Oct 12, 2026
entertainment

Mimpi Jepang di Balik Meja Pameran

Di sudut lobi Plaza Indonesia yang lapang, sebuah meja panjang ditata rapi dengan brosur berwarna merah dan putih. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depannya, jari-jarinya menggenggam selebaran ...

Mimpi Jepang di Balik Meja Pameran

Di sudut lobi Plaza Indonesia yang lapang, sebuah meja panjang ditata rapi dengan brosur berwarna merah dan putih. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depannya, jari-jarinya menggenggam selebaran bertuliskan peta Tokyo. Matanya menerawang, seperti sedang membayangkan dirinya berjalan di bawah rimbun pohon sakura yang belum pernah ia sentuh.

"Saya menabung empat tahun untuk ini," ujarnya lirih kepada staf yang melayani. "Anak saya kuliah di Osaka. Sudah dua tahun kami hanya bertemu lewat layar."

Percakapan sederhana itu menjadi pemandangan yang berulang sepanjang hari di acara pameran perjalanan bertajuk HSBC-ANA Travel Fair 2026. Bukan sekadar ajang jualan tiket dan paket wisata, tempat ini menjelma menjadi ruang pertemuan antara mimpi dan kenyataan—tempat orang-orang biasa berjuang mewujudkan perjalanan yang selama ini hanya tersimpan dalam angan.

Ketika Jarak Menjadi Alasan untuk Berjuang

Antrean mengular sejak pagi. Sebagian besar pengunjung bukanlah pelancong veteran yang rutin berkeliling dunia. Mereka adalah orang tua yang ingin menjenguk anaknya, pasangan muda yang menunda bulan madu demi cicilan rumah, dan pekerja yang menyisihkan sebagian gaji setiap bulan untuk sesuatu yang mereka sebut "ladang kebahagiaan."

Seorang pria mengenakan kemeja batik duduk di kursi tunggu, menggenggam paspor yang masih berpelastik bening—tanda dokumen itu belum pernah dipakai. Ia mengisahkan bahwa istrinya sedang menjalani pengobatan, dan dokter menyarankan perubahan suasana. "Saya pikir, kenapa tidak membawa dia melihat salju? Dia selalu bilang ingin merasakannya sekali saja sebelum..." Suaranya terputus. Ia mengalihkan pandangan ke lantai, menahan sesuatu yang berat di tenggorokan.


"Perjalanan bukan hanya soal sampai di tujuan. Kadang, perjalanan adalah cara kita mengatakan kepada orang yang kita cintai bahwa mereka masih berarti."

Di Balik Layar Sebuah Penantian

Para petugas di meja pendaftaran mengaku telah mendengar ribuan cerita serupa. Seorang staf bercerita tentang seorang nenek yang datang dengan kalkulator kecil, menghitung uang tabungannya di depan mereka sambil tersenyum. Ada pula seorang pemuda yang menanyakan paket termurah ke Hokkaido, lalu mengaku akan pergi sendirian karena kekasihnya baru saja meninggal. "Saya ingin melihat tempat yang selalu dia impikan," katanya, "sebagai perpisahan yang layak."

Momen-momen seperti itulah yang membuat suasana di pameran ini terasa berbeda. Keramaian yang biasanya identik dengan transaksi berubah menjadi semacam ruang doa bersama, tempat orang-orang saling menguatkan tanpa banyak bicara. Tawa bercampur haru, brosur berpindah tangan, dan nomor antrean terus bertambah.

Harapan yang Terbang Bersama Pesawat

Menjelang sore, cahaya matahari menembus kaca gedung dan jatuh di atas meja-meja pameran. Seorang anak kecil menarik-narik tangan ibunya, menunjuk poster Disneyland dengan mata berbinar. Sang ibu tersenyum getir, lalu berbisik, "Nanti ya, Nak. Doakan ibu dapat rezeki."

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun di ruangan itu, ia menjadi semacam janji yang diucapkan berulang-ulang oleh banyak orang—janji bahwa suatu hari nanti, mimpi kecil mereka akan benar-benar terwujud. Bahwa ada perjalanan yang layak diperjuangkan, bukan karena jauhnya, tetapi karena siapa yang menunggu di ujung sana.

Pameran akan berakhir, meja-meja akan dibongkar, dan brosur-brosur akan menjadi tumpukan kertas bekas. Tetapi kisah-kisah yang lahir di sela-selanya akan terus hidup: tentang ibu yang merindukan anaknya, tentang suami yang ingin menghibur istrinya, tentang pemuda yang mencari perpisahan yang indah. Di balik angka dan diskon, ada air mata, ada harapan, dan ada manusia-manusia sederhana yang berjuang untuk sesuatu yang mereka sebut bahagia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User