Pemuda RI Keliling Dunia Bermodal Rp 50 Ribu, Berakhir Menggelandang
Jakarta, Beritaseputar.com — Sebuah mimpi besar tak selalu berakhir dengan kisah heroik. Dua pemuda asal Indonesia, Saleh dan Darmadjati, harus menelan pil
Jakarta, Beritaseputar.com — Sebuah mimpi besar tak selalu berakhir dengan kisah heroik. Dua pemuda asal Indonesia, Saleh dan Darmadjati, harus menelan pil pahit saat ambisi mereka mengelilingi dunia dengan sepeda dan modal hanya Rp 50 ribu berubah menjadi petualangan yang membawa mereka ke jurang kemiskinan di negeri orang.
Kisah ini bermula dari idealisme masa muda yang membara. Saleh (27) dan Darmadjati (25), dua sahabat asal Yogyakarta, merasa gelisah dengan rutinitas yang membelenggu. Dengan bekal keyakinan pada kebaikan manusia dan semangat minimalisme ekstrem, keduanya memutuskan untuk memulai perjalanan mustahil: menjelajahi dunia dari Indonesia hingga Eropa hanya dengan mengandalkan sepeda tua dan uang saku Rp 50.000 di saku masing-masing.
"Kami ingin membuktikan bahwa uang bukan segalanya. Dunia ini penuh orang baik yang akan membantu,"ujar Saleh dalam sebuah unggahan media sosial sebelum keberangkatan mereka yang sempat viral di komunitas pesepeda.
Perjalanan yang Mulai Retak
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Merak menuju Singapura pada awal 2024. Strategi mereka sederhana: mengandalkan hospitality exchange atau menginap di rumah warga lokal secara gratis, memanfaatkan warung makan murah, dan menerima donasi spontan dari orang-orang yang mereka temui di jalan. Pada minggu-minggu pertama, semuanya berjalan sesuai rencana. Mereka berhasil melintasi Malaysia dan tiba di Singapura dengan sambutan hangat dari komunitas pesepeda setempat.
Namun, masalah mulai muncul saat memasuki Thailand. Medan yang lebih berat, cuaca ekstrem, dan kendala bahasa membuat ritme perjalanan melambat drastis. Uang Rp 50 ribu yang mereka bawa habis hanya dalam tiga hari pertama. Donasi yang mereka harapkan tidak selalu datang tepat waktu. Mereka mulai melewatkan makan, tidur di halte bus, dan menggantungkan hidup dari sisa makanan yang diberikan penduduk setempat.
Di Kamboja, situasi memburuk. Keduanya terserang demam dan diare akibat mengonsumsi air yang tidak higienis. Tanpa akses layanan kesehatan memadai dan tanpa uang untuk membeli obat, mereka terpaksa beristirahat di pinggir jalan selama hampir seminggu. Tubuh mereka melemah, sepeda mulai rusak, dan mental mereka diuji habis-habisan.
Jatuh ke Titik Terendah
Puncaknya terjadi saat tiba di Vietnam. Kehabisan uang total, tidak ada tempat menginap, dan jaringan sosial yang mereka bangun tidak cukup kuat, Saleh dan Darmadjati benar-benar menjadi gelandangan di Kota Ho Chi Minh. Mereka tidur di emperan toko, mengais makanan dari tong sampah restoran, dan sesekali mengemis untuk sekadar bertahan hidup.
"Ada malam di mana kami hanya berpelukan karena kedinginan, menangis, dan bertanya-tanya apa yang salah dari rencana kami. Saya merasa gagal total,"kenang Darmadjati dalam sebuah wawancara telepon dengan tim Beritaseputar.com.
Kondisi mereka akhirnya diketahui oleh seorang pekerja migran Indonesia yang tak sengaja berpapasan di jalan. Sang pekerja lalu melaporkan situasi kepada komunitas diaspora Indonesia di Vietnam yang segera bergerak memberikan pertolongan. Saleh dan Darmadjati ditampung sementara, diberi makan, dan dirawat hingga kondisi mereka pulih.
Belajar dari Kegagalan
Setelah tiga bulan menggelandang di Vietnam, KBRI Hanoi turun tangan memfasilitasi kepulangan mereka ke Tanah Air. Keduanya tiba di Indonesia dalam kondisi kurus, trauma, namun membawa pelajaran berharga yang sulit diukur dengan materi.
Kisah ini memantik perdebatan di kalangan traveler dan komunitas petualang Tanah Air. Banyak yang mengkritik kenaifan mereka, namun tak sedikit pula yang memakluminya sebagai bagian dari semangat muda yang terlalu berapi-api.
Pengamat sosial dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Andri Kurniawan, menyebut fenomena ini sebagai "romantisasi petualangan ekstrem yang kerap mengabaikan realitas."
"Media sosial seringkali hanya menampilkan sisi indah dari perjalanan minimalis. Yang tidak terlihat adalah risiko kelaparan, penyakit, dan eksploitasi. Para pemuda ini perlu perencanaan matang, bukan sekadar keberanian,"ujarnya.
Saat ini, Saleh dan Darmadjati tengah menjalani pemulihan psikologis di Yogyakarta. Mereka mengaku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, namun tidak sepenuhnya menyesali petualangan itu. "Kami jatuh, tapi setidaknya kami berani melangkah. Sekarang kami tahu batasnya," tutup Saleh dengan suara bergetar.
[SOCIAL_TWEET]: Mimpi keliling dunia berakhir jadi gelandangan. Dua pemuda RI, Saleh & Darmadjati, berangkat dengan modal Rp 50 ribu dan sepeda. Tiga bulan kemudian ditemukan mengais makanan di Vietnam. Kisah nyata yang bikin kita mikir ulang soal "traveling minimalis." #PetualanganEkstrem #TravelerIndonesia[SOCIAL_TG]: 🚲💔 Dua pemuda RI cuma bawa Rp 50 ribu buat keliling dunia pakai sepeda. Hasilnya? Tiga bulan jadi gelandangan di Vietnam, tidur di emperan, makan sisa restoran. Untung ada diaspora Indonesia yang nemuin. Sekarang udah dipulangin KBRI. Gila sih nekatnya.
Comments (0)