Aug 25, 2026
entertainment

Senja di Hoi An: Kisah Cinta yang Menyala di Kota Lentera

Sore itu, langit di atas Sungai Thu Bon berubah keemasan. Seorang perempuan muda bernama Laras berdiri di tepi dermaga kayu, menggenggam lentera kertas berwarna jingga. Di sampingnya, sang suami, Dima...

Senja di Hoi An: Kisah Cinta yang Menyala di Kota Lentera

Sore itu, langit di atas Sungai Thu Bon berubah keemasan. Seorang perempuan muda bernama Laras berdiri di tepi dermaga kayu, menggenggam lentera kertas berwarna jingga. Di sampingnya, sang suami, Dimas, tersenyum sambil menyalakan lilin kecil di dalamnya. Ketika lentera itu dilepaskan ke permukaan sungai, cahayanya bergabung dengan ratusan cahaya lain — seperti bintang yang jatuh ke air.

Pasangan asal Yogyakarta itu bukan satu-satunya yang jatuh cinta pada senja di Hoi An. Setiap sore, ketika matahari mulai turun, kota tua di pesisir tengah Vietnam ini berubah menjadi panggung romansa yang tak pernah gagal membuat siapa pun terdiam.

Kota Tua yang Menyimpan Waktu

Hoi An berada di Provinsi Quang Nam, di jantung wilayah tengah Vietnam. Dari Kota Da Nang, perjalanan darat dengan mobil hanya memakan waktu kurang lebih empat puluh menit — cukup singkat untuk sebuah perjalanan yang terasa seperti menembus waktu.

Begitu memasuki kawasan kota tuanya, deru kendaraan bermotor perlahan menghilang. Yang terdengar hanya langkah kaki di atas batu tua, denting sepeda, dan alunan musik dari kafe-kafe mungil. Rumah-rumah berdinding kuning mustard berdiri berdampingan dengan kuil tua dan jembatan beratap yang telah berusia ratusan tahun.

"Di sini, waktu seperti berjalan lebih pelan. Kami bahkan lupa memeriksa ponsel," ujar Dimas sambil tertawa kecil.

Lentera, Sungai, dan Doa yang Mengapung

Senja adalah saat paling dinanti di Hoi An. Satu per satu, lentera sutra aneka warna dinyalakan di sepanjang jalan kota tua. Merah, kuning, biru, ungu — cahayanya memantul di dinding-dinding tua dan permukaan sungai, menciptakan suasana yang nyaris mustahil dilukiskan kata-kata.

Di tepi Sungai Thu Bon, perahu-perahu kayu kecil mulai hilir mudik membawa pasangan dan keluarga. Para wisatawan membeli lentera kertas dari ibu-ibu penjual yang duduk bersila di dermaga, menuliskan harapan, lalu melepaskannya ke air.

"Setiap lentera membawa doa. Ada yang berdoa untuk orang tuanya, ada yang untuk anaknya, ada yang untuk cintanya," tutur Lan, perempuan lokal yang telah dua puluh tahun menjual lentera di dermaga itu. Tangannya yang keriput dengan hati-hati menyerahkan lentera kepada setiap pembeli, seolah menyerahkan sesuatu yang suci.

Bagi Laras, momen itu menjadi titik balik. Setahun sebelumnya, ia dan Dimas nyaris menyerah pada jarak ketika Dimas harus bekerja di luar negeri. Perjalanan ke Hoi An adalah janji yang mereka tunda bertahun-tahun.

"Kami pernah hampir berpisah. Tapi di sini, melihat lentera-lentera itu mengapung, aku sadar cinta itu seperti cahaya kecil — harus dijaga supaya tidak padam," kata Laras, suaranya bergetar.

Perjalanan yang Sederhana, Kenangan yang Abadi

Menuju Hoi An sebenarnya tidaklah sulit. Kebanyakan pelancong terbang ke Da Nang terlebih dahulu, lalu melanjutkan perjalanan singkat menyusuri jalan pesisir menuju kota tua ini. Sepanjang jalan, hamparan pantai dan desa-desa nelayan menyambut mata.

Sore hari adalah waktu terbaik untuk tiba. Setelah berkeliling menyusuri gang-gang kecil, mencicipi kopi Vietnam dan mi cao lau yang legendaris, pengunjung bisa duduk di tepi sungai menunggu langit berubah warna — dari jingga, merah muda, hingga ungu kebiruan.

Ketika malam benar-benar tiba, kota ini tidak lantas gelap. Justru di sanalah Hoi An menunjukkan wajahnya yang paling memikat: ribuan lentera menyala bersamaan, dan sungai berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan cahaya dan tawa manusia.

Senja yang Mengajarkan Arti Pulang

Bagi banyak orang, Hoi An mungkin hanya titik singgah dalam peta perjalanan. Namun bagi mereka yang datang dengan hati terbuka, kota kecil ini menawarkan sesuatu yang lebih dalam: kesempatan untuk berhenti sejenak, menggenggam tangan orang yang dicintai, dan mengingat kembali alasan kita berjuang selama ini.

Malam itu, sebelum kembali ke penginapan, Laras dan Dimas berdiri lama di Jembatan Jepang yang ikonik. Di bawah mereka, lentera-lentera masih mengapung perlahan menuju muara.

"Kalau suatu hari kami tua dan lupa banyak hal," ucap Dimas pelan, "aku harap senja ini yang terakhir hilang dari ingatan."

Dan di Hoi An, senja memang tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya bersembunyi di balik lentera, menunggu untuk dinyalakan kembali — oleh setiap pasangan, setiap keluarga, setiap hati yang datang mencari kehangatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User