Oct 13, 2026
entertainment

Seni Padu Padan: Ilusi Tubuh Tinggi di Balik Pilihan Busana

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di Yogyakarta, Nadia Puspita berdiri di depan cermin retak yang ia lapisi sendiri dengan stiker bunga. Pagi itu, ia mencoba tiga potong kaus berbeda selama hamp...

Seni Padu Padan: Ilusi Tubuh Tinggi di Balik Pilihan Busana

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di Yogyakarta, Nadia Puspita berdiri di depan cermin retak yang ia lapisi sendiri dengan stiker bunga. Pagi itu, ia mencoba tiga potong kaus berbeda selama hampir setengah jam. Bukan karena tak ada yang pas, melainkan karena ia sedang berjuang dengan sesuatu yang jarang ia ceritakan kepada siapa pun: perasaan bahwa tubuhnya tak pernah cukup menjulang di depan orang lain.

“Aku pernah sampai menolak ikut acara kampus cuma karena merasa bakal kelihatan pendek di foto bareng teman-teman,” kisah perempuan 22 tahun itu, suaranya pelan namun mantap. Ia bukan satu-satunya. Di antara hiruk-pikuk tren mode yang terus berganti, ada satu obsesi kecil yang menghinggapi banyak orang: keinginan tampil lebih tinggi, atau setidaknya merasa lebih tegap dan percaya diri.

Ketika Potongan Pakaian Berbicara Lebih Lantang dari Angka

Perjalanan Nadia berubah ketika ia mulai memerhatikan cara potongan busana bekerja pada bentuk tubuhnya. Ia belajar bahwa garis vertikal pada atasan, warna senada dari ujung kepala hingga kaki, serta atasan yang dimasukkan ke dalam celana bisa menciptakan kesan proporsi yang berbeda. Bukan sulap, melainkan permainan persepsi visual yang sederhana.

“Sederhananya, aku nggak mengubah tubuhku. Aku cuma mengubah cara orang melihatku, dan itu cukup bikin aku berani menatap cermin lebih lama,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Baginya, setiap padu padan adalah latihan kecil untuk berdamai dengan diri sendiri.

Pakar gaya sekaligus penata busana, Renata Maharani, menjelaskan bahwa ilusi tubuh lebih tinggi bukanlah trik menipu, melainkan cara memahami proporsi. “Yang perlu dipahami adalah titik pinggang alami tubuh. Kalau kamu berhasil menegaskan titik itu, mata akan membaca proporsi yang lebih seimbang,” katanya saat ditemui di studio kecilnya di Jakarta Selatan.

Cerita di Balik Layar Lemari yang Berantakan

Di balik setiap penampilan yang terlihat effortless, kerap tersimpan cerita yang tidak terlihat. Rani, seorang penjahit langganan Nadia, mengisahkan bagaimana pelanggan-pelanggannya sering datang dengan mata berkaca-kaca karena pakaian yang selama ini mereka kenakan terasa “salah”.

“Ada ibu-ibu yang bilang, ‘Mbak, saya sudah punya banyak baju, tapi kok tetap kelihatan pendek dan gendut ya?’ Padahal cuma perlu mengubah panjang atasan beberapa senti,” tuturnya. “Waktu bajunya pas, dia lihat cermin lama sekali. Matanya sampai merah. Katanya, baru kali ini dia merasa dirinya ‘proporsional’.”

Momen-momen seperti itulah yang membuat persoalan panjang pendek bukan lagi soal tinggi badan semata. Ia menyentuh bagian lebih dalam: penerimaan, harga diri, dan keberanian untuk mengambil ruang.

Merayakan Tubuh dengan Cara yang Menyenangkan

Bagi Nadia, perjalanan ini juga mengajarkannya bahwa mode tak harus mahal atau rumit. Ia mulai mendaur ulang kaus bekas, memadukannya dengan celana berpotongan tinggi, lalu menambahkan ikat pinggang tipis untuk memberi aksen. Setiap kombinasi ia catat di buku kecil, lengkap dengan catatan perasaannya hari itu.

“Dulu aku berpikir tinggi badan menentukan segalanya. Sekarang aku tahu, cara aku membawa diri jauh lebih menentukan,” ucapnya.

Ia pun kerap berbagi tips kepada teman-temannya: pilih atasan yang tidak terlalu panjang, kenakan warna serupa dari atas ke bawah, dan jangan takut bereksperimen dengan sepatu berujung runcing. Tapi ada satu pesan yang selalu ia tekankan di akhir: “Ini bukan soal menutupi kekurangan. Ini soal merayakan apa yang ada dengan cara yang bikin kita bahagia.”

Di cermin retak itu, Nadia kini tak lagi menghitung tinggi badannya. Ia menghitung kemungkinan. Dan setiap pagi, di kamar 3x4 meter itu, ia kembali berjuang—bukan untuk tampak sempurna, melainkan untuk merasa cukup, satu padu padan sederhana setiap harinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User