Senja perlahan meninggalkan langit Jakarta ketika lampu panggung utama Lalala Fest 2026 mulai meredup. Ribuan orang yang sejak sore menanti di depan panggung serentak terdiam, seolah menahan napas bersama. Di tengah kerumunan itu, ada yang menggenggam tangan pasangannya erat-erat, ada pula yang berdiri sendiri dengan mata setengah berbinar. Semua menunggu satu nama yang sama: Kodaline.
Band asal Dublin, Irlandia, itu bukan sekadar pengisi acara. Bagi banyak penonton, lagu-lagu Kodaline adalah teman di kamar yang gelap, pengantar tidur di malam yang panjang, dan alasan untuk percaya bahwa luka perlahan bisa sembuh. Maka ketika empat lelaki itu akhirnya naik ke panggung, pekikan riuh memecah keheningan, diikuti gelombang tepuk tangan yang tak kunjung reda.
Sebuah Perjalanan Panjang yang Berujung di Panggung Ini
Kodaline memulai perjalanannya dari panggung-panggung kecil di pub-pub Dublin, jauh sebelum nama mereka dikenal hingga ke pelosok dunia. Perjalanan itu, menurut mereka, adalah bagian paling berharga, karena dari sanalah mereka belajar bahwa musik bukan soal popularitas, melainkan soal kejujuran perasaan.
Di Lalala Fest 2026, kejujuran itu terasa nyata. Ketika Steve Garrigan, sang vokalis, membuka mulut untuk menyanyikan "All I Want", panggung yang tadinya hingar-bingar berubah menjadi ruang yang khusyuk. Ribuan suara bergabung menjadi satu, tanpa dirigen, tanpa latihan, hanya oleh rasa yang sama. Di barisan depan, seorang perempuan berusia tiga puluhan menyeka sudut matanya dengan lengan jaket.
"Lagu ini yang menemani saya saat kehilangan orang tua dua tahun lalu," tuturnya pelan. "Saya datang sendirian malam ini, tapi justru di sini saya merasa paling tidak sendiri. Rasanya semua orang di ruangan ini mengerti apa yang pernah saya rasakan."
Air Mata, Pelukan, dan Kebersamaan yang Tak Terucap
Yang membuat penampilan Kodaline terasa berbeda bukanlah efek panggung yang megah atau tata cahaya yang rumit. Justru kesederhanaan mereka yang menyentuh. Hampir sepanjang konser, keempat personel hanya berdiri di atas panggung dengan instrumen masing-masing, membiarkan lagu berbicara. Ketika "High Hopes" dimulai, suasana berubah: ribuan tangan terangkat ke udara, bergoyang pelan seperti ilalang tertiup angin.
Di antara kerumunan, sepasang kekasih berpelukan tanpa berkata-kata. Di sudut lain, sekelompok sahabat bernyanyi dengan suara parau, tidak peduli nada mereka melenceng. Ada juga seorang ayah yang menggendong anaknya di pundak, memperkenalkan lagu yang dulu ia dengarkan saat masih kuliah. Momen-momen seperti inilah yang membuat konser bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk mengenang, merayakan, dan berdamai dengan diri sendiri.
Di Lalala Fest 2026, Kodaline membuktikan bahwa lagu yang jujur tidak pernah kehilangan kekuatannya, bahkan ketika dunia terus berubah cepat dan tren berlalu silih berganti.
Penutup yang Meninggalkan Bekas di Hati
Menjelang lagu pamungkas, Steve sempat berhenti sejenak dan menatap lautan manusia di hadapannya. Dengan senyum tipis, ia berkata bahwa malam itu adalah salah satu malam terbaik dalam perjalanan bandnya. Kata-katanya sederhana, tapi cukup membuat ribuan orang berteriak lebih keras dari sebelumnya.
Saat lampu kembali menyala dan penonton mulai beranjak, banyak yang masih berdiri diam di tempatnya, seolah enggan mengakhiri malam. Beberapa orang terlihat saling berpelukan dengan orang asing. Seorang penonton muda mengisahkan bahwa ia baru pertama kali menonton konser sendirian, dan malam itu mengubah caranya memandang kesendirian.
"Saya belajar bahwa berduka dan berharap bisa berjalan bersamaan," katanya. "Malam ini, lewat lagu-lagu mereka, saya merasa diberi izin untuk keduanya."
Kodaline mungkin sudah meninggalkan panggung Lalala Fest 2026, tetapi suara mereka, dan seluruh perasaan yang menyertainya, masih bergema di hati ribuan orang yang pulang dengan langkah ringan dan hati yang lebih penuh. Bukankah itu yang sebenarnya dicari setiap orang dari sebuah lagu? Bukan sekadar nada, melainkan rasa bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Comments (0)