Rani Himiawati Ajak Masyarakat Terapkan Etika ke Penyandang Disabilitas
JAKARTA, Beritaseputar.com — Perwakilan komunitas Indonesia Rare Disorder (IRD), Rani Himiawati Arriyani, mengingatkan pentingnya penerapan etika saat masy
JAKARTA, Beritaseputar.com — Perwakilan komunitas Indonesia Rare Disorder (IRD), Rani Himiawati Arriyani, mengingatkan pentingnya penerapan etika saat masyarakat berinteraksi dengan penyandang disabilitas di ruang publik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Jumat (11/6/2026), sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran inklusi sosial bagi kelompok yang seringkali menghadapi diskriminasi dan kesalahpahaman di tempat umum.
Kampanye Kesadaran di Ruang Publik
Kehadiran Rani Himiawati Arriyani pada kesempatan tersebut bukan sekadar representasi komunitas pasien penyakit langka, tetapi juga menjadi momentum penting untuk membuka dialog publik mengenai perlakuan yang setara terhadap penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa interaksi di tempat umum kerap menjadi cerminan kedewasaan sosial sebuah masyarakat. Sayangnya, stigma dan kegaptekan masih sering muncul ketika masyarakat umum berhadapan langsung dengan individu yang memiliki keterbatasan fisik, sensorik, atau kondisi medis langka yang tidak terlihat secara kasat mata.
Menurut Rani, banyak penyandang disabilitas—terutama yang hidup dengan rare disorder atau penyakit langka—mengalami apa yang disebut sebagai invisible illness. Kondisi ini membuat mereka terlihat "sehat" secara luar, padahal membutuhkan perhatian khusus atau menghadapi keterbatasan tertentu. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk tidak menghakimi berdasarkan penampilan menjadi sangat krusial.
"Kami ingin masyarakat memahami bahwa setiap individu, regardless of their condition, berhak mendapatkan perlakuan yang bermartabat. Etika di tempat umum adalah langkah paling dasar menuju inklusi yang nyata," ujar Rani Himiawati Arriyani.
Poin-Poin Etika yang Disampaikan
Dalam paparannya, Rani membedah beberapa aspek etika yang sebaiknya diterapkan ketika bertemu atau berinteraksi dengan penyandang disabilitas di ruang publik. Panduan ini disusun berdasarkan pengalaman langsung dari anggota komunitas IRD yang kerap merasa tidak nyaman akibat perlakukan orang-orang di sekitarnya.
- Tanyakan sebelum membantu. Rani menekankan bahwa niat baik harus disertai dengan persetujuan. Banyak penyandang disabilitas merasa terusik ketika orang asing langsung membantu tanpa bertanya terlebih dahulu. "Tanyakan dengan sopan apakah mereka membutuhkan bantuan. Jika mereka menolak, hormati keputusan itu," jelasnya.
- Hindari menatap atau berkomentar berlebihan. Tatapan tajam atau pertanyaan pribadi yang terlalu mendalam mengenai kondisi medis di ruang publik dianggap sangat tidak sopan. Rani mengingatkan bahwa privasi medis adalah hak dasar yang harus dilindungi.
- Gunakan bahasa yang menghargai. Hindari istilah-istilah yang merendahkan atau mengkotak-kotakkan. Sebutkan penyandang disabilitas dengan bahasa yang mengedepankan persona terlebih dahulu, bukan kondisinya.
- Perhatikan aksesibilitas dan ruang gerak. Di tempat umum seperti transportasi atau trotoar, masyarakat diminta untuk peka terhadap kebutuhan aksesibilitas. Contohnya, tidak memarkir kendaraan di jalur kursi roda atau memberikan prioritas di ruang publik bagi yang membutuhkannya.
Tantangan Penyakit Langka dan Invisible Illness
Rani juga menyoroti kondisi unik yang dihadapi oleh penyintas penyakit langka di Indonesia. Data dari komunitasnya menunjukkan bahwa ribuan individu di Tanah Air hidup dengan berbagai macam rare disorder, namun keterbatasan data dan rendahnya pemahaman masyarakat membuat mereka rentan terhadap isolasi sosial. Berbeda dengan disabilitas yang tampak secara fisik, kondisi seperti gangguan metabolik langka, penyakit autoimun, atau kelainan genetika tertentu seringkali tidak terdeteksi oleh mata orang awam.
Akibatnya, penyandang kondisi tersebut sering mendapatkan komentar tidak relevan seperti "Kamu kelihatan sehat, kok" atau "Capek sedikit jangan manja". Rani berpendapat bahwa ungkapan-ungkapan semacam itu, meski kadang tidak berniat jahat, dapat memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi penderita. Komunitas IRD terus berupaya mengedukasi masyarakat bahwa tidak semua penderitaan itu terlihat, dan empati harus diberikan tanpa syarat.
Harapan ke Depan
Dengan terus menggelar edukasi dan masuk ke dalam ruang-ruang diskusi publik, Rani berharap kesadaran kolektif masyarakat Indonesia terus meningkat. Ia menilai bahwa etika di tempat umum bukanlah sekadar aturan kaku, melainkan bentuk kepedulian manusiawi yang akan membangun lingkungan inklusif bagi semua kalangan. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil diminta untuk bersinergi menciptakan regulasi maupun kebijakan yang memastikan hak penyandang disabilitas terpenuhi di setiap lini kehidupan bermasyarakat.
Acara yang digelar di ibu kota ini menjadi pengingat bahwa inklusi bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga soal sikap dan perilaku setiap individu. Seperti yang disampaikan oleh Rani, perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil—termasuk cara kita menyapa, menatap, dan menghormati sesama di trotoar, transportasi umum, atau ruang publik lainnya.
Reporter: Tim Redaksi Beritaseputar.com | Sumber: Liputan6.com/Ade Nasihudin
Comments (0)