cocok membawa karakter yang kuat. Namun, justru dari penolakan itulah ia menemukan kekuatan. “Setiap ‘tidak’ yang aku terima dulu, sekarang terasa seperti batu pijakan. Aku bangkit bukan karena aku sempurna, tapi karena aku tidak berhenti mencoba,” katanya tegas.

Film People Pleaser dijadwalkan tayang pada awal 2027. Poster resmi yang dirilis menampilkan Mawar dengan tatapan kosong di balik senyum palsu, sebuah visual yang sederhana namun menusuk. Ia berharap karya ini menjadi cermin bagi siapa pun yang pernah merasa tak cukup. “Kalau ada satu orang saja yang merasa dimengerti setelah menonton, itu sudah jadi hadiah terindah buat kami,” tutupnya.

Di sudut ruangan, usai konferensi pers berakhir, Mawar menyempatkan diri menghampiri seorang jurnalis muda yang tampak gugup. Ia menyapa ramah, bertanya kabar, lalu memeluknya singkat. Momen kecil itu seolah menegaskan pesan filmnya: bahwa kebaikan sejati tak lahir dari keinginan menyenangkan semua orang, melainkan dari keberanian menjadi diri sendiri. Dan bagi Mawar de Jongh, perjalanan itu baru saja dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User