Sutradara Gonjiam Umumkan Rencana Syuting Horor di Indonesia dengan Syarat Khusus
Di tengah hingar bingar industri film horor Korea Selatan, nama Jung Bum-shik mencuat berkat karya fenomenalnya, Gonjiam: Haunted Asylum (2018). Film yang mengisahkan petualangan sekelompok remaja di ...
Di tengah hingar bingar industri film horor Korea Selatan, nama Jung Bum-shik mencuat berkat karya fenomenalnya, Gonjiam: Haunted Asylum (2018). Film yang mengisahkan petualangan sekelompok remaja di rumah sakit jiwa terbengkalai itu bukan sekadar box office, melainkan juga menjadi fenomena budaya yang membuat banyak orang enggan menonton sendirian. Kini, sutradara berusia 40-an itu mengungkapkan babak baru yang lebih ambisius: syuting film horor di Indonesia. Namun, ia menetapkan sejumlah syarat khusus yang membuat proyek ini penuh teka-teki sekaligus memicu perdebatan hangat di antara penggemar film Tanah Air.
Misteri di Balik Janji Sutradara
Dalam sebuah wawancara eksklusif di sela-sela festival film internasional di Busan, Jung Bum-shik berbicara dengan mata berbinar tentang kekagumannya pada Indonesia. "Saya selalu terpesona oleh kekayaan cerita rakyat dan tradisi mistis Indonesia. Ada aura yang berbeda, lebih mencekam, namun juga spiritual. Ini yang tidak saya temukan di banyak negara lain," ujarnya dengan suara pelan namun penuh keyakinan. Sutradara yang dikenal perfeksionis ini mengaku telah melakukan riset diam-diam selama dua tahun terakhir mengenai lokasi-lokasi angker di Tanah Air. Dari Lawang Sewu di Semarang hingga Rumah Sakit Angker di Cikini, Jakarta, semua sudah tercatat rapi dalam buku catatan kulitnya yang lusuh. Bahkan, ia dikabarkan telah tiga kali mengunjungi Indonesia secara pribadi untuk merasakan langsung atmosfer tempat-tempat tersebut.
Namun, rencana syuting itu tak semudah membalik telapak tangan. Jung Bum-shik menegaskan dengan nada serius, "Saya tak akan membuat film horor di Indonesia hanya dengan set buatan di studio. Saya ingin syuting di lokasi nyata yang memiliki sejarah kelam dan energi mistis yang kuat. Itu syarat pertama dan utama. Tanpa itu, proyek ini tidak akan berjalan." Pernyataan itu sontak mengingatkan publik pada metode ekstrem yang ia gunakan saat menggarap Gonjiam—di mana ia benar-benar membawa para aktor ke bekas rumah sakit jiwa yang konon sangat angker, tanpa memberi tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, demi mendapatkan reaksi takut yang otentik.
Mengapa Indonesia? Obsesi pada Mistisisme Nusantara
Keputusan Jung Bum-shik untuk menatap Indonesia bukan tanpa alasan yang kuat. Kesuksesan Gonjiam yang mengangkat kisah horor berbasis legenda urban Korea—tepatnya rumor tentang kamar 402 di Rumah Sakit Jiwa Gonjiam—membuatnya yakin bahwa setiap negara memiliki "hantu" khasnya sendiri yang mencerminkan trauma kolektif masyarakat. Indonesia, dengan ribuan pulau dan ratusan suku, menawarkan pustaka horor yang nyaris tak ada habisnya. "Saya ingin mengeksplorasi mitos seperti kuntilanak, pocong, atau bahkan santet. Ini bukan sekadar jumpscare murahan, tetapi menyelami ketakutan kolektif masyarakat Indonesia yang telah diwariskan turun-temurun," jelasnya sambil menyandarkan punggung ke kursi.
