TEHERAN — Ayatollah Ali Khamenei Tutup Usia, Umat Iran Ratapi Warisan Pidato Soekarno
Lautan manusia tumpah di jalan-jalan Teheran yang diselimuti debu dan tangis. Para pelayat berdesakan di bawah terik matahari musim panas, mengiringi prose
Lautan manusia tumpah di jalan-jalan Teheran yang diselimuti debu dan tangis. Para pelayat berdesakan di bawah terik matahari musim panas, mengiringi prosesi pemakaman yang bergerak lambat menuju kompleks makam yang kelak akan dikenang sebagai monumen akhir dari sebuah era. Di tengah gema doa dan isak tangis, satu cerita berulang kali terucap: kisah tentang seorang Pemimpin Tertinggi yang tak hanya memandang ke langit Iran, tetapi juga ke bumi Nusantara. Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang selama lebih dari tiga dekade memegang kendali spiritual dan politik Republik Islam, telah berpulang pada 28 Juni 2026, meninggalkan duka mendalam—dan sebuah kutipan dari Presiden pertama Republik Indonesia yang terus menginspirasi lintas zaman.
Hari Terakhir Sang Pemimpin Spiritual
Prosesi dimulai sejak dini hari. Ribuan personel militer dan Garda Revolusi berbaris rapi di sepanjang rute, sementara warga biasa—tua, muda, perempuan, anak-anak—memenuhi setiap sudut trotoar. Mereka membawa bendera Iran berhias kaligrafi Asmaul Husna, foto-foto Khamenei berbingkai hitam, dan selebaran bertuliskan doa. Pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari, dan pemakaman ini menjadi salah satu momen paling emosional dalam sejarah modern republik itu. Tangisan seorang ibu yang memeluk potret Khamenei seolah mewakili seisi negeri: kehilangan yang begitu dalam, namun sekaligus kebanggaan atas warisan yang ditinggalkan.
Warisan Pemikiran yang Melampaui Batas
Di sela-sela upacara, para pejabat dan ulama saling berbagi kenangan. Salah satu yang paling sering diangkat adalah kecintaan Khamenei terhadap pemikiran Soekarno. Bagi banyak orang, ini mungkin mengejutkan: mengapa seorang pemimpin Syiah Iran begitu terkesan dengan pidato seorang nasionalis sekuler dari negara berpenduduk mayoritas Sunni? Jawabannya terletak pada obsesi Khamenei terhadap persatuan di tengah perbedaan, sebuah tema yang menurutnya diwakili secara brilian oleh Soekarno.
“Dahulu, Presiden Soekarno berkata: ‘Janganlah kita melihat perbedaan agama sebagai tembok yang memisahkan. Jadikanlah ia sebagai jembatan emas untuk saling mengenal dan membangun peradaban.’ Kata-kata itu bukan sekadar retorika, melainkan cetak biru bagaimana umat manusia seharusnya hidup berdampingan. Saya mengutipnya bukan karena beliau pemimpin negara sahabat, tetapi karena beliau mengajarkan makna sejati dari ukhuwah insaniyah.”
Pernyataan itu disampaikan Khamenei dalam sebuah forum ulama internasional di Masyhad pada 2017, dan hingga kini terus dikenang oleh para cendekiawan Muslim. Khamenei mengutip pidato Soekarno setidaknya dalam dua kesempatan resmi, sekali di hadapan delegasi Asia-Afrika dan sekali lagi dalam pertemuan tertutup dengan para duta besar.
Menjembatani Mazhab, Merajut Solidaritas
Bagi Khamenei, kutipan Soekarno bukanlah sekadar pemanis pidato. Ia kerap menggunakannya untuk meredakan ketegangan sektarian yang kerap memanas di Timur Tengah. Dalam berbagai ceramahnya, Khamenei menekankan bahwa Iran—meskipun kukuh dengan mazhab Syiah—harus menjadi pelopor dialog Sunni-Syiah, dan Soekarno adalah contoh pemimpin yang berhasil menyatukan keragaman keyakinan di bawah payung Pancasila. “Indonesia adalah laboratorium kerukunan,” ujarnya suatu kali, “dan kita semua harus belajar dari Bung Karno.”
Perasaan koneksi mendalam antara dua budaya ini terasa begitu kuat di antara pelayat. Seorang mahasiswa teologi asal Qom, Muhammad Reza, menuturkan dengan suara bergetar:
“Saya tumbuh dengan mendengar ceramah Ayatollah Khamenei yang menyebut Indonesia. Bagi kami, Bung Karno adalah simbol bahwa Islam bisa menjadi perekat bangsa yang majemuk. Kepergian pemimpin kami adalah kehilangan, tetapi ajaran Soekarno yang ia sampaikan akan tetap hidup.”
Hubungan Indonesia-Iran: Dari Masa ke Masa
Momen emosional ini turut menggarisbawahi hubungan panjang Indonesia-Iran. Kedua negara telah menjalin kerja sama ekonomi, pendidikan, dan budaya selama puluhan tahun. Iran tercatat sebagai mitra dagang utama Indonesia di Timur Tengah dengan nilai perdagangan bilateral mencapai 1,2 miliar dolar AS pada 2025. Namun lebih dari sekadar angka, ikatan ini diperkuat oleh saling pengertian kultural. Kunjungan kenegaraan dan pertukaran ulama menjadi jembatan spiritual yang membuat kutipan Soekarno terasa sangat relevan di lingkungan kekuasaan Iran.
Para analis politik menilai bahwa dengan wafatnya Khamenei, kebijakan luar negeri Iran mungkin akan mengalami pergeseran. Tetapi, nilai-nilai dasar yang ia tanamkan—termasuk solidaritas dengan negara-negara berkembang—diperkirakan akan terus menjadi landasan. “Khamenei berhasil menanamkan dalam birokrasi Iran sebuah pandangan bahwa negara-negara Asia dan Afrika adalah keluarga yang harus dilindungi,” ujar seorang profesor hubungan internasional dari Universitas Teheran. Warisan pidato Soekarno yang dirawat Khamenei menjadi simbol harapan di tengah ketidakpastian transisi kekuasaan.
Pesan Abadi untuk Generasi Mendatang
Di penghujung prosesi, saat azan Zuhur berkumandang, titik puncak duka mencapai klimaksnya. Puluhan ribu orang serentak mengangkat tangan dalam doa. Di layar raksasa yang dipasang di sepanjang Lapangan Azadi, tertayang rekaman pidato Khamenei yang kembali mengutip Soekarno. Momen itu seolah menjadi penegasan terakhir: bahwa cita-cita persatuan melampaui batas usia dan geografi. Para pemuda Iran yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Jakarta, kini menggenggam erat potongan sejarah Indonesia dalam ingatan mereka.
Bagi Indonesia, warisan ini menjadi pengingat bahwa suara seorang Presiden yang lahir di Blitar seratus dua puluh tahun silam masih mampu menggema di jantung peradaban Persia. Sekaligus, ini adalah bukti bahwa kata-kata yang tulus dan visioner tidak mengenal kadaluwarsa; ia akan selalu menemukan jalannya menuju hati yang tepat, pada waktu yang tepat.
Comments (0)