Tokoh Adat Lampung Tegaskan Prosesi Jokowi Injak Kepala Kerbau Murni Ritual Budaya, Bukan Sinyal Politik
Beritaseputar.com, Jakarta – Sebuah prosesi adat yang melibatkan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), saat menerima gelar kehormatan di Lampung menuai perhatian publik. Menanggapi berbagai tafsi
Beritaseputar.com, Jakarta – Sebuah prosesi adat yang melibatkan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), saat menerima gelar kehormatan di Lampung menuai perhatian publik. Menanggapi berbagai tafsir yang beredar, tokoh adat Lampung Pepadun Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, memberikan penjelasan resmi untuk meluruskan pemahaman yang berkembang di masyarakat.
Mawardi menekankan bahwa tindakan menginjak kepala kerbau di atas karpet merah bukanlah sekadar atraksi, melainkan ritual sakral yang memiliki akar filosofis mendalam. Ia meminta agar masyarakat, khususnya warganet, menahan diri dari upaya mengaitkan momen budaya tersebut dengan manuver atau kepentingan politik praktis menjelang pergantian tampuk kekuasaan.
Simbol Pembersihan Sifat Hewani dalam Diri
Dalam keterangannya yang diterima media kami, Mawardi mengurai bahwa prosesi tersebut merupakan inti dari rangkaian upacara adat Begawi Cakak Pepadun atau yang juga dikenal dengan istilah Munggah Bumi. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Lampung Pepadun sebagai syarat pelantikan seorang penyimbang adat.
"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau adalah simbol untuk menghilangkan sifat-sifat binatang yang ada dalam diri manusia. Ini tentang membuang sifat sombong, iri dengki, tamak, hingga amarah. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, ritual ini tidak ada hubungannya dengan politik. Ini adalah pembersihan jiwa bagi seseorang yang menerima tanggung jawab adat," ujar Mawardi dalam laporan yang dikutip Beritaseputar.com.
Mawardi menjelaskan, pemilihan kerbau dalam ritual ini bukan tanpa alasan. Dalam filosofi lokal, kerbau dianggap sebagai representasi kekuatan fisik yang jika tidak dikendalikan akal budi akan berubah menjadi arogansi. Menginjak kepalanya melambangkan proses penaklukan diri terhadap nafsu-nafsu yang dapat merusak tatanan sosial. Dengan demikian, seorang tokoh yang telah melalui prosesi ini diharapkan mampu memimpin dengan hati yang bersih dan rendah hati.
Penjelasan ini sekaligus menepis berbagai narasi liar yang sempat mempertanyakan keabsahan ritual tersebut. Pihak adat menegaskan bahwa prosesi ini adalah penghormatan tertinggi bagi warga kehormatan dan mengandung doa restu leluhur. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam melihat praktik budaya lokal tanpa mencampurinya dengan polarisasi politik yang sedang hangat.
Comments (0)