Oct 12, 2026
entertainment

Saat Suara Bocelli Bergema di Petra, Gelombang Boikot pun Mencuat

Di bawah langit gurun yang mulai gelap, bayangan Petra berdiri megah seperti penjaga waktu. Situs warisan dunia itu bersiap menyambut salah satu tenor paling terkenal di dunia, Andrea Bocelli, dalam s...

Saat Suara Bocelli Bergema di Petra, Gelombang Boikot pun Mencuat

Di bawah langit gurun yang mulai gelap, bayangan Petra berdiri megah seperti penjaga waktu. Situs warisan dunia itu bersiap menyambut salah satu tenor paling terkenal di dunia, Andrea Bocelli, dalam sebuah konser yang dijadwalkan berlangsung pada musim semi mendatang. Namun, di balik gemerlap panggung yang direncanakan, sebuah gelombang protes mulai mengalir deras. Bukan tentang musik, melainkan tentang rekam jejak sang maestri yang dianggap berpihak pada Israel.

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) di Yordania mengangkat suara. Mereka tidak hanya menyerukan penolakan terhadap konser, tetapi juga mempertanyakan makna kehadiran seorang seniman di tanah yang sarat sejarah peradaban. Bagi mereka, Petra bukan sekadar latar panggung megah, melainkan simbol identitas dan solidaritas.

Rekam Jejak yang Tak Lepas dari Kontroversi

Andrea Bocelli memang dikenal dunia lewat suara emasnya yang mengharukan. Lagu-lagu seperti Con te partirò telah menjadi bagian dari perjalanan banyak orang. Namun, di balik keindahan itu, ia pernah menggelar konser di Israel pada tahun 2019 dan beberapa kali menyampaikan dukungan terbuka terhadap negara tersebut. Bagi banyak pihak di Yordania, jejak itu tidak bisa dipisahkan dari pilihan politik yang mereka anggap melukai rasa keadilan.

“Kami tidak menolak seni. Kami menolak normalisasi,” ujar seorang aktivis BDS Yordania dalam sebuah pertemuan tertutup, seperti dikutip dari pernyataan organisasi itu. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan luka panjang. Bagi mereka, setiap panggung yang berdiri di tanah Arab harus bebas dari simbol penindasan.

Keputusan untuk menyerukan boikot bukanlah hal yang mudah. Ada perdebatan di dalam komunitas seni Yordania sendiri. Sebagian melihat konser ini sebagai peluang untuk mendatangkan wisatawan dan menghidupkan kembali ekonomi Petra pasca pandemi. Namun, bagi yang lain, nilai solidaritas jauh lebih mahal daripada tiket masuk dan sorotan kamera.

Petra, Panggung yang Menyimpan Rasa

Petra bukan sekadar destinasi wisata. Kota kuno yang diukir di tebing batu merah muda itu menyimpan kisah peradaban Nabatean, jejak perjalanan manusia yang bertahan melintasi zaman. Setiap sudutnya berbicara tentang ketangguhan, tentang bagaimana manusia membangun sesuatu yang abadi dari batu yang keras.

Maka, ketika nama Bocelli disebut akan tampil di sana, banyak orang merasa ada yang tidak selaras. Bagi warga lokal, Petra adalah rumah. Ia bukan sekadar latar untuk konser spektakuler. “Kami ingin dunia melihat Petra sebagai warisan kami, bukan sebagai panggung yang melupakan suara kami,” ujar seorang pemandu wisata setempat yang enggan disebut namanya.

Ia mengisahkan bagaimana setiap hari ia membawa wisatawan menyusuri celah sempit Siq, menjelaskan ukiran-ukiran yang menyimpan doa dan harapan. Baginya, keindahan Petra tidak perlu divalidasi oleh panggung dunia yang justru mengabaikan nurani.

Di sisi lain, penyelenggara konser belum memberikan pernyataan resmi terkait seruan boikot ini. Mereka berharap acara tetap berjalan dan membawa dampak positif bagi perekonomian setempat. Namun, tekanan publik terus menguat. Sejumlah tokoh seni dan akademisi Yordania turut menandatangani petisi yang menolak kehadiran Bocelli.

Ketika Musik Berbicara Lebih dari Sekadar Nada

Musik seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Namun, dalam konteks politik yang panas, bahkan nada-nada indah pun bisa berubah makna. Bagi BDS Yordania, konser ini bukan tentang Bocelli sebagai individu, melainkan tentang pesan yang dibawa. Mereka khawatir kehadirannya justru melegitimasi kebijakan yang mereka tentang.

“Kami menghormati seni, tetapi kami tidak bisa menutup mata,” kata seorang mahasiswi seni di Amman yang bergabung dalam aksi solidaritas. “Jika kita diam, berarti kita ikut bersuara. Dan suara kami adalah suara Palestina.”

Air mata mungkin tidak terlihat di permukaan, tetapi luka itu nyata. Di balik gemerlap panggung yang direncanakan, ada perjuangan panjang untuk mempertahankan identitas dan keadilan. Petra, dengan segala kemegahannya, kini menjadi saksi bisu dari sebuah dilema: antara keindahan seni dan panggilan hati nurani.

Hingga kini, konser itu masih dalam ketidakpastian. Namun, satu hal yang pasti, suara rakyat Yordania telah bergema lebih keras dari sekadar tepuk tangan. Mereka tidak hanya menunggu, tetapi juga bergerak. Dan di tanah yang penuh sejarah itu, sebuah momen mengharukan terjadi: ketika seni bertemu dengan keberanian untuk berkata tidak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User