Jombang kembali menjadi pusat perdebatan pemikiran keagamaan ketika Forum Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar Halaqah bertema "Refleksi Kepemimpinan PBNU" di Aula Universitas Darul Ulum (UNDU), Rabu (26/8/2026) siang. Suasana aula yang sederhana itu dipenuhi tokoh-tokoh ulama, cendekiawan Muslim, hingga aktivis muda Nahdliyin yang datang dari berbagai penjuru Jawa Timur.
Rabu siang itu udara Jombang terasa hangat, namun semangat para peserta jauh lebih membara. Mereka hadir dengan satu tujuan yang sama: merenungkan arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Tidak ada panggung megah, tidak ada protokoler berlebihan—hanya dialog terbuka antara sesama pengampu tradisi yang peduli pada masa depan wadah perjuangan mereka.
Latar Belakang Penyelenggaraan Halaqah
Penyelenggaraan halaqah ini merupakan bagian dari agenda rutin FUN untuk membangun ruang refleksi kolektif bagi kalangan ulama dan intelektual Nahdliyin. Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, forum ini kerap menyuarakan pentingnya regenerasi kepemimpinan yang bersih, amanah, dan berakar pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.
Tema refleksi kepemimpinan PBNU dipilih karena dinilai sangat relevan dengan dinamika organisasi saat ini. Pertikaian internal, tarik-menarik kekuasaan, serta tuntutan kaum muda akan kepemimpinan yang lebih inklusif menjadi sorotan utama dalam diskusi yang berlangsung hidup tersebut.
Data Ringkas Kegiatan
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama Kegiatan | Halaqah FUN Tema Refleksi Kepemimpinan PBNU |
| Waktu | Rabu, 26 Agustus 2026, pukul 11.00 WIB |
| Tempat | Aula Universitas Darul Ulum (UNDU), Jombang |
| Penyelenggara | Forum Ulama Nahdliyin (FUN) |
Pesan Para Ulama: Kepemimpinan adalah Amanah
Dalam paparan utamanya, salah satu tokoh senior FUN menegaskan bahwa kepemimpinan dalam tubuh NU bukanlah komoditas politik, melainkan amanah agama yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan umat.
"Kepemimpinan PBNU bukan tentang siapa yang duduk di kursi paling tinggi, tetapi siapa yang paling dekat dengan hati rakyat. Jika kepemimpinan diperjuangkan dengan uang dan intrik, maka ruh NU akan mati perlahan," ujar salah satu ulama senior dalam sela paparannya.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan panjang oleh ratusan peserta. Beberapa tokoh muda yang turut hadir bahkan tak sanggup menahan haru, melihat betapa besar harapan generasi tua terhadap keutuhan organisasi rakyat ini. Momen itu seperti mengingatkan semua pihak bahwa NU lahir dari pesantren, dibesarkan oleh ulama, dan harus tetap setia pada akar kemandiriannya.
Tiga Sorotan Utama Refleksi Kepemimpinan
- Regenerasi kepemimpinan: pembukaan ruang nyata bagi kiai muda dan intelektual Nahdliyin dalam struktur keorganisasian.
- Independensi organisasi: menjaga NU agar tidak terjerat kepentingan politik pragmatis para elite.
- Penguatan nilai Aswaja: menegakkan moderasi beragama sebagai wajah utama NU di tengah polarisasi nasional.
Suarakan Kaum Muda, Jaga Keutuhan Umat
Tidak hanya kalangan senior, forum ini juga memberi ruang bagi aktivis muda untuk menyampaikan aspirasi. Mereka menilai halaqah semacam ini penting agar kritik tidak hanya berkembang di lorong-lorong media sosial, melainkan tersalurkan melalui musyawarah yang beradab.
"Kami generasi muda ingin NU kembali menjadi rumah bersama. Halaqah ini bukti bahwa perbedaan pandangan bisa diselesaikan dengan adab, bukan saling menjatuhkan," tutur seorang peserta muda yang hadir mewakili elemen pelajar pesantren.
Ikhtiar Utama, Bukan Sekadar Ritual
Di akhir acara, para peserta sepakat bahwa halaqah ini adalah ikhtiar utama untuk refleksi, bukan sekadar ritual tahunan yang hilang begitu saja. Rekomendasi hasil diskusi direncanakan akan disampaikan kepada berbagai elemen kekeluargaan NU sebagai bahan evaluasi bersama menuju muktamar-muktamar mendatang.
Matahari sore mulai condong ketika acara ditutup dengan doa bersama. Doa itu menggantung di ruangan sederhana UNDU—doa agar Nahdlatul Ulama tetap teguh sebagai gerakan sosial-religius yang mencerdaskan, dan kepemimpinannya selalu menjadi rahmat bagi bangsa Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Ulama Nahdliyin kumpul di Jombang! Halaqah FUN bahas refleksi kepemimpinan PBNU: regenerasi, independensi, dan penguatan Aswaja. #PBNU #Jombang #FUN[SOCIAL_TG]: 🕌 Halaqah FUN di Jombang bahasa masa depan kepemimpinan PBNU — dari regenerasi kiai muda sampai independensi organisasi. Baca liputannya di Beritaseputar.com.
Comments (0)