Zero Tolerance pada Bullying: Pesan Hangat dari Bupati Kuningan

Di sudut ruang kelas yang masih berbau cat baru, seorang bocah perempuan menggenggam erat jemari ibunya. Matanya sibuk menjelajah tiap inci ruangan, mencari kehangatan di antara bangku-bangku mungil y...

Jul 14, 2026 - 21:19
0 0

Di sudut ruang kelas yang masih berbau cat baru, seorang bocah perempuan menggenggam erat jemari ibunya. Matanya sibuk menjelajah tiap inci ruangan, mencari kehangatan di antara bangku-bangku mungil yang berjajar rapi. Hari pertama sekolah selalu menjadi panggung gentar—tak hanya bagi anak, tapi juga bagi orang tua yang diam-diam berdebar. Akankah si kecil diterima dengan baik? Akankah ia pulang dengan senyum, atau justru membawa luka yang tak mudah terhapus?

Di Kabupaten Kuningan, kegelisahan semacam itu coba dijawab dengan seruan lembut nan tegas. Pemerintah daerah mengingatkan seluruh satuan pendidikan untuk menanggalkan ambisi mengetes calistung—baca, tulis, dan hitung—di masa orientasi. Bukan karena kemampuan itu tak penting, melainkan lantaran ada yang jauh lebih mendasar: merasakan aman dan diterima di lingkungan baru. “Anak-anak butuh napas; mereka bukan robot yang siap dinilai di pertemuan pertama,” begitulah intisari pesan yang disampaikan Bupati Kuningan saat berbincang dengan para pendidik. Pesan ini lahir bukan tanpa alasan. Sejumlah riset dan puluhan kisah cemas dari orang tua menjadi latar yang menguatkan: masa transisi adalah fondasi, dan fondasi itu harus dibangun dengan empati, bukan tekanan.

Mengutamakan Adaptasi, Bukan Kompetisi

Ruang kelas di pekan pertama tak ubahnya taman yang baru ditanami benih. Jika langsung diguyur hujan deras berupa tes kemampuan, benih itu bisa busuk sebelum sempat tumbuh. Bupati meminta agar sekolah lebih banyak mengisi hari-hari awal dengan permainan pengenalan, cerita, dan kegiatan yang mempererat ikatan antarsiswa. Proses adaptasi—mengenal guru, mengenal teman, mengenal sudut-sudut sekolah—menjadi prioritas. Membaca, menulis, dan berhitung akan hadir pada waktunya, setelah anak-anak merasa bahwa sekolah adalah rumah kedua yang aman.

“Saya melihat sendiri bagaimana seorang anak yang biasanya ceria tiba-tiba mogok sekolah setelah hari pertama. Setelah ditelusuri, ia merasa malu karena tak bisa membaca secepat temannya,” tutur seorang guru sekolah dasar di Kuningan yang memilih tidak disebutkan namanya. Kisah-kisah seperti ini, menurut sang guru, seharusnya menjadi cermin. Bahwa setiap anak memiliki ritme, dan tugas pendidik adalah menuntun dengan sabar, bukan membandingkan dengan tergesa.

Zero Tolerance untuk Perundungan dan Kekerasan

Di balik bayang-bayang tes calistung, ada momok yang lebih gelap: perpeloncoan dan perundungan. Tradisi yang kerap terselubung dalam dalih “pengenalan lingkungan” ini masih menjadi hantu di banyak sekolah. Tak jarang, kegiatan seperti ini meninggalkan luka psikologis yang bertahan hingga dewasa. Melihat kenyataan itu, Bupati Kuningan mempertegas kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk kekerasan, termasuk perpeloncoan. Sekolah didorong untuk menciptakan mekanisme pengawasan yang ketat dan membuka ruang aduan yang ramah anak.

“Kami ingin memastikan tak ada lagi anak yang pulang dengan air mata karena dirundung, dipaksa melakukan hal-hal aneh, atau diintimidasi oleh kakak kelas,” ungkap Bupati. Imbauan ini juga disertai instruksi kepada dinas pendidikan untuk turun langsung memantau masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Sosialisasi anti-bullying digencarkan, melibatkan orang tua, guru, dan bahkan siswa-siswa senior yang diharapkan menjadi teladan.

Harapan Baru dari Ruang Kelas

Kebijakan ini disambut hangat oleh banyak orang tua. Marni, seorang ibu dari dua anak yang tahun ini masuk SD dan SMP, mengaku lega. “Saya dulu trauma dengan perpeloncoan. Melihat anak saya diperlakukan lembut di hari pertama, rasanya seperti melihat luka lama sedikit demi sedikit sembuh,” ucapnya dengan mata berbinar. Bagi Marni, sekolah yang ramah adalah sekolah yang merayakan setiap anak sebagai pemenang, bukan sekadar penyekor.

Di sudut lain, seorang kepala sekolah di pelosok Kuningan mulai menerjemahkan seruan itu dengan aksi. Ia mengubah format orientasi menjadi festival perkenalan: ada panggung boneka, sesi mewarnai bersama, dan permainan tradisional. “Kami ingin anak-anak pulang dengan cerita indah, bukan ketakutan. Karena dari cerita indah itulah semangat belajar lahir,” katanya.

Pendidikan sejatinya adalah perjalanan yang panjang. Hari pertama sekolah hanyalah langkah mungil, namun arah langkah itu bisa menentukan sejauh mana seorang anak berani melangkah berikutnya. Dengan mengedepankan adaptasi dan menolak tegas segala bentuk kekerasan, Kuningan seolah sedang menenun kembali makna sekolah: bukan sebagai medan juang, melainkan sebagai ladang tempat benih-benih impian disemai dengan sabar dan penuh kasih. Sebab setiap anak berhak tumbuh tanpa luka, dan setiap tawa kecil di hari pertama adalah doa yang nyata.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User