Menanti The Rose: Dari Prambanan Jazz Menuju Panggung Jakarta

Di sudut kamar berukuran 3x4 meter di bilangan Jakarta Selatan, tangan Rani gemetar saat menyentuh layar ponselnya. Notifikasi itu muncul begitu saja—The Rose akan menggelar konser tunggal di Jakart...

Jul 12, 2026 - 11:30
0 0
Menanti The Rose: Dari Prambanan Jazz Menuju Panggung Jakarta

Di sudut kamar berukuran 3x4 meter di bilangan Jakarta Selatan, tangan Rani gemetar saat menyentuh layar ponselnya. Notifikasi itu muncul begitu saja—The Rose akan menggelar konser tunggal di Jakarta. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Bukan sekadar konser bagi perempuan 24 tahun ini, melainkan penantian panjang akan sebuah suara yang menemaninya melewati masa-masa paling gelap.

Band asal Korea Selatan itu sudah lama bukan sekadar nama di daftar putar. Bagi ribuan penikmatnya di Indonesia, The Rose adalah sahabat dalam sunyi. Lirik-lirik mereka tentang kehilangan, kebangkitan, dan keberanian untuk bermimpi menjadi pelukan yang tak terlihat. Kini, setelah kabar penampilan mereka di Prambanan Jazz 2026 menyebar, sebuah kejutan baru datang: The Rose akan membawa tur ROSETOPIA ASIA TOUR mendarat sempurna di Jakarta pada Oktober mendatang.

Perjalanan yang Tak Pernah Lurus

Mengisahkan The Rose tanpa menyebut perjuangan mereka ibarat melukis langit tanpa bintang. Band yang terbentuk pada 2017 ini sempat terhempas badai industri musik. Vokalis Kim Woosung, gitaris Park Dojoon, bassis Lee Hajoon, dan drummer Lee Jaehyeong pernah berada di titik di mana suara mereka nyaris dibungkam. Konflik kontrak, wajib militer yang memisahkan personel, dan ketidakpastian masa depan membuat band ini jeda selama hampir tiga tahun.

Namun justru dari kevakuman itulah kisah mereka menemukan kekuatannya. “Saya ingat betul masa-masa itu,” ungkap Sarah, penggemar dari Bandung yang mengikuti perjalanan band ini sejak awal. “Ketika mereka kembali dengan album HEAL, rasanya seperti melihat sahabat lama bangkit dari keterpurukan. Lagu ‘Childhood’ membuat saya menangis semalaman. Itu bukan sekadar musik, itu bukti bahwa kita semua bisa sembuh.”

Kembalinya The Rose ke panggung dunia, termasuk Jakarta, adalah manifestasi dari mimpi yang menolak mati. Setiap nada yang mereka mainkan kini membawa bobot pengalaman yang membuat penonton tidak sekadar mendengar, tetapi ikut merasakan.

Dari Candi Menuju Kota

Bulan Juli nanti, kompleks Candi Prambanan yang megah akan menjadi saksi pertama keintiman The Rose dengan penggemar Indonesia di tahun 2026. Di antara relief-relief batu berusia ratusan tahun, suara Woosung akan menggema mengisi udara Yogyakarta. Prambanan Jazz, festival yang selama ini identik dengan musisi jazz global, membuka pintunya untuk warna musik yang berbeda—sebuah pengakuan bahwa genre hanyalah jembatan, bukan sekat.

Namun, penampilan di festival itu rupanya hanya pembuka. Oktober akan menjadi puncak pertemuan yang sesungguhnya. Konser tunggal di Jakarta menjanjikan momen yang jauh lebih personal. Jika panggung festival memberikan kejutan singkat, konser ini adalah ruang di mana band dan penggemar bisa saling menatap lebih lama, bernyanyi bersama hingga suara serak, dan merayakan setiap luka yang telah berubah menjadi kekuatan.

“Melihat mereka di festival itu spesial, tapi konser solo itu seperti pulang,” ujar Dika, seorang pekerja kreatif yang sudah menabung sejak kabar pertama tur ini beredar. “Saya ingin berdiri di sana, menutup mata, dan merasakan ‘Sorry’ dinyanyikan langsung. Lagu itu menyelamatkan saya lebih dari sekali.”

Malam yang Ditunggu

Detail mengenai lokasi dan tanggal pasti konser masih menjadi rahasia yang dijaga rapat. Namun satu hal yang sudah pasti: Oktober di Jakarta akan terasa berbeda. Bagi ribuan penikmat musik yang selama ini hanya bisa menempelkan telinga di pengeras suara, kesempatan untuk hadir secara langsung adalah jawaban dari doa-doa kecil yang dipanjatkan setiap malam.

Konser ini bukan sekadar hiburan. Bagi banyak orang, ini adalah penanda bahwa mereka berhasil bertahan. Seorang mahasiswi bernama Nia mengisahkan bagaimana ia nyaris menyerah pada masa depannya dua tahun lalu. “Saya mendengarkan ‘She’s in the Rain’ setiap hari. Air mata selalu jatuh, tapi setelahnya saya merasa lebih ringan. Melihat mereka di Jakarta nanti adalah cara saya berterima kasih.”

The Rose memahami bahwa panggung bukan hanya tempat unjuk kebolehan. Ia adalah altar tempat ribuan hati meletakkan bebannya sejenak. Dari Prambanan yang magis hingga sudut Jakarta yang penuh denyut, band ini akan sekali lagi membuktikan bahwa musik yang lahir dari kejujuran tidak akan pernah kehilangan rumahnya. Penantian panjang itu kini tinggal hitungan bulan. Bagi Rani, Sarah, Dika, Nia, dan ribuan lainnya, Oktober adalah janji yang akhirnya ditepati—bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia, dan tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh sebuah lagu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User