Ruben Onsu Bicara Duka, Di Mana Harga Diri Direndahkan

Senja perlahan turun di kediaman Ruben Onsu. Di balik jendela besar, pria yang selama ini dikenal dengan senyum ceria itu duduk termenung. Ada getar yang berbeda dalam suaranya ketika akhirnya ia memb...

Jul 12, 2026 - 05:48
0 0
Ruben Onsu Bicara Duka, Di Mana Harga Diri Direndahkan

Senja perlahan turun di kediaman Ruben Onsu. Di balik jendela besar, pria yang selama ini dikenal dengan senyum ceria itu duduk termenung. Ada getar yang berbeda dalam suaranya ketika akhirnya ia membuka suara. Bukan sekadar keluh kesah selebritas, melainkan jerit hati seorang manusia yang harga dirinya pernah diinjak-injak oleh kata-kata. Di tangannya, secangkir kopi yang sudah dingin menjadi saksi bisu perbincangan sore itu—perbincangan yang menguras emosi, namun juga menjadi awal dari sebuah kelegaan.

"Saya cuma manusia biasa," ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh rintik hujan di luar. Di matanya, tergenang cerita yang selama bertahun-tahun ia pendam. Cerita tentang panggilan yang merendahkan, tentang tuduhan yang mengoyak jati diri. Tentang mantan istri yang, menurutnya, pernah menyebutnya dengan istilah yang sangat ia benci: cong. Bukan sekadar ejekan di tengah pertengkaran rumah tangga, melainkan sebuah label yang sengaja dilemparkan untuk menghantam bagian paling rapuh dalam dirinya.

Bagi Ruben, kata itu adalah pisau bermata dua yang mengiris dua sisi sekaligus: menghina orientasi dan merendahkan profesinya sebagai penghibur. Selama bertahun-tahun ia membangun karier dari bawah, menjadi presenter, komedian, dan pengusaha yang disegani. Namun, semua kerja keras itu seolah runtuh hanya dengan satu kata yang keluar dari mulut orang terdekatnya.

Kata yang Lebih Tajam dari Belati

Malam itu, saat pertengkaran tak terelakkan, Ruben mendengar langsung bagaimana ia disebut 'cong' dan dituduh menghidupi keluarga dari uang bencong. "Padahal, yang saya lakukan selama ini hanyalah bekerja keras, mencari nafkah halal. Tapi kenapa harus dibalas dengan hinaan seperti itu?" kenangnya, nada suaranya bergetar menahan amarah yang sudah lama terpendam. Kalimat itu bukan hanya menusuk; ia seperti petir yang membakar seluruh kenangan indah yang pernah dibangun bersama.

Ruben tidak serta-merta membalas. Sebagai figur publik yang terbiasa menahan diri di depan kamera, ia memilih diam—mengubur luka itu dalam-dalam. Namun, diam bukan berarti sembuh. Setiap kali ia mengingat momen itu, rasa sakitnya kembali hadir. "Saya diam saja, tapi sakitnya luar biasa," bisiknya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Luka itu tidak terlihat oleh mata, tetapi ia tahu, luka di dalam jiwa sering kali yang paling sulit disembuhkan.

Di Balik Panggung Gemerlap

Sosok Ruben Onsu yang selama ini tampil di televisi penuh tawa, luwes, dan penuh energi, ternyata menyimpan luka yang menganga. Perjalanan kariernya di dunia hiburan memang tak lepas dari stereotipe. Sebagai pria dengan pembawaan lembut dan ekspresif, ia kerap menjadi bulan-bulanan prasangka. Namun, ejekan dari orang terdekat—itulah yang paling membekas, karena datang dari tangan yang dulu paling sering ia genggam.

"Saat masih bersama, saya berusaha menjadi suami yang baik. Saya tidak pernah membeda-bedakan. Semua saya berikan, termasuk kepercayaan penuh," tuturnya pelan. Ia mengingat bagaimana ia membangun rumah tangga dengan penuh harapan, membesarkan anak-anak dengan cinta, dan mendukung karier sang istri. Semua itu, di matanya, justru berakhir dengan pengkhianatan verbal yang begitu dalam. "Saya sempat bertanya-tanya, apa saya seburuk itu sampai pantas mendapat perlakuan seperti itu?"

Proses pemulihan tidaklah instan. Ruben mengakui, dukungan dari anak-anak dan sahabat-sahabat sejatinya menjadi tali yang menahannya agar tidak jatuh semakin dalam. Ia belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh ejekan orang lain, melainkan oleh ketulusan hatinya sendiri dalam menjalani hidup. Dalam kesendirian, ia mulai merangkai kembali kepingan-kepingan harga diri yang berserakan.

Bangkit dari Luka, Menemukan Jati Diri

Lambat laun, Ruben berdamai dengan masa lalu. Bukan karena luka itu sudah hilang sepenuhnya, melainkan karena ia memilih untuk tidak lagi membiarkan dirinya terpuruk. "Saya maafkan, walau mungkin bekas lukanya masih ada. Tapi saya tidak mau dendam. Itu hanya akan menguras energi saya," ucapnya, kali ini dengan mata yang mulai berbinar.

Ia kini lebih fokus membesarkan buah hati dan terus berkarya di dunia hiburan. Setiap proyek baru, setiap tawa yang ia hadirkan di televisi, adalah terapi tersendiri. "Anak-anak adalah penyembuh terbaik. Melihat mereka tersenyum, saya jadi sadar, hidup ini terlalu berharga untuk terus meratapi kata-kata yang menyakitkan," katanya.

Ruben juga berharap, kisah yang ia alami bisa menjadi pelajaran bagi pasangan lain—bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Di tengah pertengkaran, jagalah lisan. Karena sekali terucap, luka yang ditimbulkan bisa bertahan seumur hidup. "Saya tidak ingin ada yang mengalami apa yang saya alami. Hargai pasangan kalian, jangan pernah merendahkan, apalagi di depan banyak orang," pesannya.

Di penghujung sore itu, Ruben menyudahi perbincangan. Hujan sudah reda. Langit mulai menampakkan semburat jingga. Di wajahnya, ada secercah kelegaan. Lelaki itu telah melepaskan beban yang selama ini menghimpit dadanya. Malam ini, ia mungkin akan tidur sedikit lebih nyenyak. Bukan karena semuanya sudah selesai, melainkan karena ia telah memilih untuk berjalan maju—membawa luka yang kini telah menjadi bagian dari kisah hidupnya, tanpa lagi dihantui oleh satu kata yang pernah menghancurkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User