Sutradara itu juga menyinggung pengalaman pribadinya yang mengubah cara pandangnya terhadap horor. "Saat pertama kali menginjakkan kaki di salah satu kota tua di Jawa, saya merasakan sesuatu yang tak terlukiskan. Bahkan udara terasa lebih berat, lebih padat. Saya seperti diselimuti kehadiran yang tidak terlihat. Itu momen yang menghantui sekaligus menginspirasi," katanya sambil menatap kosong ke arah jendela, seolah mengingat kembali sensasi merinding itu. Ia menambahkan bahwa ia ingin filmnya nanti tidak hanya menakut-nakuti, tetapi juga membuat penonton merenungkan hubungan antara manusia, kematian, dan dunia gaib yang sangat kental dalam budaya Indonesia.
Syarat Khusus dan Tantangan Lokasi
Selain keharusan menggunakan lokasi asli, Jung Bum-shik juga mensyaratkan keterlibatan mendalam para pemuka adat setempat. "Saya tidak ingin mengeksploitasi budaya. Saya ingin berkolaborasi dengan penghormatan penuh. Film ini harus merupakan persembahan bagi kepercayaan lokal. Karena itu, saya akan bekerja sama dengan paranormal dan tetua adat di manapun lokasi syuting ditentukan," tegasnya. Ia bahkan berencana untuk menjalani ritual pembersihan dan meminta izin secara adat sebelum memulai produksi, sesuatu yang jarang dilakukan oleh sineas asing.
Rencananya, lokasi yang akan dipilih adalah tempat-tempat yang "belum terjamah" oleh produksi film besar. Jung Bum-shik mengaku telah mengidentifikasi sebuah rumah sakit peninggalan Belanda di daerah Jawa Barat yang terbengkalai sejak 1960-an, dan sebuah desa terpencil di Sulawesi Selatan yang diyakini memiliki aktivitas supranatural tinggi. "Proses perizinan akan menjadi rumit, karena ini menyangkut sensitivitas masyarakat dan juga aspek legal lahan terlantar. Saya butuh dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pusat," ujarnya sambil menghela napas, menyadari bahwa birokrasi bisa menjadi tantangan terbesar.
Syarat lain yang mungkin mengejutkan banyak pihak: ia ingin menggunakan aktor-aktor Indonesia untuk peran utama. "Saya percaya bahwa ketakutan itu lebih autentik ketika diperankan oleh mereka yang tumbuh dengan mitos itu sendiri. Mereka membawa resonansi batin yang tidak bisa ditiru oleh aktor asing. Jadi saya akan mencari talenta-talenta muda Indonesia yang berbakat dan berani," imbuhnya. Pengumuman ini memicu harapan baru di kalangan aktor dan aktris lokal yang ingin terlibat dalam proyek internasional bergengsi.
Harapan dan Keresahan Publik
Kabar ini langsung disambut antusias oleh para penggemar film horor di Indonesia. Di media sosial, banyak yang berharap bahwa proyek ini akan membawa genre horor Indonesia ke tingkat yang lebih serius, jauh dari sekadar sensasi erotis atau komedi yang sering mendominasi. Namun, tidak sedikit pula yang khawatir bahwa eksplorasi ini justru akan mengganggu keseimbangan spiritual di lokasi-lokasi keramat dan memicu hal-hal yang tidak diinginkan.
Menanggapi keresahan tersebut, Jung Bum-shik berjanji akan menerapkan protokol ketat selama syuting. "Keselamatan dan etika adalah prioritas. Kami akan melibatkan ahli spiritual sejak pra-produksi hingga pasca-produksi. Tidak akan ada tindakan yang melecehkan kepercayaan setempat," katanya. Ia pun berharap proyek ini bisa menjadi jembatan antara perfilman Korea Selatan dan Indonesia, sebuah kolaborasi yang telah lama diimpikannya. Sampai saat ini, sang sutradara masih membuka komunikasi intensif dengan sejumlah produser lokal dan pejabat terkait, dan mengaku optimis syuting bisa dimulai pada akhir tahun depan. "Ini bukan sekadar ambisi karir. Ini perjalanan spiritual saya sendiri," tutupnya, meninggalkan ruang wawancara dengan senyum penuh misteri yang membuat siapa pun bertanya-tanya: apa sebenarnya yang ia cari di balik rencana syuting itu?
Baca juga:
Comments (0)