Oct 13, 2026
entertainment

Rindu Anak yang Ingin Bertemu Ayah dalam Formasi Lengkap

Di ruang tamu yang sunyi, Sarwendah duduk termenung memandangi foto keluarganya. Ada satu bagian yang kosong dalam bingkai itu, sebuah ruang yang dulu terisi oleh tawa Ruben Onsu. Sejak perpisahan mer...

Rindu Anak yang Ingin Bertemu Ayah dalam Formasi Lengkap

Di ruang tamu yang sunyi, Sarwendah duduk termenung memandangi foto keluarganya. Ada satu bagian yang kosong dalam bingkai itu, sebuah ruang yang dulu terisi oleh tawa Ruben Onsu. Sejak perpisahan mereka, perempuan itu menghadapi pertanyaan paling sulit dari dua buah hatinya: kapan mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu. Pertanyaan yang membuat air mata menetes tanpa bisa dibendung.

"Mereka pengin ketemu papa dengan lengkap, semua ada," ujarnya suatu ketika, suaranya bergetar saat mengisahkan permintaan polos kedua putrinya. Kalimat itu sederhana, namun menyimpan luka yang dalam. Dua anak kecil itu tidak memahami mengapa keluarga mereka harus terpisah, mengapa pelukan harus dibagi, mengapa tawa tidak lagi utuh dalam satu meja makan.

Rindu yang Tak Selalu Bisa Dijelaskan

Sarwendah mengisahkan bagaimana kedua putrinya kerap bertanya tentang ayah mereka. Pertanyaan-pertanyaan polos itu datang saat menjelang tidur, saat makan malam, atau bahkan di tengah permainan. "Mereka selalu ingin bertemu papa dengan formasi lengkap," tuturnya. Formasi lengkap yang dimaksud adalah momen sederhana namun bermakna: ayah, ibu, dan anak-anak duduk bersama, tanpa batasan waktu, tanpa jadwal yang mengikat.

Keinginan itu bukan sekadar permintaan biasa. Bagi Sarwendah, ini adalah cerminan hati anak-anak yang belum sepenuhnya memahami dinamika orang dewasa. Mereka hanya tahu bahwa ada dua sosok yang mereka cintai, dan mereka ingin keduanya ada dalam satu ruang yang sama.

"Saya nggak pernah menghalangi mereka untuk bertemu papa. Justru saya ingin mereka tetap merasakan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya."

Perjuangan Seorang Ibu di Balik Layar

Di balik senyum yang kerap ia tampilkan di depan kamera, Sarwendah berjuang mengelola emosinya sendiri. Ia harus menjadi kuat di depan anak-anak, meski kadang hatinya remuk mendengar kerinduan mereka. Ada malam-malam ketika ia harus menenangkan tangis buah hatinya, sementara ia sendiri menahan tangis.

Perjalanan menjadi ibu tunggal bukan hal yang mudah. Setiap keputusan harus dipertimbangkan matang, terutama yang berkaitan dengan hubungan anak-anak dan ayah mereka. Ia menyadari bahwa kebahagiaan anak-anak adalah prioritas utama, bahkan jika itu berarti ia harus mengesampingkan ego dan rasa sakitnya sendiri.

"Yang penting anak-anak bahagia. Saya bisa mengalah," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu keluar bukan tanpa perjuangan. Di baliknya ada malam panjang penuh pertanyaan, ada doa yang tak putus, dan ada keberanian untuk merelakan demi kebaikan yang lebih besar.

Harapan yang Tetap Menyala

Meski berat, Sarwendah tetap menyimpan harapan. Ia percaya bahwa cinta kepada anak-anak akan selalu menemukan jalannya. Ia ingin kedua putrinya tumbuh dengan pemahaman bahwa meski keluarganya tidak lagi utuh seperti dulu, kasih sayang tidak pernah berkurang sedikit pun.

Bagi Sarwendah, pertemuan dalam formasi lengkap bukan tentang merajut kembali apa yang telah retak, melainkan tentang memberikan anak-anak momen yang mereka rindukan. Sebuah momen sederhana yang bagi orang lain biasa saja, namun bagi mereka adalah hadiah paling berharga.

Di sudut kamar anak-anaknya, masih tersimpan gambar keluarga yang pernah mereka buat bersama. Dalam gambar itu, semua tersenyum. Dan bagi Sarwendah, senyum itu adalah alasan untuk terus bangkit, terus berjuang, dan terus percaya bahwa kisah keluarganya belum berakhir. Ia hanya sedang berada di bab yang berbeda, dan ia akan memastikan bab ini tetap ditulis dengan penuh cinta.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User