Di sebuah kedai kopi kecil di sudut Kota Tangerang, seorang barista muda bernama Rendra masih terjaga ketika jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Tangannya cekatan menyusun cangkir demi cangkir di atas meja kayu, sementara buku catatan berisi sketsa resep terus ia bolak-balik. Malam itu bukan sekadar rutinitas. Rendra sedang menyiapkan racikan andalannya untuk sebuah panggung besar yang sudah lama ia impikan.
Panggung itu bernama Cafe & Brasserie Expo Indonesia 2026, sebuah perhelatan yang akan mengguncang lanskap industri kopi dan kuliner tanah air. Selama tiga hari penuh, tepatnya 9 hingga 11 Oktober 2026, kawasan NICE PIK 2 di Tangerang akan disulap menjadi rumah bagi ribuan pegiat kafe, pemilik brasserie, barista, roaster, hingga pebisnis kuliner dari berbagai penjuru negeri. Mereka datang bukan hanya untuk berdagang, melainkan untuk berbagi cerita tentang perjuangan, mimpi, dan cinta pada secangkir minuman sederhana.
"Saya ini cuma anak kampung yang dulu jualan kopi keliling pakai motor," ujar Rendra dengan suara bergetar saat dihubungi beberapa waktu lalu. "Tapi saya percaya, setiap tetes yang saya tuang punya cerita. Expo ini jadi tempat saya membuktikan bahwa mimpi kecil bisa tumbuh besar."
Ketika Mesin dan Hati Berbicara
Di balik gemerlap pameran peralatan espresso mutakhir, aroma biji kopi yang baru disangrai, dan deretan booth yang menawarkan beragam inovasi, tersimpan kisah-kisah manusiawi yang jarang tersorot. Ada seorang ibu paruh baya yang membangun usaha kue kering dari dapur rumahnya, kini berani unjuk gigi di hadapan investor. Ada pula sepasang suami istri yang memulai kafe kecil di garasi, dan kini mempekerjakan puluhan karyawan.
"Kami hampir menyerah waktu pandemi datang," kenang Sari, pemilik sebuah brasserie di Bandung, dengan mata berkaca-kaca. "Tapi justru dari situ kami belajar bahwa kafe bukan sekadar tempat jualan. Ia jadi ruang bertemu, tempat orang bercerita, tempat air mata dan tawa bercampur jadi satu."
Expo tahun ini digadang-gadang menjadi yang paling meriah. Selain pameran produk, panitia menyiapkan berbagai kelas barista, kompetisi latte art, diskusi tentang keberlanjutan biji kopi lokal, hingga sesi bertemu langsung dengan para pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Bagi banyak peserta, momen seperti ini adalah kesempatan langka untuk belajar dari orang-orang yang telah berjuang lebih dahulu.
Perjalanan Panjang Sebuah Rasa
Bukan hal mudah membangun sebuah usaha kuliner di Indonesia. Rendra mengetahui betul bagaimana pahitnya gagal, bagaimana modal habis sementara pelanggan sepi. Namun ia percaya, setiap perjalanan selalu menyimpan pelajaran berharga. Kini, ia bertekad memanfaatkan ajang CBE 2026 bukan hanya untuk memamerkan menu, tetapi juga untuk menyebarkan semangat kepada generasi muda bahwa dunia kopi dan kuliner bisa menjadi jalan hidup yang membanggakan.
"Saya ingin adik-adik di daerah saya tahu, jadi barista itu bukan pekerjaan kecil," ujarnya dengan nada tegas. "Kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, kalau kita berani bermimpi dan berjuang."
Senada dengan itu, sejumlah pengamat industri menilai perhelatan tiga hari ini berpotensi menjadi titik balik bagi banyak pelaku usaha kecil. Kehadiran mereka di panggung besar seperti NICE PIK 2 bukan hanya soal jual beli, tetapi juga soal kepercayaan diri bahwa produk lokal mampu bersaing di panggung internasional.
Sebuah Harapan yang Diseduh Perlahan
Saat matahari mulai naik pada hari pembukaan nanti, ribuan orang akan melangkah masuk ke area pameran. Sebagian datang untuk mencari peluang bisnis. Sebagian lagi datang untuk belajar. Namun di antara mereka, ada yang datang dengan beban harapan di pundak, membawa mimpi seluruh keluarga di dalam tas ranselnya.
Rendra akan menjadi salah satu dari sekian banyak jiwa yang berjuang di sana. Ia mungkin tidak akan jadi bintang utama panggung. Namun baginya, berdiri di antara para pengusaha kafe tanah air sudah menjadi pencapaian yang membanggakan.
"Yang penting saya sudah berani datang," katanya lirih. "Sisanya, biar waktu yang menjawab."
Cafe & Brasserie Expo Indonesia 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cermin dari perjalanan panjang insan kuliner yang tak pernah lelah meracik rasa, merajut mimpi, dan menjadikan secangkir kopi sebagai saksi bisu dari kisah-kisah yang menyentuh hati.
Comments (0)