Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Warga Perkotaan Raup Tambahan Penghasilan dari Beternak Ikan dalam Ember

Di sela-sela sempitnya gang selebar dua meter, pagi itu sepotong sinar matahari menyelinap di antara tumpukan ember plastik bekas cat. Pak Joko, seorang bu

Jul 09, 2026 - 19:26
0 0
Warga Perkotaan Raup Tambahan Penghasilan dari Beternak Ikan dalam Ember

Di sela-sela sempitnya gang selebar dua meter, pagi itu sepotong sinar matahari menyelinap di antara tumpukan ember plastik bekas cat. Pak Joko, seorang buruh harian berusia 52 tahun, tersenyum lebar sambil mengangkat ember ke-12 yang dipenuhi air kecokelatan. Tangannya yang kapalan dengan cekatan menyerok ikan-ikan lele yang gemuk, bergerak lincah menyambut segenggam pelet. Bagi sebagian orang, tumpukan ember itu mungkin hanyalah sampah, tetapi bagi istri dan dua anaknya, inilah tumpuan penghidupan yang tak terduga—budidaya ikan dalam ember di lahan yang bahkan tak cukup untuk mendirikan satu bangku panjang.

Fenomena budikdamber—akronim dari budidaya ikan dalam ember—kini makin sering terdengar di tengah masyarakat perkotaan yang haus ruang hijau. Mereka yang tinggal di rumah petak, gang padat, atau rusunawa menemukan bahwa beternak ikan cukup dengan ember berkapasitas 80 liter, tanpa perlu kolam luas. Budaya yang murah, mudah, dan menguntungkan ini telah menjadi oase baru bagi ribuan keluarga kecil di Indonesia.

Lahan Hanya 1×2 Meter, Mimpi Tak Berhenti

Di sudut perkampungan kumuh di kawasan Jakarta Timur, atap seng rumah Pak Joko hanya menyisakan sepetak lahan terbuka. Dulu tempat itu kosong melompong, kerap jadi genangan saat hujan. Sekarang, 15 ember ikan lele dan nila tertata rapi bertingkat dalam rak bambu sederhana. "Saya tidak pernah menyangka bisa panen ikan tanpa harus punya danau atau sawah. Cukup ember bekas, air, dan sedikit kemauan. Hasilnya? Dua bulan sekali kami bisa menjual 30 kilogram ikan segar ke warung dan tetangga," ujar Pak Joko dengan suara parau namun penuh semangat.

"Dulu saya hanya bermodal pulsa buat nelpon saudara, sekarang punya tabungan sendiri dari ikan. Anak-anak bisa jajan tanpa menangis minta uang,"—Pak Joko, peternak lele ember di permukiman padat Jakarta.

Jenis ikan yang ideal untuk sistem ember memang bukan rahasia besar: lele dumbo, nila merah, dan patin menjadi primadona karena daya tahan tinggi, nafsu makan besar, dan pertumbuhan pesat. Namun pilihan ini bukan sekadar soal teknis. Di balik setiap ember, ada kisah tentang perjuangan melawan sempitnya hidup dan mahalnya pangan.

Dari Hobi Iseng Jadi Penopang Ekonomi Rumah Tangga

Konsepnya sederhana: ember diisi air bersih, didiamkan sehari, lalu diisi bibit ikan seukuran jari. Pakan bisa berasal dari pelet buatan atau bahan alami seperti cacing, limbah sayur, bahkan maggot yang dikembangbiakkan sendiri. Setiap harinya, pemilik cukup memberi makan dua hingga tiga kali dan mengontrol kualitas air. Setelah 60–75 hari, ikan siap panen dengan bobot rata-rata 100–150 gram per ekor. Satu ember bisa menampung 50–70 ekor bibit, menghasilkan panen sekitar 3–5 kilogram ikan konsumsi.

Menurut data perikanan urban yang dirilis oleh salah satu LSM lingkungan perkotaan, rata-rata keuntungan bersih per ember per siklus mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000. Bagi Pak Joko yang memiliki 15 ember, itu berarti tambahan pemasukan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,2 juta setiap dua bulan. Angka yang cukup untuk menutupi biaya listrik, air, dan uang saku anak-anaknya.

Peluh yang menetes di antara bau amis ember kini tak lagi hanya tanda lelah, tapi juga aroma keberdayaan.

Kemandirian Pangan yang Menular

Kisah Pak Joko bukanlah yang pertama dan pasti bukan yang terakhir. Di belahan Jakarta lainnya, Ibu Ratna—seorang ibu rumah tangga yang ditinggal suami—mengelola 10 ember nila merah di teras belakang ukuran 1×3 meter. "Awalnya cuma ingin stok lauk sendiri agar tak terus beli di pasar. Tapi ternyata hasilnya lebih dari cukup, saya jual sisanya dan bisa beli buku sekolah anak," kenangnya lirih.

"Kami tidak perlu lagi mengeluh soal harga cabai dan ikan. Di ember ini, kami menemukan kendali atas dapur sendiri."—Ibu Ratna, peternak nila merah di hunian padat.

Gerakan ini kian masif seiring maraknya pelatihan gratis dari dinas perikanan dan komunitas urban farming. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik aerasi tanpa listrik dengan menggunakan tanaman kangkung di atas ember (sistem akuaponik sederhana), tetapi juga bagaimana membangun pasar lokal yang saling mendukung. Kangkung yang tumbuh di atas ember juga bisa dipanen setiap tiga minggu, melipatgandakan manfaat tanpa menambah beban biaya.

Di tengah keterbatasan, sejatinya manusia selalu menemukan cara untuk bertahan. Ember-ember itu bukan sekadar wadah plastik berisi air, melainkan simbol harapan yang terus menggelegak di gang-gang sempit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User