Di sudut dapur berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter itu, aroma kemangi segar bercampur oncom yang baru dibungkus daun pisang perlahan menyeruak ke seluruh ruangan. Ibu Rohmah, perempuan berusia 58 tahun, mengisahkan bahwa dirinya tak pernah bosan menyiapkan hidangan sederhana ini setiap kali anak-anaknya pulang ke rumah. Tangannya cekatan memotong kemangi, menumbuk cabai, dan membalut oncom dengan bumbu yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Bagi saya, pepes oncom bukan sekadar lauk," ujarnya sambil tersenyum tipis. "Ini cara saya bilang ke anak-anak bahwa rumah selalu menunggu mereka."
Perjalanan Rasa dari Dapur Sederhana
Pepes oncom kemangi pedas memang bukan hidangan mewah. Bahan-bahannya pun mudah ditemukan di pasar tradisional: oncom segar, daun kemangi, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kencur, dan daun pisang sebagai pembungkus. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan perjalanan panjang yang menyentuh. Banyak keluarga di Jawa Barat mengenal oncom sebagai warisan fermentasi yang lahir dari kearifan lokal, hasil dari ketekunan para pembuatnya yang menjaga ragi turun-temurun.
Momen mengharukan justru muncul saat proses membungkus. Daun pisang yang sebelumnya dibakar sebentar di atas api agar lentur itu kemudian dilipat rapi, ditusuk lidi di kedua ujungnya. "Kalau saya membungkus, saya selalu ingat almarhum ibu saya. Dulu beliaulah yang mengajari cara melipat daunnya supaya tidak bocor saat dikukus," kenang Rohmah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Setiap lipatan daun pisang itu seperti doa. Kami percaya, makanan yang dibuat dengan hati akan terasa berbeda di lidah orang yang memakannya."
Di Balik Layar Proses Mengukus yang Penuh Sabar
Setelah semua bahan tercampur rata, pepes oncom kemangi pedas dikukus selama kurang lebih 30 menit. Uap panas yang naik perlahan itu, menurut Rohmah, adalah momen paling menegangkan sekaligus membahagiakan. Ia mengaku selalu berdiri di dekat dapur, menunggu aroma kemangi yang mulai keluar dari celah kukusan. "Kalau aromanya sudah harum, itu tanda semuanya berhasil," tuturnya.
Bagi generasi muda, hidangan ini kerap dianggap kuno. Namun beberapa tahun terakhir, pepes oncom mulai kembali dilirik. Kedai-kedai makan rumahan yang mengangkat masakan tradisional justru menjadikannya menu andalan. Seorang pedagang muda di Bandung, Dimas, mengaku belajar memasak pepes oncom dari neneknya. "Awalnya saya cuma ingin menghidupkan lagi masakan keluarga. Ternyata banyak yang suka, sampai ada pelanggan yang bilang ini rasanya seperti masakan ibunya dulu," kisahnya.
Mimpi Kecil yang Terus Berjuang dari Oncom
Kisah Rohmah dan Dimas mungkin sederhana. Tapi di balik sepiring pepes oncom kemangi pedas, tersimpan mimpi tentang keluarga, kenangan, dan cinta yang tak pernah habis. Rohmah berharap suatu hari cucu-cucunya bisa memasak hidangan ini sendiri. "Saya ingin mereka tahu, dari bahan sederhana pun kita bisa membuat sesuatu yang berarti," ucapnya penuh harap.
Hidangan ini pun mengajarkan sebuah inspirasi: bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari yang mahal. Kadang, ia hadir dalam wujud daun pisang yang dibakar, oncom yang ditumbuk, dan kemangi yang dipetik di halaman belakang. Di tengah kehidupan yang makin cepat, pepes oncom mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, duduk di meja makan, dan menikmati kehangatan yang sudah ada sejak lama.
Bagi Rohmah, air mata bahagia selalu punya tempat dalam setiap proses memasaknya. "Saya bukan koki. Saya hanya ibu yang ingin anaknya pulang ke rumah dengan senyum," pungkasnya. Dan itulah kekuatan sesungguhnya dari sebuah hidangan sederhana yang lahir dari dapur penuh cerita.
Comments (0)