Sutradara Gonjiam Bertekad Syuting Horor di Tanah Air, Ada Syaratnya

Di sebuah ruang produksi yang temaram di Seoul, tepat setelah pemutaran khusus Gonjiam: Haunted Asylum, sutradara kenamaan Korea itu meletakkan secangkir kopi yang mulai mendingin. Matanya menerawang,...

Jul 12, 2026 - 07:22
0 0
Sutradara Gonjiam Bertekad Syuting Horor di Tanah Air, Ada Syaratnya

Di sebuah ruang produksi yang temaram di Seoul, tepat setelah pemutaran khusus Gonjiam: Haunted Asylum, sutradara kenamaan Korea itu meletakkan secangkir kopi yang mulai mendingin. Matanya menerawang, bukan pada layar monitor yang menampilkan data box office, melainkan pada selembar foto lokasi tua di sebuah kota kecil di Jawa. Malam itu, di antara tumpukan naskah dan catatan produksi, ia membisikkan satu tekad: menghidupkan horor Indonesia lewat lensa kameranya.

Namanya sudah tidak asing bagi pencinta film horor Asia. Tangan dinginnya telah mengubah bangunan kosong menjadi pusat teror psikologis yang mendunia. Setelah sukses mengguncang penonton global dengan kisah rumah sakit jiwa terbengkalai, ia menyimpan mimpi yang lebih personal: menyentuh akar ketakutan masyarakat Indonesia. Bukan sekadar eksploitasi pasar, melainkan sebuah perjalanan untuk memahami bagaimana luka kolektif dan mitos leluhur bisa menjadi medium cerita yang menggetarkan.

Dari Gangnam hingga Gang Sempit Nusantara

Film yang melambungkan namanya, Gonjiam: Haunted Asylum, bukan sekadar film laris. Ia adalah fenomena yang membuktikan bahwa kengerian tidak harus bergantung pada lompatan visual semata. Berbekal kamera genggam dan gaya found footage, sang sutradara mampu menyelami psikologi ketakutan penonton—membuat mereka mempertanyakan apa yang nyata dan apa yang hanya proyeksi rasa bersalah. Kesuksesan itu membuka banyak pintu, termasuk undangan untuk menjelajahi lanskap horor Indonesia yang kaya akan folklore dan sejarah kelam.

“Saya selalu tertarik pada bagaimana sebuah bangsa menyimpan memori kelamnya. Korea memiliki trauma perang dan isolasi, Indonesia memiliki jejak kolonial dan spiritualitas yang begitu kuat. Saya ingin merekam getaran itu,” ia mengisahkan dalam sebuah perbincangan virtual yang hangat. Baginya, menakut-nakuti bukanlah tujuan akhir. Ia ingin penonton pulang dengan membawa secuil momen mengharukan—sebuah cermin dari luka yang sering disembunyikan.

Syarat Tak Tertulis di Balik Layar

Rencana untuk memindahkan lokasi syuting ke Indonesia bukan tanpa hambatan. Sang sutradara dengan halus menyelipkan sebuah syarat yang lahir dari pengalaman pahitnya di industri film. Ia tidak ingin proyek ini sekadar menjadi “proyek Korea yang kebetulan mengambil gambar di Indonesia.” Ia menginginkan kolaborasi yang setara—sebuah tim lokal yang dipimpin oleh sineas muda Indonesia yang hafal seluk-beluk cerita setempat, bukan hanya sebagai penerjemah teknis, melainkan sebagai rekan kreatif yang setara.

“Saya tidak mau datang sebagai orang asing yang sok tahu. Saya ingin belajar dari dukun lokal, dari penjaga makam, dari anak muda yang mendengar bisikan cerita dari kakek-neneknya. Itu syarat mutlak saya,” tegasnya, dengan nada yang lebih mirip permohonan daripada ultimatum.

Syarat ini sontak menjadi di balik layar yang paling banyak dibicarakan di kalangan komunitas film Tanah Air. Bukan perkara dana atau fasilitas mewah, melainkan sebuah pengakuan bahwa horor Indonesia bukanlah sekadar kuntilanak dan pocong yang bisa direduksi menjadi efek suara. Ada lapisan air mata dan sejarah yang perlu digali dengan hormat. Rumah-rumah sakit tua peninggalan Belanda, gedung tua di kawasan Pecinan, hingga desa terpencil yang menyimpan mitos sandekala—semua itu, dalam visinya, adalah karakter hidup yang harus diberi ruang untuk bicara.

Sebuah Kebangkitan yang Dinanti

Bagi para pegiat film horor lokal, janji ini adalah oksigen segar. Sudah lama mereka berjuang agar film hantu tidak hanya diukur dari jumlah penonton di hari pertama, tapi dari kedalaman cerita yang ditawarkan. Kehadiran sutradara sekelas ini bukan untuk mengajari, melainkan untuk berjalan bersama, membawa perspektif baru yang mungkin selama ini terlewat.

Kisah ini menjadi lebih dari sekadar gosip produksi. Di sebuah warung kopi dekat kampus film di Jakarta, sekelompok mahasiswa menghidupkan diskusi hingga larut malam. Mereka membayangkan bagaimana kolaborasi ini bisa menjadi inspirasi: bahwa sebuah mimpi untuk membuat film horor bermutu bukanlah isapan jempol. Bahwa kesuksesan box office tidak harus mengorbankan kedalaman riset. Salah seorang mahasiswa, yang tangannya gemetar karena antusias, berujar, “Jika beliau mau menyeberangi lautan untuk mendengarkan cerita hantu kita, mengapa kita sendiri sering mengabaikannya?”

Proses negosiasi masih bergulir. Namun, tekad itu sudah terlanjur menyala. Dari balik lensa, sang sutradara berjanji akan menangkap bukan hanya teriakan, melainkan juga bisikan-bisikan paling menyentuh yang lahir dari tanah dan perjuangan rakyat Indonesia. Sebuah karya yang kelak, semoga, membuat siapapun yang menontonnya bangkit dengan pemahaman baru tentang arti takut yang sebenarnya: sebuah rasa cemas yang lahir dari cinta yang tertahan, dan luka yang belum sempat disembuhkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User