Di sebuah sudut ruang serbaguna yang masih dipenuhi aroma cat segar, Rani duduk termenung sambil menggenggam cangkir keramik buatan tangannya sendiri. Perempuan berusia 34 tahun itu menatap kosong ke arah deretan meja panjang yang belum tertata. Beberapa bulan lagi, tepatnya 9 hingga 11 Oktober 2026, ia akan membawa cangkir itu ke salah satu panggung paling bergengsi bagi para pelaku industri kafe Tanah Air: Cafe & Brasserie Expo (CBE) 2026 di NICE PIK 2, Tangerang.
"Ini bukan sekadar pameran bagi saya," ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi mesin espresso di sudut ruangan. "Ini tentang membuktikan bahwa mimpi kecil dari dapur rumah bisa berdiri sejajar dengan merek-merek besar."
Perjalanan Panjang Sebuah Cangkir
Kisah Rani adalah satu dari ratusan cerita yang akan mewarnai gelaran akbar tersebut. Ia memulai usaha kedai kopinya empat tahun lalu dari teras rumah berukuran 3x4 meter di kawasan Ciputat. Modal awalnya hanya mesin seduh manual dan satu set cangkir pemberian sang ibu. Kini, produknya telah dipesan dari berbagai kota, dan CBE 2026 menjadi panggung pertamanya di level nasional.
"Dulu saya cuma berani jualan ke tetangga. Sekarang saya harus menyiapkan 500 cangkir untuk pameran," tuturnya sambil tersenyum getir. "Tangan saya sampai gemetar setiap kali membayangkan berdiri di sana."
Perjalanan Rani bukan tanpa air mata. Ia pernah gagal menyewa booth di sebuah bazar lokal karena dianggap belum memiliki nama. Namun kegagalan itu justru menjadi bahan bakar. Ia belajar memanggang biji kopi sendiri, membangun komunitas penikmat kopi rumahan, dan perlahan-lahan namanya mulai diperbincangkan.
Panggung bagi yang Berjuang dari Bawah
CBE 2026 memang dirancang bukan hanya untuk pemain besar. Ajang ini kerap menjadi titik balik bagi pelaku usaha kecil yang berjuang dari nol. Di balik layar, panitia menyiapkan zona khusus bagi perintis usaha yang baru merintis, lengkap dengan pendampingan kurasi produk dan pelatihan presentasi.
Bagi banyak peserta, tiga hari di bulan Oktober itu bisa mengubah arah hidup. Ada yang datang hanya dengan satu resep andalan, lalu pulang membawa jaringan distributor. Ada pula yang berangkat dengan ragu, namun menemukan investor yang percaya pada visinya.
"Yang menyentuh itu bukan angka transaksinya," kata Rani. "Tapi ketika ada orang asing mencicipi kopi saya, lalu bilang, 'Ini enak, saya ingin beli untuk kafe saya.' Momen itu seperti seluruh perjuangan saya diakui."
Mimpi yang Belum Usai
Menjelang CBE 2026, Rani masih harus menyelesaikan banyak hal. Kemasannya belum final, labelnya masih dirancang ulang, dan ia belum yakin bisa membawa semua varian rasanya. Namun ia tak ingin menyerah pada keraguan.
"Saya ingat pesan ibu saya dulu, 'Kalau kamu percaya pada rasamu, maka orang lain akan percaya juga,'" ujarnya sembari menahan haru. "Saya bawa pesan itu ke mana-mana, termasuk nanti ke Tangerang."
Di balik hiruk pikuk industri kafe yang kian gemerlap, kisah-kisah seperti milik Rani menjadi pengingat bahwa setiap merek besar selalu dimulai dari langkah kecil yang penuh keberanian. Dan di panggung CBE 2026, cangkir-cangkir sederhana itu akan berbicara lebih lantang dari sekadar kata.
Bagi Rani, ini bukan akhir perjalanan. Ini justru awal dari mimpi yang lebih besar—mimpi untuk membawa rasa Indonesia ke meja-meja dunia.
Comments (0)