Aug 25, 2026
entertainment

Segelas Air Putih, Cegukan, dan Kenangan Hangat Bersama Ibu

Di dapur mungil berdinding kayu itu, aroma tumisan bawang masih mengepul ketika suara cegukan kecil memecah keheningan sore. Naira, bocah enam tahun dengan kepang rambut miring, memegangi dadanya deng...

Segelas Air Putih, Cegukan, dan Kenangan Hangat Bersama Ibu

Di dapur mungil berdinding kayu itu, aroma tumisan bawang masih mengepul ketika suara cegukan kecil memecah keheningan sore. Naira, bocah enam tahun dengan kepang rambut miring, memegangi dadanya dengan wajah panik. Tanpa banyak kata, Laras, sang ibu, berjalan ke dapur, menuang air putih ke dalam gelas belimbing yang telah belasan tahun menemani keluarga kecil mereka, lalu menyodorkannya dengan senyum yang selalu berhasil menenangkan. "Minum pelan-pelan, Nak. Sedikit demi sedikit," bisiknya lembut sambil mengusap punggung putrinya.

Pemandangan sederhana itu, bagi Laras, bukan sekadar cara mengusir cegukan. Perempuan 34 tahun ini mengisahkan, ritual kecil tersebut adalah warisan paling berharga dari almarhumah ibunya — sebuah perjalanan kasih sayang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu gelas ke gelas lainnya.

Warisan dari Dapur Almarhumah Ibu

Laras masih ingat betul, lebih dari dua puluh tahun silam, ketika dirinya seusia Naira. Setiap kali cegukan menyerang — entah karena makan terburu-buru atau tertawa terlalu keras — ibunya akan muncul dengan segelas air putih dan sejuta kesabaran. Tidak pernah tergesa, tidak pernah mengeluh, meski cegukan itu datang di tengah malam atau di sela kesibukan mengolah dagangan di pasar.

"Ibu saya dulu selalu bilang, cegukan itu tanda tubuh minta diperhatikan sebentar. Jadi berhentilah sejenak, minumlah perlahan, dan biarkan badanmu beristirahat. Sekarang saya sadar, yang beliau berikan bukan cuma air, tapi perhatian," kenang Laras dengan mata berkaca-kaca.

Kini, setelah sang ibu berpulang tiga tahun lalu, gelas belimbing yang sama masih tersimpan rapi di rak dapur Laras. Setiap kali Naira atau suaminya terserang cegukan, gelas itulah yang ia raih pertama kali. Ada momen mengharukan yang selalu berulang: seolah sang ibu masih hadir, berdiri di sudut dapur, tersenyum menyaksikan tradisi kecilnya dilanjutkan.

Sederhana, Namun Ada Penjelasan di Baliknya

Di balik kehangatan tradisi keluarga itu, ternyata tersimpan penjelasan yang masuk akal. Cegukan terjadi ketika diafragma — otot pemisah rongga dada dan perut — mengalami kejang secara tiba-tiba, sehingga pita suara menutup mendadak dan menimbulkan bunyi khas. Kondisi ini umumnya dipicu oleh makan terlalu cepat, minuman bersoda, perubahan suhu, hingga emosi yang meluap seperti tertawa berlebihan atau rasa gugup.

Minum air putih secara perlahan diyakini membantu meredakan kejang tersebut. Saat seseorang menyesap air sedikit demi sedikit, ritme menelan yang teratur dapat merangsang saraf di sekitar tenggorokan dan membantu diafragma kembali rileks. Suhu air yang tidak terlalu dingin juga disarankan, agar otot-otot di sekitar diafragma tidak justru menegang. Selain itu, ada pula cara lain yang kerap dipraktikkan secara turun-temurun: menahan napas beberapa detik, bernapas perlahan, atau menelan sesendok gula.

Meski sebagian besar cegukan hilang dengan sendirinya dalam hitungan menit, Laras percaya sentuhan kehangatan keluarga membuat prosesnya terasa lebih ringan. "Mungkin airnya yang menyembuhkan, tapi pelukan dan perhatianlah yang membuat anak merasa aman saat panik karena cegukannya tak kunjung berhenti," ujarnya.

Lebih dari Sekadar Cara Mengusir Cegukan

Bagi keluarga kecil Laras, segelas air putih telah menjelma menjadi simbol. Ia mewakili sesuatu yang lebih besar: kepedulian yang tidak butuh biaya, perhatian yang tidak perlu diminta, dan cinta yang disampaikan lewat hal-hal paling sederhana. Di tengah dunia yang serba cepat, momen berhenti sejenak untuk menemani anak meneguk air adalah kemewahan yang sesungguhnya.

"Saya ingin Naira kelak ingat, saat ia dewasa dan mungkin jauh dari rumah, bahwa ada ibu yang selalu sigap menuangkan air setiap kali ia cegukan. Semoga ia menirunya untuk anak-anaknya nanti," tutur Laras, kali ini tak kuasa menahan air mata.

Senja itu, cegukan Naira akhirnya reda setelah gelas ketiga. Bocah itu tertawa, lalu memeluk pinggang ibunya erat-erat. Di balik layar kehidupan yang kerap terasa berat, justru hal-hal kecil semacam inilah yang diam-diam menjadi jangkar: sebuah pengingat bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk besar, melainkan sering kali hanya setinggi segelas air putih — jernih, sederhana, dan selalu ada saat dibutuhkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User