Di sebuah ruangan kecil yang dipenuhi poster film lama, seorang perempuan muda duduk termenung sambil menggenggam naskah yang sudah lusuh. Matanya berkaca-kaca saat mengenang perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini. Ia tak pernah membayangkan bahwa cerita sederhana tentang ibunya—seorang penjual plastik keliling—akan mengantarkannya ke gerbang penghargaan film paling bergengsi di dunia.
Film pendek berjudul Anak Macan, yang juga dikenal dengan judul internasional My Plastic Mother, resmi mendaftarkan diri ke ajang Academy Awards atau Oscar 2027. Kabar ini bukan sekadar berita biasa. Ini adalah momen mengharukan bagi insan perfilman Indonesia, karena kini ada dua film tanah air yang berlaga di panggung yang sama—sebuah pencapaian yang jarang terjadi.
Perjalanan dari Pinggir Jalan ke Layar Lebar
Kisah di balik Anak Macan berawal dari kenangan personal sang sutradara. Ia mengisahkan bagaimana ibunya berjuang setiap hari, mengumpulkan plastik bekas dan menjualnya ke pengepul demi menyekolahkan anak-anaknya. "Setiap kali saya melihat tumpukan plastik itu, saya melihat wajah ibu saya. Ada air mata, ada doa, ada harapan yang tak pernah putus," ujarnya dengan suara bergetar.
Film ini tidak hanya menyoroti profesi sang ibu, tetapi juga hubungan emosional antara ibu dan anak. Di balik layar, proses produksi berlangsung dengan segala keterbatasan. Kru film sering kali harus bekerja dengan peralatan seadanya, bahkan menggunakan lokasi rumah sang sutradara sendiri. Namun, semangat untuk bercerita tetap membara.
"Saya ingin anak-anak di luar sana tahu bahwa pekerjaan orang tua kita, sekecil apa pun, adalah sumber inspirasi yang tak ternilai," tutur sang sutradara saat ditemui di Jakarta.
Dua Film Indonesia di Panggung Oscar 2027
Pendaftaran Anak Macan melengkapi daftar film Indonesia yang akan bersaing di Oscar 2027. Sebelumnya, satu film panjang juga telah didaftarkan. Ini menjadi tonggak sejarah baru bagi perfilman nasional. Meski persaingan sangat ketat, para pembuat film tetap optimistis. Mereka percaya bahwa cerita humanis dan autentik memiliki daya tarik universal.
"Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal membuktikan bahwa kisah sederhana dari Indonesia bisa menyentuh hati dunia," kata salah satu produser. Ia menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak, termasuk komunitas film dan masyarakat, menjadi bahan bakar semangat tim.
Di sudut lain kota, sang ibu yang menjadi inspirasi film itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Ketika ditanya tentang film anaknya, ia hanya tersenyum tipis. "Saya tidak mengerti Oscar itu apa. Yang saya tahu, anak saya membuat film tentang saya. Itu sudah hadiah terbesar," ucapnya polos.
Harapan dan Doa di Balik Layar
Perjalanan Anak Macan menuju Oscar 2027 masih panjang. Namun, bagi tim produksi, langkah ini sudah menjadi kemenangan tersendiri. Mereka berharap film ini dapat membuka pintu bagi lebih banyak cerita Indonesia untuk dikenal di kancah internasional.
"Kami hanya ingin berjuang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?" tegas sang sutradara. Kalimat itu menjadi mantra yang menguatkan seluruh kru di tengah segala keterbatasan.
Di ruangan kecil yang penuh poster itu, sang sutradara kembali menatap naskah lusuhnya. Ada mimpi yang ia titipkan di sana—mimpi tentang ibunya, tentang plastik, dan tentang harapan yang tak pernah pudar. Kini, mimpi itu melangkah ke panggung dunia.
Comments (0)