Saat Danielle Marsh Melepas Seragam NewJeans

Di sudut studio latihan yang kini terasa sunyi, Danielle duduk bersila di lantai kayu. Cermin besar di hadapannya memantulkan sosok gadis berambut panjang yang matanya sembab. Pagi itu, telepon dari m...

Jul 12, 2026 - 03:15
0 0
Saat Danielle Marsh Melepas Seragam NewJeans

Di sudut studio latihan yang kini terasa sunyi, Danielle duduk bersila di lantai kayu. Cermin besar di hadapannya memantulkan sosok gadis berambut panjang yang matanya sembab. Pagi itu, telepon dari manajemen agensi datang lebih awal dari biasanya. Suara di seberang sana datar, namun setiap kata terasa seperti belati yang menikam mimpinya. "Mulai hari ini, kamu sudah tidak lagi bersama kami," ucapnya. Dunia seakan berhenti berputar. Itulah momen yang akan selalu terpatri dalam ingatan Danielle Marsh, mantan anggota NewJeans yang harus mengakhiri perjalanannya di grup K-pop yang membesarkan namanya.

Danielle bukanlah nama asing bagi penggemar musik Korea. Wajahnya yang cerah, gerakan panggung yang energik, dan vokal yang lembut telah menjadi bagian dari identitas NewJeans sejak debut. Namun, di balik sorot lampu panggung, ada kisah yang jarang terungkap: perjuangan seorang gadis yang harus bangkit setelah kehilangan panggung yang telah menjadi rumah keduanya.

Panggilan yang Mengubah Segalanya

Hari itu, Danielle baru saja menyelesaikan sesi rekaman untuk proyek mendatang. Kelima anggota NewJeans saling melempar canda, tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang besar akan terjadi. Ketika manajer memanggilnya ke ruang rapat, ia tidak membawa prasangka apa pun. "Aku kira hanya evaluasi rutin," kenangnya. "Tapi saat aku masuk, ada beberapa orang dari manajemen pusat. Aku langsung merasa ini berbeda."

Dalam pertemuan itu, alasan yang disampaikan terasa abstrak—perbedaan visi artistik, arah karier yang tidak lagi selaras. Bagi Danielle, setiap kata yang diucapkan bagai kabut tebal yang lambat laun menenggelamkannya. "Mereka bilang ini bukan tentang bakat atau kerja kerasku. Tapi tetap saja, rasanya seperti dihempaskan dari tempat yang paling aku cintai," tuturnya dengan suara yang nyaris berbisik.

Malamnya, ia pulang ke apartemen kecilnya di Seoul dengan perasaan hampa. Di dalam tas, masih ada catatan koreografi yang baru ia pelajari. Di atas meja, terdapat jadwal latihan untuk minggu depan. Semuanya kini tak lagi berarti. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, mengiringi malam panjang tanpa tidur.

Sepenggal Kenangan di NewJeans

Perjalanan Danielle bersama NewJeans dimulai dengan sebuah audisi yang tidak direncanakan. Saat itu, ia hanya menemani seorang teman, namun justru dialah yang menarik perhatian pencari bakat ADOR. "Aku tidak menyangka akan terpilih. Rasanya seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan," kenangnya. Setelah melalui masa pelatihan yang ketat, ia debut sebagai salah satu member yang mencuri hati penggemar dengan kharisma alaminya.

Bersama Minji, Hanni, Haerin, dan Hyein, Danielle merasakan manisnya kesuksesan. Lagu-lagu mereka mendominasi tangga musik, piala acara musik datang bertubi-tubi, dan sorakan para Bunnies—sebutan untuk penggemar NewJeans—selalu menggema di setiap penampilan. "Kami seperti saudara. Kami berbagi mimpi, lelah, dan tawa di ruang latihan yang sama setiap hari. Aku pikir kami akan terus bersama selamanya," ujarnya sambil memandangi foto-foto lama di ponselnya.

Namun, di balik harmoni yang terlihat di panggung, Danielle kini mengakui ada tekanan besar yang terus membayangi. "Jadwal yang padat, ekspektasi yang terus meningkat, dan tuntutan untuk selalu sempurna kadang membuatku lupa bernapas," katanya. Meski begitu, ia tidak pernah menyangka bahwa perpisahan akan datang begitu cepat dan tanpa aba-aba.

Bangkit dari Keterpurukan

Setelah pengumuman itu, Danielle sempat menarik diri dari dunia luar. Ia berhenti membuka media sosial, menghindari berita tentang NewJeans, dan menghabiskan hari-hari di dalam kamar. "Aku merasa kehilangan separuh jiwaku. Setiap kali mendengar lagu kami, dadaku sesak," aku Danielle. Masa-masa itu adalah titik terendah dalam hidupnya.

Namun, dukungan dari keluarga dan sahabat perlahan membantunya berdiri kembali. Ibunya terbang ke Seoul untuk menemaninya, sementara teman-teman dekatnya mengirimkan pesan penyemangat setiap hari. "Ibuku bilang, 'Hidup tidak berhenti di satu pintu yang tertutup.' Kata-kata itu sederhana, tapi menyadarkanku bahwa perjalanan ini masih panjang," tuturnya dengan mata yang mulai berbinar.

Danielle mulai menata ulang langkahnya. Ia mengikuti kelas vokal privat, menulis lagu, dan menjelajahi peluang di luar sistem agensi besar. "Aku belajar bahwa identitasku tidak hanya sebagai anggota NewJeans. Aku adalah Danielle, seorang seniman yang masih punya banyak cerita untuk dibagikan," tegasnya. Kini, ia sedang mempersiapkan proyek musik independen yang akan segera diperkenalkan kepada publik.

Baginya, perpisahan dengan NewJeans bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari titik itulah ia menemukan kembali suara aslinya—sesuatu yang sempat terkubur di bawah gemerlap industri. "Aku akan selalu bersyukur pernah menjadi bagian dari NewJeans. Itu adalah bab yang indah dalam hidupku. Tapi sekarang, aku siap menulis bab baru," pungkas Danielle, kali ini dengan senyum yang lebih mantap daripada sebelumnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User