Di sebuah ruang latihan yang sempit di Jakarta, seorang perempuan berusia senja duduk bersila di atas tikar pandan. Tangannya yang keriput menggenggam wayang kulit Petruk dengan penuh kelembutan, seolah sedang memeluk anaknya sendiri. Endang Nilowati, dalang perempuan yang telah puluhan tahun menekuni dunia pewayangan, sedang menyiapkan sebuah lakon yang jarang dipentaskan. Bukan tentang perang Bharatayuda, bukan pula kisah para dewa. Kali ini, ia akan menggelar pesta perkawinan Petruk.
"Saya ingin menunjukkan bahwa wayang itu bukan hanya milik laki-laki," ujarnya dengan mata berbinar. "Perempuan juga bisa mendalang, dan perempuan juga bisa bercerita tentang cinta."
Persiapan menuju pementasan bertajuk Petruk Mantu ini bukan perkara mudah. Endang harus mengoordinasikan puluhan orang, mulai dari penabuh gamelan, sinden, hingga para dungik atau pembantu dalang yang mayoritas adalah perempuan. Mereka berlatih setiap malam selama berbulan-bulan, di sebuah galeri seni yang menjadi markas mereka. Di sudut ruangan, terlihat tumpukan kain batik dan topeng yang akan digunakan para penari.
Perjalanan Panjang Menuju Panggung
Bagi Endang, perjalanan ini bukan sekadar pertunjukan. Ia mengenang masa mudanya ketika harus berjuang melawan pandangan masyarakat yang menganggap dalang perempuan sebagai hal tabu. "Dulu saya sering ditertawakan. Kata mereka, perempuan tidak bisa membawa lakon berat," kisahnya. "Tapi saya tidak mau menyerah. Saya terus belajar, terus berlatih, sampai akhirnya orang-orang mulai menghargai."
Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya ketika ia bercerita tentang ibunya, seorang sinden yang menjadi inspirasi pertamanya. "Ibu selalu bilang, kalau kamu punya mimpi, jangan pernah biarkan orang lain mematahkannya." Kenangan itu selalu menjadi bahan bakar semangatnya, bahkan ketika ia harus mengorbankan banyak hal untuk tetap menekuni seni tradisional ini.
Dalam lakon Petruk Mantu, Endang ingin menyampaikan pesan tentang kesederhanaan cinta. Petruk, tokoh punakawan yang dikenal jenaka dan bijaksana, digambarkan sebagai sosok yang harus melewati berbagai rintangan untuk menikahi kekasihnya. "Cinta Petruk itu tulus. Ia tidak peduli status sosial, tidak peduli harta. Ia hanya ingin membahagiakan orang yang dicintainya," jelas Endang.
Kolaborasi Generasi Muda dan Tua
Yang membuat pementasan ini istimewa adalah keterlibatan generasi muda. Beberapa penari dan penabuh gamelan masih berusia belasan tahun, beberapa di antaranya bahkan baru pertama kali menyentuh alat musik tradisional. Endang dengan sabar membimbing mereka, mengajarkan teknik dasar dan filosofi di balik setiap gerakan.
"Saya melihat semangat mereka. Itu yang membuat saya yakin wayang akan terus hidup," tuturnya dengan senyum hangat. Salah satu penari muda, Rani, mengaku awalnya ragu bisa mengikuti latihan yang cukup berat. "Tetapi Mbah Endang selalu memberi semangat. Katanya, kalau kita mencintai apa yang kita lakukan, tidak ada yang tidak mungkin," ujarnya.
Para dungik, yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga, juga merasakan hal serupa. Mereka mengaku senang bisa ikut serta dalam pertunjukan yang jarang melibatkan perempuan. "Biasanya kami hanya menonton. Sekarang kami bisa ikut mempersiapkan, ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian dari cerita," kata Sri, salah satu dungik.
Momen Mengharukan di Balik Layar
Menjelang hari pementasan, suasana di ruang latihan berubah menjadi lebih khidmat. Endang memimpin doa bersama, memohon kelancaran dan keselamatan untuk semua yang terlibat. Ada momen ketika ia memeluk satu per satu anggotanya, mengucapkan terima kasih atas dedikasi mereka. "Kalian semua adalah keluarga saya. Tanpa kalian, saya tidak akan bisa berdiri di panggung itu," ucapnya sambil menahan haru.
"Wayang bukan hanya tentang cerita. Wayang adalah tentang kita, tentang bagaimana kita saling menghargai dan mencintai."
Bagi Endang, pementasan ini bukanlah puncak perjalanan, melainkan awal dari babak baru. Ia berharap semakin banyak perempuan yang berani menekuni dunia pedalangan, dan semakin banyak generasi muda yang mencintai warisan budaya bangsa. "Saya ingin meninggalkan sesuatu yang berarti. Bukan hanya nama, tetapi semangat untuk terus berjuang," pungkasnya.
Malam pementasan Petruk Mantu akan menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan tua yang tidak pernah lelah bermimpi. Di atas panggung, wayang-wayang kulit itu akan menari, menghidupkan kisah cinta yang sederhana namun menyentuh hati. Dan di balik layar, Endang Nilowati akan tersenyum, mengetahui bahwa ia telah membuktikan satu hal: bahwa seni tidak pernah membedakan jenis kelamin, dan cinta selalu menemukan jalannya untuk bersinar.
Comments (0)