Di sudut dapur berukuran tak lebih dari 2x3 meter itu, Sariati menggenggam sepotong laos berwarna cokelat muda. Jari-jarinya yang keriput mengelupas kulit tipisnya perlahan, mengirisnya setipis mungkin, lalu melemparkannya ke dalam air mendidih. Uap hangat beraroma pedas dan sedikit getir langsung memenuhi ruangan. "Dulu saya cuma tahu laos buat bumbu rendang," ujarnya sambil tersenyum tipis, Kamis lalu. "Sekarang, setiap pagi, saya minum air rebusannya. Badan rasanya lebih enteng."
Bagi banyak orang, laos atau lengkuas mungkin hanya sekadar pelengkap bumbu masakan. Ia bersembunyi di antara irisan bawang merah, cabai, dan daun jeruk di pasar tradisional. Tak banyak yang menyadari bahwa di balik bentuknya yang keras dan berserat, tersimpan cerita panjang tentang kesehatan, kearifan lokal, dan perjuangan sederhana mereka yang kembali menoleh ke warisan leluhur.
Jejak Rimpang yang Hampir Terlupakan
Di sebuah desa di lereng Merapi, seorang perempuan paruh baya bernama Mbok Warsi mengisahkan bagaimana ia belajar meracik minuman herbal dari ibunya sejak usia belia. Dulu, kata dia, hampir setiap rumah memiliki rimpang laos yang disimpan di atas para-para dapur, dibiarkan mengering agar awet. "Ibu saya bilang, kalau perut kembung atau badan pegal, jangan buru-buru ke dokter. Rebus laos, tambah gula batu, minum selagi hangat," kenangnya, mata berkaca-kaca mengingat sosok ibunya yang telah lama tiada.
Pengetahuan itu nyaris hilang saat generasi muda mulai berpaling pada obat-obatan instan yang lebih praktis. Namun, gelombang kesadaran akan hidup sehat perlahan membawa laos kembali ke permukaan. Kini, di berbagai kota, kedai minuman herbal menjamur, menawarkan racikan laos yang dipadukan dengan jahe, kayu manis, atau madu. Sebuah perjalanan panjang sebuah rimpang dari dapur pedesaan menuju gelas-gelas kafe modern.
Di Balik Layar Segelas Wedang Laos
Membuat wedang laos ternyata bukan sekadar merebus dan menyeduh. Ada seni dan kesabaran di baliknya. Di sebuah usaha kecil rumahan di Yogyakarta, seorang peracik bernama Dimas mengaku butuh waktu berbulan-bulan untuk menemukan komposisi yang pas. "Awalnya rasanya terlalu pahit, ada yang terlalu pedas sampai bikin tenggorokan perih. Saya hampir menyerah," ujarnya sembari menuangkan wedang berwarna kuning kecokelatan ke cangkir tanah liat.
Ia lantas memutuskan memadukan laos dengan serai dan sedikit jeruk nipis untuk menyeimbangkan rasa. Hasilnya, minuman yang sebelumnya dianggap kuno itu kini digemari pelanggan dari berbagai usia, mulai mahasiswa hingga orang tua. "Ada pelanggan yang bilang, minum ini mengingatkannya pada neneknya. Itu momen paling mengharukan buat saya," tambahnya dengan suara bergetar.
"Rempah ini mengajarkan saya bahwa hal-hal sederhana dari tanah sendiri sering kali paling menyehatkan. Kita hanya perlu belajar menghargainya kembali."
Kisah yang Berjuang dari Pasar Tradisional
Namun di balik tren yang menyehatkan itu, ada pula perjuangan yang menyentuh. Petani laos di sejumlah daerah mengaku sempat kesulitan menjual hasil panennya karena permintaan yang tidak menentu. Harga yang rendah kerap membuat mereka harus menahan air mata, melihat rimpang yang mereka tanam dengan susah payah hanya dihargai murah. "Kadang capek, tapi saya ingat pesan almarhum bapak: jangan pernah tinggalkan tanaman warisan," kata seorang petani muda, Rendi, dengan tatapan penuh harap.
Kini, seiring tumbuhnya permintaan minuman herbal, mimpi itu perlahan menemukan jalannya. Beberapa petani mulai membentuk kelompok tani dan menjual langsung ke pengrajin minuman. Ada bangkit harapan baru di tanah-tanah yang dulu sepi. Bagi mereka, laos bukan lagi sekadar tanaman liar di pekarangan, melainkan masa depan yang harum dan menyehatkan.
Di dapur kecil itu, Sariati kembali menyeruput wedang laosnya. Dengan hati yang hangat, ia berharap generasi cucunya kelak tak lupa bahwa di balik sebatang rimpang sederhana, tersimpan rahasia sehat, kisah keluarga, dan inspirasi yang menyejukkan hati.
Comments (0)