Oct 10, 2026
entertainment

Seni Liburan Estetik ke Luar Negeri Tanpa Menguras Tabungan

Di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rania menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Di sana terpampang foto dirinya berdiri di depan Menara Eiffel, syal wol melingkar di leher...

Seni Liburan Estetik ke Luar Negeri Tanpa Menguras Tabungan

Di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rania menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Di sana terpampang foto dirinya berdiri di depan Menara Eiffel, syal wol melingkar di leher, senyum merekah di tengah dinginnya angin musim gugur. Bagi banyak orang, gambar itu mungkin tampak seperti mimpi mahal. Namun bagi perempuan 27 tahun yang bekerja sebagai staf administrasi itu, momen tersebut adalah buah dari perencanaan delapan bulan yang sangat sederhana.

"Awalnya aku cuma iseng masukkan uang seratus ribu tiap gajian ke celengan digital. Nggak kerasa, setahun kemudian bisa buat tiket dan hidup sepuluh hari di sana," kisahnya lirih, sembari tersenyum mengingat perjuangannya menahan diri dari jajan kopi kekinian demi mewujudkan mimpi itu.

Uang Receh yang Menjelma Jadi Tiket Pesawat

Kisah Rania bukanlah cerita tunggal. Di berbagai penjuru negeri, semakin banyak orang berjuang menyulap pendapatan pas-pasan menjadi perjalanan lintas benua. Mereka mengisahkan bagaimana liburan ke luar negeri tak lagi identik dengan dompet tebal. Ada strategi kecil yang dijalankan dengan disiplin, seperti mencatat pengeluaran harian hingga menyisihkan dana khusus dalam rekening terpisah.

"Yang penting bukan seberapa besar penghasilan kita, tapi seberapa konsisten kita menyisihkan untuk mimpi itu," ujar Dimas, seorang pekerja lepas desain grafis yang sempat menabung dua tahun untuk menginjakkan kaki di Tokyo.

Perjalanan Dimas pun tak lepas dari air mata kecil. Ia pernah hampir menyerah saat dana tabungannya tergerus kebutuhan mendesak. Namun tekadnya bangkit kembali setelah membaca jurnal perjalanan orang lain. Ia kembali menata rencana, memangkas pengeluaran, dan memilih waktu keberangkatan di luar musim ramai.

Memilih Waktu dan Tujuan dengan Cermat

Di balik layar setiap foto estetik yang tersebar di media sosial, ada riset panjang yang jarang terlihat. Para pelancong hemat biasanya memburu tiket jauh hari, memanfaatkan promo maskapai, serta memilih destinasi yang nilai tukarnya bersahabat. Mereka juga rela menginap di hostel sederhana atau berbagi kamar dengan sesama pelancong demi menekan biaya.

Momen mengharukan sering muncul justru dari kesederhanaan itu. Seorang ibu dua anak asal Surabaya, misalnya, mengisahkan bagaimana ia dan suaminya menyisihkan uang belanja bulanan selama tiga tahun. Ketika akhirnya berdiri di depan laut Adriatik, ia menangis haru. "Rasanya semua pengorbanan kecil itu terbayar. Anak-anak melihat dunia yang lebih luas dari yang pernah kami bayangkan," kenangnya.

Inspirasi dari Perjalanan yang Menyentuh

Bagi banyak orang, perjalanan ke luar negeri bukan sekadar mengumpulkan foto. Ia menjadi semacam perayaan atas kerja keras, pengingat bahwa mimpi tak selalu butuh biaya besar, melainkan niat dan ketekunan. Setiap langkah di tanah asing menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang.

Kini, Rania kembali ke rutinitasnya dengan semangat baru. Foto-foto lamanya di Paris menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bisa dirajut dari hal-hal kecil. Ia pun mulai menabung lagi, kali ini untuk tujuan berikutnya. "Perjalanan itu mengajarku bahwa dunia ini bisa dijangkau asal kita mau sedikit bersabar dan berkorban," tuturnya, penuh haru.

Kisah-kisah semacam ini adalah oase di tengah gaya hidup konsumtif. Mereka menyentuh sisi manusiawi kita, mengingatkan bahwa liburan estetik tak harus mewah. Dengan perencanaan, disiplin, dan sedikit keberanian bermimpi, langit di belahan dunia lain pun bisa menjadi latar cerita kita sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User