Sutradara Gonjiam Mau Syuting Horor di Indonesia Asal Syarat Ini Terpenuhi
Di sebuah sudut kedai kopi sederhana di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, seorang pria berwajah tenang menyesap es kopi susunya perlahan. Matanya sesekali melirik ke luar jendela, menyapu hiruk-pikuk i...
Di sebuah sudut kedai kopi sederhana di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, seorang pria berwajah tenang menyesap es kopi susunya perlahan. Matanya sesekali melirik ke luar jendela, menyapu hiruk-pikuk ibu kota yang mulai beranjak senja. Dialah Jung Bum-shik, sutradara di balik film horor Korea Selatan yang sempat menggemparkan jagat perfilman: Gonjiam: Haunted Asylum. Kedatangannya kali ini bukan sekadar untuk menikmati liburan tropis, melainkan membawa sebuah misi besar yang telah lama mengendap di benaknya: membawa kengerian dari lorong-lorong angker Indonesia ke layar lebar.
Dengan suara rendah dan pemilihan kata yang hati-hati, Jung mengisahkan awal mula ketertarikannya pada tanah air. "Saya sudah lama ingin bekerja di sini," ungkapnya. "Bukan cuma karena pemandangannya yang indah, tapi karena lapisan cerita mistisnya yang begitu kaya. Kalian punya segalanya—sejarah panjang, konflik manusia, kepercayaan lokal—dan itu semua adalah bahan bakar bagi film horor sejati." Obsesi itu rupanya tak datang tiba-tiba; ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menonton film horor Indonesia klasik dan modern, dari Pengabdi Setan orisinal sampai karya-karya Joko Anwar, mencari ruh yang bisa ia bawa ke dalam terornya sendiri.
Rindu yang Berubah Jadi Janji
Perjalanan Jung menuju niatan ini sebenarnya berakar pada kesuksesan besar film sebelumnya yang berlatar rumah sakit jiwa terbengkalai di Gwangju, Gonjiam. Bukan hanya angka box office yang membanggakan, melainkan cara film itu menancapkan rasa takut pada objek sehari-hari. Salah satu ruangan dalam film itu, kamar 402, menjadi semacam legenda urban baru; bisik-bisik tentangnya menyebar di forum daring, menjadikannya ikon horor modern. "Ketakutan terbaik lahir dari tempat yang nyata," ujar Jung mengingat kembali pengalaman itu. Dari situ ia menyimpulkan: untuk menjangkau hati penonton yang lebih luas, ia harus menyelami sumber-sumber teror autentik, termasuk yang ada di Asia Tenggara.
Mimpi itu mengkristal dalam janji yang ia ucapkan dalam sebuah wawancara di Seoul awal tahun ini. Ia berikrar akan memproduksi film horor di Indonesia, bukan sekadar memindahkan cerita Gonjiam ke latar yang eksotis, melainkan membangun narasi baru yang sepenuhnya berakar pada tanah dan jiwa Indonesia. "Saya tidak mau membuat Gondangdia: Haunted Asylum," kelakarnya ringan, merujuk pada distorsi lucu nama Gonjiam. "Saya mau sesuatu yang sepenuhnya milik kalian."
Syarat yang Menentukan Arah
Namun, janji itu tidak datang tanpa ketentuan. Jung Bum-shik ternyata punya syarat utama yang tak bisa ditawar: keaslian mutlak dalam setiap aspek produksinya. "Tidak akan ada hantu-hantu yang dipaksakan dari budaya saya," tegasnya. "Saya ingin mengetuk pintu ruangan-ruangan yang benar-benar dianggap angker oleh masyarakat setempat, lalu mengupas legenda di baliknya bersama sineas dan penulis lokal." Menurutnya, elemen terpenting adalah kolaborasi sejajar; ia enggan datang sebagai orang asing yang memaksakan selera, melainkan sebagai rekan yang belajar. Ia membayangkan tim penulis naskah akan diisi oleh orang Indonesia, begitu pula departemen artistik yang paham detail-detail kultural seperti sesajen, arsitektur kolonial, hingga dialek daerah.
Syarat kedua yang ia beberkan adalah keberanian lokasi. Jung mengaku sudah mengantongi daftar beberapa tempat yang kabarnya menyimpan energi kelam—sebuah rumah sakit tua di Jawa Barat, bekas penjara di Semarang, dan satu pulau tak berpenghuni di timur Indonesia. "Jika kita syuting di tempat yang benar-benar punya cerita, separuh rasa takut sudah tercipta sebelum kamera menyala," katanya, sembari menceritakan pengalaman Gonjiam yang sebagian besar diambil di lokasi asli. Syarat ini, ia akui, akan menjadi negosiasi paling berat karena menyangkut kepercayaan warga sekitar dan perizinan.
Menghidupkan Lagi Hantu-Hantu yang Tertidur
Lalu, apa sebenarnya yang membedakan pendekatan Jung dari proyek-proyek horor internasional lain yang pernah singgah di Indonesia? Bukan semata soal kengerian, melainkan cara ia ingin mengisahkan rasa sakit yang melekat pada tempat-tempat itu. Ia tertarik pada sejarah bangunan yang dulunya menjadi saksi tragedi: rumah sakit yang menampung korban wabah, penjara yang menyimpan jerit para tahanan politik. "Hantu bukan sekadar penampakan," ia menekankan. "Mereka adalah kenangan yang menolak untuk mati. Saya ingin film ini menjadi penghormatan pada ingatan yang terpinggirkan itu, bukan eksploitasi."
Dengan visi semacam itu, tampaknya wajar bila sejumlah nama di industri perfilman tanah air mulai menyambut rencana ini dengan antusiasme yang hati-hati. Seorang produser lokal yang enggan disebut namanya sebelum kontrak resmi diteken mengonfirmasi bahwa pembicaraan awal sudah berlangsung. "Ini kesempatan langka," ucapnya singkat, "karena biasanya yang datang hanya mencari kru murah, bukan kemitraan ide."
Sembari menghabiskan sisa kopinya, Jung Bum-shik melempar senyum tipis. Di luar, lampu jalan mulai menyala, dan suara azan magrib mengalun dari kejauhan. "Saya tidak bisa janji kapan," pungkasnya, "tapi saya ingin memberi Indonesia sebuah film yang membuat kalian tidak berani lagi mematikan lampu di rumah sendiri." Sebuah janji yang awalnya hanya dengung kini perlahan berubah bentuk menjadi kenyataan yang menunggu detik-detik dimulainya syuting pertama. Jika syarat-syarat itu terpenuhi, bukan tak mungkin panggung horor Asia akan segera kedatangan hantu baru yang merepotkan—dari sudut-sudut gelap Nusantara.
Baca juga:
Comments (0)