Ratna Riantiarno, Perunggu, dan Seni yang Menyembuhkan Jiwa
Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, Ratna Riantiarno duduk dengan tenang. Tangannya yang sudah renta sesekali menyeka ujung mata. Di depannya, puluhan awak media terpaku mendengar kisah yang bel...
Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, Ratna Riantiarno duduk dengan tenang. Tangannya yang sudah renta sesekali menyeka ujung mata. Di depannya, puluhan awak media terpaku mendengar kisah yang belum pernah ia bagi sebelumnya—kisah tentang perjuangan putrinya melawan depresi. Konferensi pers Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, Kamis pagi itu, berubah menjadi ruang pengakuan yang begitu intim.
“Sebagai seorang ibu, melihat anak sendiri berjuang melawan rasa kosong yang tak kasat mata adalah luka yang paling dalam,” ucap Ratna, suaranya bergetar namun penuh keteguhan. Ia menceritakan bagaimana sang putri, seorang penari berbakat, perlahan kehilangan semangat hidupnya. Dunia seni yang selama ini menjadi rumah justru terasa asing ketika jiwa sedang rapuh.
Perjalanan Pribadi yang Menggetarkan
Ratna Riantiarno bukan nama asing di jagat seni peran Indonesia. Bersama suaminya, Nano Riantiarno, ia ikut membesarkan Teater Koma, salah satu kelompok teater paling berpengaruh di tanah air. Di atas panggung, ia biasa memerankan tokoh-tokoh penuh warna. Namun di kehidupan nyata, Ratna mengisahkan perannya yang paling berat: menjadi pendamping bagi anggota keluarga dengan gangguan kesehatan mental.
Ia mengaku, stigma yang melekat pada isu kejiwaan sempat membuat keluarganya terisolasi. “Kami malu untuk bercerita. Padahal, diam adalah musuh terbesar pemulihan,” ungkapnya. Setelah bertahun-tahun, Ratna memutuskan untuk angkat bicara, berharap pengalamannya dapat membuka pintu bagi keluarga lain yang masih bersembunyi di balik senyum. Pada konferensi pers itu, ia hadir bukan hanya sebagai figur publik, melainkan sebagai seorang ibu yang ingin merangkul siapapun yang sedang tenggelam dalam gelap.
Ketika Musik Menjadi Pelukan
Nuansa haru di ruang konferensi berubah hangat saat alunan lagu dari Band Perunggu mengalun. Grup musik indie yang tengah naik daun ini memang diundang dalam rangkaian acara KLBB 2026 untuk mendukung program “Seni untuk Jiwa” yang digagas oleh RSJ dan didukung Bakti Budaya Djarum Foundation. Tiga personel Perunggu—Maul, Adam, dan Ildo—tampil bukan sekadar menghibur, tetapi juga membagikan kisah di balik lagu mereka yang menyentuh relung jiwa.
Maul, sang vokalis, menceritakan momen mengharukan saat seorang penggemar datang setelah konser dan berkata bahwa lagu “33x” telah menyelamatkan nyawanya. “Ia bilang, tiap kali ingin menyerah, ia mendengarkan lagu kami. Itu membuat saya sadar, musik bukan sekadar bunyi, ia adalah tangan yang memeluk tanpa syarat,” ujar Maul dengan mata berkaca. Di atas panggung kecil itu, personel Perunggu membuktikan bahwa lirik sederhana bisa menjadi jangkar bagi mereka yang nyaris hanyut.
“Seni bukan hanya tentang panggung dan tepuk tangan. Seni adalah tentang merangkul mereka yang terluka dalam sunyi.” — Ratna Riantiarno
Kolaborasi untuk Harapan
Program “Seni untuk Jiwa” sendiri merupakan inisiatif yang menggabungkan terapi seni dengan perawatan klinis. Pasien rumah sakit jiwa diajak melukis, menulis puisi, bermain musik, dan berteater sebagai bagian dari proses penyembuhan. Hasilnya, seperti yang dipaparkan oleh dokter yang hadir, cukup menggembirakan: pasien yang sebelumnya enggan bicara mulai berani mengungkapkan perasaan lewat goresan kuas, sementara mereka yang sering dihantui kecemasan menemukan ketenangan dalam irama gendang.
Ratna dan Perunggu menjadi simbol kolaborasi lintas generasi dan lintas medium seni untuk satu tujuan: melawan stigma dan menumbuhkan empati. “Saya ingin semua orang tahu, pergi ke psikiater itu sama normalnya dengan pergi ke dokter gigi. Tidak perlu ditutupi,” seru Ratna di hadapan wartawan, disambut tepuk tangan meriah. Sementara itu, Band Perunggu berjanji untuk terus menciptakan lagu-lagu yang jujur tentang pergumulan batin, agar tidak ada lagi yang merasa sendirian dalam pertempuran melawan pikirannya sendiri.
Melawan Stigma, Satu Karya Satu Waktu
Kisah Ratna dan Perunggu hanyalah potongan kecil dari perjalanan panjang mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesehatan mental. Dalam budaya yang masih sering menyebut orang dengan gangguan jiwa sebagai “orang gila”, setiap cerita personal seperti yang dibagikan Ratna menjadi pukulan bagi tembok prasangka. Tiap lagu jujur seperti yang dibawakan Perunggu adalah benih yang ditabur untuk masa depan yang lebih hangat dan inklusif.
Di akhir acara, Ratna mengajak seluruh hadirin untuk bangkit dan saling berpegangan tangan. “Ini adalah perjuangan kita bersama. Mari rawat jiwa kita seperti kita merawat tubuh,” tutupnya. Di sudut ruangan, seorang pasien yang diundang diam-diam mengusap air matanya. Mungkin, untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat seutuhnya.
[TAGS]: kesehatan mental, seni, Ratna Riantiarno, Band Perunggu, terapi seni, stigma, inspirasi, musik, teater, Bakti Budaya Djarum Foundation [SOCIAL_TWEET]: Ratna Riantiarno dan @perunggu membuktikan bahwa seni bisa menjadi pelukan bagi jiwa-jiwa yang terluka. Kisah haru tentang melawan stigma kesehatan mental lewat panggung dan lagu. #SeniUntukJiwa #KesehatanMental [SOCIAL_FB]: Dalam diam, banyak dari kita menyembunyikan luka. Ratna Riantiarno dan Band Perunggu hadir untuk mengubah narasi itu. Dari panggung teater hingga denting gitar, mereka membawa pesan sederhana namun dahsyat: kamu tidak sendirian. Sebuah laporan mendalam tentang kolaborasi seni dan kesehatan mental yang menghangatkan hati. [SOCIAL_TG]: “Seni adalah tangan yang memeluk tanpa syarat.” Ratna Riantiarno dan Band Perunggu membuka hati tentang perjuangan melawan depresi dan stigma gangguan jiwa lewat program 'Seni untuk Jiwa'. Kisah lengkapnya menyentuh dan penuh harapan. [SOCIAL_THREADS]: Pernah merasa sendiri dalam keramaian? Ratna Riantiarno, seorang ibu dan seniman teater, baru saja membagikan cerita paling personalnya: mendampingi anak dengan depresi. Di sisi lain, band Perunggu menciptakan lagu yang jadi pegangan bagi mereka yang nyaris menyerah. Dua kisah, satu benang merah: seni adalah jalan pulang bagi jiwa yang lelah. Mari kita belajar merangkul, bukan menghakimi.
Comments (0)