Perebutan Simbolik: “Kandang Gajah” di Jantung Banteng
Perseteruan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan PDI Perjuangan kembali memanas. Setelah sebelumnya kerap adu argumentasi di ruang publik, kini keduanya terlibat polemik baru yang lebih bersifat si
Perseteruan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan PDI Perjuangan kembali memanas. Setelah sebelumnya kerap adu argumentasi di ruang publik, kini keduanya terlibat polemik baru yang lebih bersifat simbolik: soal klaim “kandang” politik di Jawa Tengah. Provinsi yang selama ini begitu lekat dengan identitas “kandang banteng” milik PDIP, tiba‑tiba digugat oleh PSI yang ingin menancapkan pengaruhnya dengan jargon “kandang gajah”.
Di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep, PSI memang getol menggaungkan lambang gajah sebagai representasi partai. Narasi ini kemudian menjadi lebih tajam setelah Presiden ke‑7 RI Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan melanjutkan safari politiknya ke Jawa Tengah. Bagi kubu PSI, kunjungan tersebut adalah momentum untuk membuktikan bahwa basis pendukung mereka di wilayah lumbung suara nasional itu sudah sedemikian kuat.
“Kami siap memastikan kepada Pak Jokowi bahwa Jawa Tengah sekarang adalah kandang gajah. Ini bukan sekadar klaim, tapi hasil kerja nyata kader di lapangan,” demikian pernyataan yang dihimpun Beritaseputar.com dari lingkaran internal PSI.
Pernyataan itu jelas menjadi tamparan telak bagi PDIP. Bagaimanapun, Jawa Tengah adalah wilayah dengan perolehan suara tertinggi yang selalu disumbangkan untuk partai berlambang banteng moncong putih itu. Gelar “kandang banteng” pun bukan sekadar julukan kosong, melainkan terbukti berulang kali dalam kontestasi pemilu. Maka, ketika PSI melontarkan istilah tandingan, reaksi keras dari kubu banteng tak bisa dihindari.
Sejumlah fungsionaris PDIP menyindir manuver PSI sebagai upaya panjat status sosial politik atau “pansos”. Mereka menilai klaim “kandang gajah” terlalu prematur dan minim bukti elektoral yang kokoh.
“Silakan saja klaim, tapi Jawa Tengah sudah teruji sebagai kandang banteng. Kalau ada partai baru tiba‑tiba mengklaim, itu namanya pansos. Masyarakat sudah cerdas menilai mana yang nyata dan mana yang sekadar pencitraan,” ujar seorang politikus PDIP kepada media kami.
Meski bernada saling sindir, polemik ini justru memperlihatkan betapa strategisnya posisi Jawa Tengah dalam peta politik nasional. Selain sebagai provinsi dengan jumlah pemilih terbesar, wilayah ini juga menjadi medan pembuktian bagi ikatan emosional Jokowi. Sebagai mantan presiden yang lahir dari rahim PDIP sekaligus ayah dari Ketua Umum PSI, setiap langkah politik Jokowi di Jateng bakal dibaca sebagai sinyal dukungan.
Rencana safari politik yang akan berlanjut ke Jawa Tengah kini ditunggu dengan penuh antisipasi dari dua kubu. PSI disebut‑sebut tengah menyusun agenda besar untuk menyambut kedatangan sang proklamator keluarga itu. Sementara PDIP, meski belum menunjukkan reaksi frontal di lapangan, diyakini tidak akan membiarkan basis tradisionalnya direbut begitu saja.
Perang klaim “kandang gajah” versus “kandang banteng” ini seolah menjadi babak baru rivalitas PSI dan PDIP. Jika sebelumnya pertengkaran lebih banyak bermain di ranah media sosial, kini benturan simbolik ini merembet ke tataran yang lebih konkret: pembuktian pengaruh di wilayah nyata. Apakah Jawa Tengah akan tetap menjadi benteng terakhir banteng, atau justru berhasil dijadikan panggung deklarasi simbolis para gajah, akan menjadi ujian elektoral yang sesungguhnya.
Comments (0)