Oct 12, 2026
entertainment

Jejak Pulang Selepas Konser A7X di JIS

Lampu panggung Jakarta International Stadium perlahan meredup. Dua puluh ribu suara yang tadi bergemuruh menyanyikan Hail to the King kini berganti gumaman lelah yang bahagia. Di tribun timur, Rendra,...

Jejak Pulang Selepas Konser A7X di JIS

Lampu panggung Jakarta International Stadium perlahan meredup. Dua puluh ribu suara yang tadi bergemuruh menyanyikan Hail to the King kini berganti gumaman lelah yang bahagia. Di tribun timur, Rendra, 27 tahun, masih berdiri mematung. Kaus hitamnya basah oleh keringat, matanya menerawang ke arah panggung yang mulai dibongkar petugas. "Saya menunggu momen ini sejak SMA," ujarnya pelan, suaranya serak. "Rasanya seperti mimpi yang tidak ingin saya akhiri."

Malam itu, Sabtu (10/10), bukan sekadar konser. Ia menjadi perjalanan pulang bagi ribuan orang yang datang dari berbagai kota, membawa kisah masing-masing, dan kini harus berhadapan dengan kenyataan yang jauh dari gemerlap panggung: bagaimana caranya keluar dari stadion raksasa itu tanpa tersesat, tanpa kehabisan tenaga, dan tanpa kehilangan euforia yang masih membara di dada.

Di Balik Gerbang yang Menyempit

Di sudut gerbang barat, seorang petugas keamanan bernama Pak Anton, 52 tahun, mengisahkan bagaimana arus manusia bergerak seperti sungai yang mencari muara. "Saya sudah bertugas di sini sejak stadion dibuka. Tiap konser besar, selalu ada saja yang bingung cari pintu keluar," katanya sambil menunjuk pintu keluar khusus di sisi utara. Ia menyarankan agar penonton tidak terburu-buru menuju gerbang utama yang biasanya paling padat. "Lebih baik jalan sedikit ke samping, ke gerbang timur atau selatan. Sepuluh menit lebih lama, tapi tidak berdesakan."

Panduan sederhana ini sering luput dari perhatian. Padahal, menurut Anton, memahami jalur keluar bukan soal teknis semata. Ia adalah soal menjaga keselamatan bersama. "Saya pernah lihat ibu-ibu terjatuh karena terdesak. Sejak itu saya selalu bilang, pelan-pelan saja, tidak usah takut ketinggalan kereta," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Ketika Lelah dan Rindu Bercampur

Di luar stadion, suasana berbeda menyambut. Pedagang air mineral, penjual jaket, dan pengemudi ojek daring berbaur menjadi satu denyut nadi. Seorang perempuan muda, Sari, 23 tahun, duduk di trotoar bersama dua temannya. Ia baru saja menangis haru saat band idolanya membawakan So Far Away. "Saya datang dari Bandung naik bus malam. Sekarang saya harus cari cara pulang karena bus terakhir sudah lewat," ujarnya sambil tersenyum getir.

Sari bukan satu-satunya. Banyak penonton dari luar kota menghadapi dilema yang sama: menunggu ojek daring yang antreannya mengular, atau berjalan kaki beberapa kilometer menuju stasiun terdekat. Beberapa memilih berbagi tumpangan, saling berkenalan di tengah kerumunan. "Di sini saya justru dapat teman baru. Kami janji saling kabari kalau sudah sampai rumah," kata Sari, suaranya menghangat.

Perjalanan yang Menyentuh

Momen mengharukan justru hadir dalam hal-hal kecil. Seorang ayah menggendong anak perempuannya yang tertidur di bahunya, sementara tangan satunya menggenggam dua tiket konser sebagai kenang-kenangan. Sepasang kakek-nenek berjalan pelan sambil tertawa, mengenang masa muda mereka yang juga dipenuhi musik keras. "Kami tidak muda lagi, tapi semangatnya masih sama," ujar sang kakek, yang enggan disebut namanya, sambil menggamit tangan istrinya.

Pulang dari konser memang bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah proses melepas. Melepas gemuruh bass yang masih berdenging di telinga, melepas sorot lampu yang membekas di pelupuk mata, dan perlahan kembali menjadi diri sendiri. Di tengah himpitan manusia dan asap knalpot, ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Sebuah perjalanan pulang yang, bagi banyak orang, justru menjadi bagian paling menyentuh dari keseluruhan malam.

Menjelang tengah malam, Rendra akhirnya bergerak. Ia menyusuri jalur samping yang sepi, melewati gerbang timur yang lengang. Di luar, sebuah ojek daring sudah menunggu. Ia menoleh sekali lagi ke arah stadion yang kini sunyi. "Sampai jumpa lagi," bisiknya, lalu menghilang ditelan gelap jalanan. Malam itu, ribuan kisah pulang berjalan bersamaan, masing-masing membawa sisa euforia yang akan mereka kenang seumur hidup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User